(IV)
Begitoelah saja si “landlooper” dengen keloearga pindah ke Semarang. Bermoela mondok pada Ting Tjiat di Karenweg, kamoedian pindah di roemahnja sendiri di Progoplein 4. Pakai tilpon dan mobil segala. Katanja Kian Gwan jang tetep ken begitoe. Saja soedah dapet firasat tida enak dan koeatir, “bentoeknja jang sekarang” seperti jang diterangkan oleh Hing Tjiat roepanja boekan “tjoertjoeran beton”, hingga bentoek dari Mata-hari bisa modot, bisa mengkeret, tetapi sekarang apa maoe dikata? Hendaklah “bouw tjay djien sing soe tjay Thian”, kita berdaja, poetoesan berada dalem tangan Toehan, mendjadi sendi hidoep saja.
Pekerdjaan di “Mata-hari” senang djoega. Kantornja tida djaoeh dari roemah saja dan djoega pada kantor soerat kabar “De Locomotief” dimana koran kamipoen ditjitak. Tentoe besar seperti “De Locomotief” dengen oekoeran besar. Hing Tjiat dan saja poenja medja toelis berada dalem satoe kamar, terpisah dari redaksi dan staf jang lain. Kadang2 Hing Tjiat dalem perdjalanannja berikan saja “stof” boeat hal2 jang istimewa dan saja jang “bewerkan” itoe. Karena toh soedah bekerdja di “Mata-hari” tentoe sadja saja satoe waktoe djoega berhoeboengan sama orang2 Conccern diantaranja banjak djoega jang saja soedah kenal dari doeloenja, seperti Dr. Djie Ting Ham, Dr. Djie Ting Liat, Tan Tek Peng , Liem Hwie Giap (jang masih soedara paling moeda dari iboe saja) jang di Soerabaia mendjadi agent dari kantor Kian Gwan di Petjian Koeloen dan.... voorzitter Chung Hua Hui Soerabaia.
Pada soeatoe hari, sehabis dari “De Locomotief”, boeat preksa proefdruk dari Mata-hari saja mampir di Kian Gwan poenja kantor dan masoek kamarnja Tan Ek Kiat, asal Bandjarmasin, dan sekarang mendjadi sep dari satoe tjabang perdagangan. Selagi kita pasang omong tentang ini dan itoe, tilpon berboenji. Ek Kiat jang terima. Mendadak aer moekanja jang tadinja keliatan bergembira berobah mendjadi keliatan sangat merendah.
“Ja, Meneer Tan. Natuurlijk, meneer. Tan ik kom direc. Meneer Tan, Ja ik zal de stukken meenemen, meneer Tan”.
Kamoedian dengen hati-hati ia letakan pendengar tilpon ditempatnja. Aken boeroe2 bikin betoel dasinja dan djambret ia poenja djas serta bawa beberapa soerat. Meliat ini semoea bikin saja inget kombali pada oppas dari wedono kota Toeloeng Agoeng jang djoega terima tilpon jang ia berkali-kali sembah dengen sikep jang amat hormat sekali, sebab diseberang sana jang berbitjara ada “`Ndoro Patih”.
Saja tanja sama Ek Kiat sama siapa ia lagi bitjara? “Meneer Tan Tek Peng roept mij!” djawabnja dengen sikap jang amat goegoep.
“Ja sodemietr! Laat die Tek Peng toch ook en beetje wachten!” kata saja jang soeroeh Tek Peng djoega beladjar toenggoe.
Ek Kiat melorok sembari pake dasi dan djas dan kamoedian dengen separoh lari naek tangga boeat keroewangan atas dimana memang terdapat kantor2 dari pada dewa.....maaf, saja maksoedken directoer dari O.T.H. Concern dan Kian Gwan.
Dasar darah boedak, mengerendeng sadja. Memang roewangan itoe boeat seloeroeh pegawai ada sebage tempat keramat dan angker. Saja poen pernah dateng disana kalaoe hendak ketemoe Ting Ham atawa Tek Peng. Dan berangkat saja langsoeng dari medja toelis saja di Mata-hari dimana oemoemnja saja tinggalkan dasi dan djas. Does dalem keadaan tjoel-tjoelan saja masoek sadja diroewangan angker seperti goanja demit itoe.
Tjoel-tjoelan begitoe memang dianggap melarang tata tertib concern, tetapi tida ada satoe orang jang berani tegor saja sampe dirasa perloe boeat minta bantoean Hwie Giap oentoek menerangken pada saja apa jang mendjadi kebiasaan personil jang hendak menghadep directie. Saja ketawa dan bilang , direksi Kian Gwan boekan directie saja dan sajapoen boekan personil Kian Gwan atawa Oei Tiong Ham Concern.
Pembatja bisa toeroet saraken bagaimana itoe “bentoek” soedah moelai oglak-aglik, seperti gigi toewa, tinggal tjopotnja sadja.
Achirnja dari Djember datang djoega soerat panggilan dari landraad. Saja beritahoeken pada Hing Tjiat dan diesok paginja saja dengen kereta api berangkat ke Soerabaia dan sesampenja distasioen pasar toeri lantas teroesken perdjalanan ke Djember dengen Aoeto. Agar diesoknja djam 8 soedah bisa siap di Landraad sana.
Malamnja di Djember saja menginap diroemah pamili. Dan selama itoe datanglah kawan2 boeat tanja kabaran, diantara siapa terdapat djoega itoe orang Tionghoa jang tadinja kena ditempeleng dan dimake oleh si Brunwijk van Huten. Padanja saja kasih tahoe tida oesah takoet apa2, saja tida aken rembet ia tjoema saja pesan, bila laen kali ia ditempeleng dan dimaki si Belanda tjongkak. Kalaoe perloe saja aken dateng di Djember lagi.
Voorzitter Landraad jang preksa perkara saja ada seorang moeda oesianja, djoega tentoe sadja satoe sardjana Hoekoem, ketika saja soedah terangken bagaimana asalnja perkara dengen si Brunwijk van Huten, jang djoega dateng sebage pengadoean saksi, Voorzitter landraad tanja apa saja bisa madjoeken itoe orang sebage saksi saja karena begitoe menoeroet pertimbangannja, saja aken bisa dibebasken dari si Brunwijk van Huten poenja toedoehan. Ini Voorzitter landraad djoega tawarken boeat toenda persidangan oentoek kasi tempo pada saja boeat tjari itoe saksi.
Saja djawab tida bisa, seraja hatoerken terima kasih pada hakim itoe, jang sepandjang pemereksaan perkara saja saban2 tersenjoem. Apa lagi ketika si Brunwijk van Huten nimbroeng toeroet bitjara boeat oetaraken keloehannja jang belon pernah ia dengar terdakwa (saja) bilang heer atawa meneer waktoe seboet namanja hanja selaloe Brunwijk van Huten sadja. Saja djawab kira2 begini : Toean Voorzitter, dalam wet boek van strafrecht jang tebalnja semoea kita taoe, tidak ada barang satoe oendang2 jang mestikan saja seboet namanja soeatoe orang dengen bilang heer atawa meneer. Ini si Brunwijk van Huten kendati saja kasih gelaran baron tetapi sebage podjokan sadja sebab pandjang namanja, boeat saja tetep si Brunwijk van Huten sadja, zonder heer atawa meneer. Ia tjoema mampoe maen tempeleng dan maki jang ia tahoe tida akan berani melawan apa2. sekarang saja oendang si Brunwijk van Huten, met zonder titel baron pemberian saja, oentoek tjoba tempeleng atawa maki saja. Ia nanti liat kepala siapa jang achirnja akan bendjol dan melepoeh, kata saja sembari dengen melotot awasin itoe Belanda jang haroes di hadjar adat sedikit.
Voorzitter Landraad sampe ambil sapoe tangannja boeat poera2 oesap moeloetnja jang tida apa2. Achirnja saja dipoetoes denda 25 goelden. Sasoedahnja keloear dari roewangan persidangan saja bilang pada si Brunwijk van Huten, dalam sakoe saja masih ada poeloehan kali 25 goelden, tjoekoep oentoek hadjar ia poeloehan kali lagi. Saja oelangin tantangan saja boeat tjoba rabah kepala saja, tetapi si setrogantol pikir lebi baek siang2 dan kamoedian dengen angkat kaki sadja.
Teman2 adjak saja menoedjoe Aoeto saja balik ke Soerabaia oentoek esoknja poelang ke Semarang. Belakangan seseorang kasih tahoe, si Brunwijk van Huten sedari itoe tidak lagi djoeal laga lagi; .............. Achirnja ini matjam Belanda tahoe djoega nomernja
Seoea toelisannja Opa kwee soedah pindah ke sini http://tjamboek28.multiply.com/
Wednesday, November 16, 2005
Monday, November 14, 2005
Bahasa Bogem Mentah (III)
(III)
Begitoe lihai adanja “Poopwe” saja hingga saja djaga betoel2 soepaia djimat moedjarab ini tida sampe lolos pada saja. Sehabis sentengah permaenan stand ada kosong lawan 3 boeat kemenangan kesebelasan tetamoe. Dibabak kedoea ditjitak satoe gol lagi.
Katika team Rogodjampi sena 12 pas karena bikin pelanggaran menjerang pemaen kita dengen tjara jang menjolok tjoerangnja, dan selagi Liong Tong, salah satoe speler kita , bikin persedian boeat tendangan bola, mendadak soeasana mendjadi gempar lagi. Darah jang memang soedah gampang mendjadi panas, sekarang mendjadi lebi panas karena tenggorokan seperti tersoempat sebab telan 4 bola dengen beroetoen.
Selagi penonton disekelilingnja diam dan toenggoe dengen tida sabaran bagaimana kesoedahannja tendangan ini, mendadak kedengeran soeara njaring sekali di fihak kita.
“Tembak sadja biar poetoes tangannja!”.
Dimaksoedken, Liong Tong mesti tendang begitoe keras hingga tangannja keeper biar poetoes. TJILAKA.... apa tida? Dengen serentak penonton berdiri , bertreak maki-maki dan gojang-gojang si “BOELOE AJAM”.
Si “Kepala “ lantas saja gandeng dengen erat sekali dan minta ia tereakin orang2nja boeat bersabar. Begitoe meledak marahnja penonton sampe si kepala mesti treak tiga kali sembari atjoeng-atjoengken tangannja kesegala djoeroesan. Sesoedah keadaan mendjadi tida begitoe katjaoe, tendangan sengadja diloepoetken dan saja minta pertandingan di achirkan sadja.
Bermoela fihat toean roemah keberatan tetapi dengen soeara keras hingga semoea bisa denger, saja terangkan, pertjoema maen teroes sedang lima menit lagi soedah mesti diachirkan. Dalem tempo sebegitoe pendek moestahil mereka bisa tjitak gol. Baek permaenan dilandjoetken laen kali sadja agar kita bisa berpisah sebage saoedara jang baek satoe pada laen. Saja oendang oentoek dateng di Djember boeat kita maen lagi disana. Serta saja minta maaf boeat segala kesalahan jang moengkin dilakoeken fihak kita.
Boeroe-boeroe saja soeroeh kesebelasan kita naek oplet lebi dahoeloe dan lantas berangkat. Saja nanti akan menjoesoel dengen oplet jang penghabisan. Si “Kepala” baroe saja lepas sesoedah saja naek di oplet dengen beberapa kawan dan kendaraan moelai berangkat.
Ditengah djalan oplet kita ditimpoekin batoe dan penoempang2nja dimaki-maki. Rogodjampi bisa toenggoe sampe lama bila hendak liat saja dateng lagi dengen bawa kesebelasan.
Sesampe di gedong “Shiong Tih Hui” saja tjari jang siapa diantara kita jang dirinja treak : “tembak sadja biar poetoes tangannja!”. Ternjata jang berboeat begitoe ada Lauw Tjoe Tjiok seorang Taiwan (dia masoek golongan orang Djepang dimasa itoe) jang berkerdja sebage dinest dan tinggal tida djaoeh dari roemah saja. Ia memang “Djiatsim” penoeh semangat terhadap “Shiong Tih Hui” dari siapa ia djoega mendjadi donatoer jang setia. Kalaoe sebage anggota tida bisa sebab Tjoe Tjiok itoe berbangsa Djepang. Saja terangkan pada Tjoe Tjiok jang hampir sadja ia timboelken onar besar, mala bisa mendjadi pertoempahan darah.
Tjoe Tjiok tida tahoe perangi mereka di Rogodjampi itoe. Sebaiknja ia terima tegoran saja itoe, si Tjoe Tjiok ini malah marah pada saja jang ia katakan “boekan lelaki bangsa takoet” dan sebagenja. Saja djawab, kalaoe ia maoe tjari mati, ini ada oeroesannja sendiri dan tida ada satoe orang jang hendak menghalangi. Tetapi tida boleh seret orang2 lain toeroet djadi korban. Kamoedian saja tinggalkan ia balik poelang.
Di esok harinja, selagi saja siboek rampoengken toelisan boeat soerat-kabar Mata-hari di Semarang, atas permintaan Kwee Hing Tjiat jang mendjadi hoofdredacteur, Lauw Tjoe Tjiok masoek diroemah saja. Saja ketawa sadja padanja seperti biasa. Mendadak Djepang “sepoehan” ini seperti jang sering ia digoda oleh kawan2nja, dengen moerka treakin saja “ Bangsat..........! Badjingan.........! Loe takoet sama Hwanna! “ kamoedian sembari meloedah di djoebin ia pergi lagi.
Nah sekarang orang sematjam ini haroes dihadjar adat, pikir saja sembari teroes keloear ke roemah nja Tjoe Tjiok jang memang sajaliat djalan kesana. Sesampenja dipekarangan saja treakin Tjoe Tjiok boeat berenti. Ia balikin badannja dan ambil sikap seperti hendak beklai. Potongan badanja Lauw Tjoe Tjiok memang pasek dan gempal menoeroet istilah di Djember. Ia ada lebih pendek sedikit dari saja dan poen oesianja lebi moeda.
Ketika soedah berhadepan dengan ia zonder boewang banjak tempo lagi, saja tondjok moekanja, dan tondjokan ini boekan tjoma satoe kali hanja saja bikin seri, sampe achirnja Tjoe Tjiok djatoh, saja bongkokin badan saja soepaia ia tarik dasi saja. Dan benar djoega doegaan ini selagi saja tarik toeboehnja keatas sampe moekanja sedjedjeran dengen tindjoe saja, kombali saja timpoek lagi dan kali ini matanja jang digasak. Tjoe Tjiok lepaskan dasi saja dan achirnja ia mengakoe salah.
“Sekarang loe boelh bikin apa jang loe soeka, Goewa bersedia”, kata saja sembari poelang ke roemah.
Satoe minggoe lamanja Tjoe Tjiok tida keliatan montjoel tetapi anak2 bilang , kedoea matanja tertoeteop dan moekanja banjak tanda bondjol. Ketika saja lagi hadjar Tjoe Tjiok memang saja liat ada doewa agen polisi kebetoelan liwat, tetapi mereka mengenalin saja, mereka poera2 liat kelaen djoeroesan dan teroes ngelojor pergi. Kapan saja ini mereka kenal sebage sobat baik sep-nja , commissaris Helms. Djadi boeat apa tjari perkara jang tida-tida. Makloem di kota ketjil seperti Djember itoe waktoe memang moedah kita bisa berlaga seperti “Kodjo-jo-jo—o-o” kata arek Soerobojo.
Tjoe Tjiok sendiri ternjata djoega tida mengadoeh pada polisi. Bener pada saja ada datang doewa orang Djepang jang boeka toko di Djember dan jang saja djoega kenal. Pada mereka saja toetoerken apa jang Tjoe Tjiok soedah berboeat di Rogodjampi. Ia orang memang soedah denger semoea tentang ini. Memang Tjoe Tjiok orangnja tida bisa “djaga moeloet” kata itoe doewa orang Djepang jang poen hatoerken maaf boeat kesalahannja si Tjoe Tjiok jang masoek golongan bangsanja.
Tapi waktoe tentara Djepang soedah doedoeki bekas Hindia Belanda, saja ngeri djoega boeat datang di Djember. Djangan2 disana soedah menoenggoe si Tjoe Tjiok dengen ........Kempetainja.
Oleh Hing Tjiat saja ditawarin boeat doedoek dalem redaksi “MATA-HARI” soerat kabar dari Oei Tiong Ham Concern jang djoega miliki Kian Gwan jang terkenal. Bermoela saja sangsi karena akarnja “Chung Hua Hui”, moesoeh politik dari PTI (Partai Tionghoa Indonesia), djoesteroe tertanam di Concern itoe. Boleh dibilang hampir semoea anggota pimpinan C.H.H. ada orangnja Kian Gwan . tetapi letika dengen kawat Hing Tjiat minta saja datang di Semarang dan terangken pada saja jang “MATA-HARI” dalem bentoeknja sekarang “heeft nists te maken met Oei Tiong Ham Concern of Kian Gwan” djadi pimpinan redaksi “mata-hari” ada merdeka sepenoeh-penoehnja dan terlepas dari tjampoer tangan O.T.H. Concern atawa Kian Gwan, saja minta tempo boeat beroending dengen istri saja sebeloemnja bisa diambil poetoesan tetap.
Sesampenja di roemah soedah ada jang menoenggoe lain sinterklaas tjadeoe. Ternjata si Brunwijk van Huten adoeken saja pada polisi karena dianja saja hinakan ia, bikin nama baeknja mendjadi tertjemar dan laen2 tangisan. Ketika saja datang dikantornja Helms, seorang mentri polisi jang masih moeda terangken pada saja, sebenarnja pengadoean ini soedah lama di madjoeken, tetapi baik wedana kota, commisaris polisi tolak boeat verbal saja. Hingga achirnja mentri jang diwajibken, katanja dengen senjoem seperti hendak minta maaf.
Saja toetoerken pokok pangkalnja permoesoehan antar si Baron dan saja ada terletak dalam halnja itoe orang Tionghoa, jang namanja saja tida maoe seboet, jang oleh Brunwijk van Huten ditempeleng dan dimaki karena berani ketok roemahnja si Belanda pada djam 2 tengah hari boeat kombaliken oewang kelebihan jang soedah dibajar oleh Brunwijk van Huten ketika kirim barangnja per expeditie......................
Sesoedah saja boeboehin tanda tangan pada proses verbaal, saja gasak lagi si baron gadoengan dalem “Pembrita”. Tetapi toenggoe poenja toenggoe pengadoean masih tetep tinggal namanja sadja. Sampe achirnja saja lapor tentang bakal pindah saja ke Semarang dan karena belon tahoe akan tinggal dimana, tolong sadja pemanggilan Landraad dialamatkan pada soerat kabar Mata-Hari Semarang.
Begitoe lihai adanja “Poopwe” saja hingga saja djaga betoel2 soepaia djimat moedjarab ini tida sampe lolos pada saja. Sehabis sentengah permaenan stand ada kosong lawan 3 boeat kemenangan kesebelasan tetamoe. Dibabak kedoea ditjitak satoe gol lagi.
Katika team Rogodjampi sena 12 pas karena bikin pelanggaran menjerang pemaen kita dengen tjara jang menjolok tjoerangnja, dan selagi Liong Tong, salah satoe speler kita , bikin persedian boeat tendangan bola, mendadak soeasana mendjadi gempar lagi. Darah jang memang soedah gampang mendjadi panas, sekarang mendjadi lebi panas karena tenggorokan seperti tersoempat sebab telan 4 bola dengen beroetoen.
Selagi penonton disekelilingnja diam dan toenggoe dengen tida sabaran bagaimana kesoedahannja tendangan ini, mendadak kedengeran soeara njaring sekali di fihak kita.
“Tembak sadja biar poetoes tangannja!”.
Dimaksoedken, Liong Tong mesti tendang begitoe keras hingga tangannja keeper biar poetoes. TJILAKA.... apa tida? Dengen serentak penonton berdiri , bertreak maki-maki dan gojang-gojang si “BOELOE AJAM”.
Si “Kepala “ lantas saja gandeng dengen erat sekali dan minta ia tereakin orang2nja boeat bersabar. Begitoe meledak marahnja penonton sampe si kepala mesti treak tiga kali sembari atjoeng-atjoengken tangannja kesegala djoeroesan. Sesoedah keadaan mendjadi tida begitoe katjaoe, tendangan sengadja diloepoetken dan saja minta pertandingan di achirkan sadja.
Bermoela fihat toean roemah keberatan tetapi dengen soeara keras hingga semoea bisa denger, saja terangkan, pertjoema maen teroes sedang lima menit lagi soedah mesti diachirkan. Dalem tempo sebegitoe pendek moestahil mereka bisa tjitak gol. Baek permaenan dilandjoetken laen kali sadja agar kita bisa berpisah sebage saoedara jang baek satoe pada laen. Saja oendang oentoek dateng di Djember boeat kita maen lagi disana. Serta saja minta maaf boeat segala kesalahan jang moengkin dilakoeken fihak kita.
Boeroe-boeroe saja soeroeh kesebelasan kita naek oplet lebi dahoeloe dan lantas berangkat. Saja nanti akan menjoesoel dengen oplet jang penghabisan. Si “Kepala” baroe saja lepas sesoedah saja naek di oplet dengen beberapa kawan dan kendaraan moelai berangkat.
Ditengah djalan oplet kita ditimpoekin batoe dan penoempang2nja dimaki-maki. Rogodjampi bisa toenggoe sampe lama bila hendak liat saja dateng lagi dengen bawa kesebelasan.
Sesampe di gedong “Shiong Tih Hui” saja tjari jang siapa diantara kita jang dirinja treak : “tembak sadja biar poetoes tangannja!”. Ternjata jang berboeat begitoe ada Lauw Tjoe Tjiok seorang Taiwan (dia masoek golongan orang Djepang dimasa itoe) jang berkerdja sebage dinest dan tinggal tida djaoeh dari roemah saja. Ia memang “Djiatsim” penoeh semangat terhadap “Shiong Tih Hui” dari siapa ia djoega mendjadi donatoer jang setia. Kalaoe sebage anggota tida bisa sebab Tjoe Tjiok itoe berbangsa Djepang. Saja terangkan pada Tjoe Tjiok jang hampir sadja ia timboelken onar besar, mala bisa mendjadi pertoempahan darah.
Tjoe Tjiok tida tahoe perangi mereka di Rogodjampi itoe. Sebaiknja ia terima tegoran saja itoe, si Tjoe Tjiok ini malah marah pada saja jang ia katakan “boekan lelaki bangsa takoet” dan sebagenja. Saja djawab, kalaoe ia maoe tjari mati, ini ada oeroesannja sendiri dan tida ada satoe orang jang hendak menghalangi. Tetapi tida boleh seret orang2 lain toeroet djadi korban. Kamoedian saja tinggalkan ia balik poelang.
Di esok harinja, selagi saja siboek rampoengken toelisan boeat soerat-kabar Mata-hari di Semarang, atas permintaan Kwee Hing Tjiat jang mendjadi hoofdredacteur, Lauw Tjoe Tjiok masoek diroemah saja. Saja ketawa sadja padanja seperti biasa. Mendadak Djepang “sepoehan” ini seperti jang sering ia digoda oleh kawan2nja, dengen moerka treakin saja “ Bangsat..........! Badjingan.........! Loe takoet sama Hwanna! “ kamoedian sembari meloedah di djoebin ia pergi lagi.
Nah sekarang orang sematjam ini haroes dihadjar adat, pikir saja sembari teroes keloear ke roemah nja Tjoe Tjiok jang memang sajaliat djalan kesana. Sesampenja dipekarangan saja treakin Tjoe Tjiok boeat berenti. Ia balikin badannja dan ambil sikap seperti hendak beklai. Potongan badanja Lauw Tjoe Tjiok memang pasek dan gempal menoeroet istilah di Djember. Ia ada lebih pendek sedikit dari saja dan poen oesianja lebi moeda.
Ketika soedah berhadepan dengan ia zonder boewang banjak tempo lagi, saja tondjok moekanja, dan tondjokan ini boekan tjoma satoe kali hanja saja bikin seri, sampe achirnja Tjoe Tjiok djatoh, saja bongkokin badan saja soepaia ia tarik dasi saja. Dan benar djoega doegaan ini selagi saja tarik toeboehnja keatas sampe moekanja sedjedjeran dengen tindjoe saja, kombali saja timpoek lagi dan kali ini matanja jang digasak. Tjoe Tjiok lepaskan dasi saja dan achirnja ia mengakoe salah.
“Sekarang loe boelh bikin apa jang loe soeka, Goewa bersedia”, kata saja sembari poelang ke roemah.
Satoe minggoe lamanja Tjoe Tjiok tida keliatan montjoel tetapi anak2 bilang , kedoea matanja tertoeteop dan moekanja banjak tanda bondjol. Ketika saja lagi hadjar Tjoe Tjiok memang saja liat ada doewa agen polisi kebetoelan liwat, tetapi mereka mengenalin saja, mereka poera2 liat kelaen djoeroesan dan teroes ngelojor pergi. Kapan saja ini mereka kenal sebage sobat baik sep-nja , commissaris Helms. Djadi boeat apa tjari perkara jang tida-tida. Makloem di kota ketjil seperti Djember itoe waktoe memang moedah kita bisa berlaga seperti “Kodjo-jo-jo—o-o” kata arek Soerobojo.
Tjoe Tjiok sendiri ternjata djoega tida mengadoeh pada polisi. Bener pada saja ada datang doewa orang Djepang jang boeka toko di Djember dan jang saja djoega kenal. Pada mereka saja toetoerken apa jang Tjoe Tjiok soedah berboeat di Rogodjampi. Ia orang memang soedah denger semoea tentang ini. Memang Tjoe Tjiok orangnja tida bisa “djaga moeloet” kata itoe doewa orang Djepang jang poen hatoerken maaf boeat kesalahannja si Tjoe Tjiok jang masoek golongan bangsanja.
Tapi waktoe tentara Djepang soedah doedoeki bekas Hindia Belanda, saja ngeri djoega boeat datang di Djember. Djangan2 disana soedah menoenggoe si Tjoe Tjiok dengen ........Kempetainja.
Oleh Hing Tjiat saja ditawarin boeat doedoek dalem redaksi “MATA-HARI” soerat kabar dari Oei Tiong Ham Concern jang djoega miliki Kian Gwan jang terkenal. Bermoela saja sangsi karena akarnja “Chung Hua Hui”, moesoeh politik dari PTI (Partai Tionghoa Indonesia), djoesteroe tertanam di Concern itoe. Boleh dibilang hampir semoea anggota pimpinan C.H.H. ada orangnja Kian Gwan . tetapi letika dengen kawat Hing Tjiat minta saja datang di Semarang dan terangken pada saja jang “MATA-HARI” dalem bentoeknja sekarang “heeft nists te maken met Oei Tiong Ham Concern of Kian Gwan” djadi pimpinan redaksi “mata-hari” ada merdeka sepenoeh-penoehnja dan terlepas dari tjampoer tangan O.T.H. Concern atawa Kian Gwan, saja minta tempo boeat beroending dengen istri saja sebeloemnja bisa diambil poetoesan tetap.
Sesampenja di roemah soedah ada jang menoenggoe lain sinterklaas tjadeoe. Ternjata si Brunwijk van Huten adoeken saja pada polisi karena dianja saja hinakan ia, bikin nama baeknja mendjadi tertjemar dan laen2 tangisan. Ketika saja datang dikantornja Helms, seorang mentri polisi jang masih moeda terangken pada saja, sebenarnja pengadoean ini soedah lama di madjoeken, tetapi baik wedana kota, commisaris polisi tolak boeat verbal saja. Hingga achirnja mentri jang diwajibken, katanja dengen senjoem seperti hendak minta maaf.
Saja toetoerken pokok pangkalnja permoesoehan antar si Baron dan saja ada terletak dalam halnja itoe orang Tionghoa, jang namanja saja tida maoe seboet, jang oleh Brunwijk van Huten ditempeleng dan dimaki karena berani ketok roemahnja si Belanda pada djam 2 tengah hari boeat kombaliken oewang kelebihan jang soedah dibajar oleh Brunwijk van Huten ketika kirim barangnja per expeditie......................
Sesoedah saja boeboehin tanda tangan pada proses verbaal, saja gasak lagi si baron gadoengan dalem “Pembrita”. Tetapi toenggoe poenja toenggoe pengadoean masih tetep tinggal namanja sadja. Sampe achirnja saja lapor tentang bakal pindah saja ke Semarang dan karena belon tahoe akan tinggal dimana, tolong sadja pemanggilan Landraad dialamatkan pada soerat kabar Mata-Hari Semarang.
Bahasa Bogem Mentah (II)
(II)
Boeat saja pribadi oentoengnja memang ada. Boleh djadi sebab pendapetan bersih dikirim ke Bliden Insituut Bandoeng, jang kenal nama saja sebage secretaris comite, merangkap penerbit "Pembrita" jang djoega diberi advertentie Pasar malem. Maka pada soeatoe hari "Pembrita" dapet advertentie dari Bandoengsche Kinine Fabriek, hal mana jang bikin si Brunwijk van Huten mendjadi lebi gondok lagi tetapi diloear ia tida berani ambil sikap gegabah terhadep saja. Waktoe boeat pertama kali pasar malem di boeka, saja sebage sekretaris oleh comite diminta oentoek berpidato. Makloem, diwaktoe itoe kalaoe mesti mendadak angkat bitjara didepan kandjeng toean resident, kandjeng boepati, kandjeng toean asisstent resident, rasanja tenggorokan dirasaken mendadak seperti kering. Tetapi boeat saja, djoernalist jang selaloe hidoep dalem soeasana merdeka itoe semoea saja anggep biasa sadja. Dan ini hal bikin si Brunwijk van Huten gondoknja djadi kembar. Poen saja oleh comite "dipesen" zonder sewa tanah disekiter pohon waringin ditengah-tengah aloen-aloen (dimana pasar malem diadakan) boeat bikin stand restoran dimana istri saja dengen pembantoe2nja sediaken Soto Madoera (istri saja kelahiran Pamengkasan) dan lain2 makanan, stand jang paling rojal penerangannja, karena oleh.................. di Djember saja dikasih gratis dengen semoea kawat dan bola lampoe Aniem jang kasih pindjam pertjoema.
Doea minggoe lamanja pasar malem diadakan dengen hasil memoeasken. Sampe dengen mendadak si Brunwijk van Huten moentjoel didepan hidoeng saja (ini nguurijk pembatja). Doedoek perkara ada begini : pada soeatoe hari ada datang di roemah saja di Gang tengah, depan Mars Hotel seorang Tionghoa jang mengadoe pada saja ia ditempeleng dan dimaki oleh si Brunwijk van Huten karena ia ketok roemahnja si Belanda pada djam 2 tengah hari oentoek beriken kombali oewang kelebihan bajar ongkos pengakoetan. Itoe orang Tionghoa ada orang jang sederhana, bekerdja sebage pegawai dikantor jang oeroes ekpedisi. Saja tanja kenapa ia tida bales tondjok, ini `nko tjoema djawab, mana ia berani lawan Belanda.
Karena anggap ia tida omong kosong pada saja tentang itoe tempelengan dan mari terbitnja "Pembrita", sekian, maka dihari saptoe (seperti djoega "De Costhoek Bode" ,ini Brunwijk van Huten saja hadjar dalem toelisan seperti jang belon pernah orang Belanda di Djember di hadjar. Dan moelai saat itoe tiap hari saptoe si Brunwijk van Huten dan saja saling maki dan tjatji, menoeroet tjara pesoerat kabaran di zaman itoe. Soedah saja tantang boeat beklai dan tjoba tempeleng saja, djangan pilih Vhinees jang soedah terang boekan tandingannjadalem semoa hal.
Si Brunwijk van Huten karena namanja pandjang saja beri nama Baron Brunwijk van Huten, dengen pendjelasan ini boekan baron toelen tetapi baron gadoengan, tida berani terima tantangan goenaken bahasa BOGEM MENTAH.
Sebaliknja ia tjoba menghasoet pembesar setempat dengen toelis dalem korannja :"in hem herkennen wij de communist van Soerabaia, de op roenkraier en onrustsoker". Ia (dimaksoed saja) kita kenalin kombali sebage komoenis dari Soerabaia pemberontak dan toekang timboelken kekatjaoean. Tetapi hasinja hasoedtan itoe ada nol besar. Boeat bakar hatinja si verlopen baron-baronan dalem "Pembrita saja toelis dalem koendjoengan saja ke roemahnja assistent resident Lens dalem minggoe ini, saja kasih tahoe pada pembesar itoe jang saja akan adaken rapat oemoem di Djember boeat desak pemerintah selekas moengkin pasang ledeng aer boeat pendoedoek di kampoeng oentoek keperloean minoem, masak dan mandi. Kapan itoe waktoe dimana-mana, boekan sadja di Djember bisa didapat aer mantjoer dari lededng boeat isi bak oentoek persedian minoem boeat koeda. Gedenk de diren, spaar de vogels! Begitoelah dioekir dibatoe tegel dari aer mantjoer begitoe. Masa, kalaoe kita diandjoerken boeat djangan loepa sajang binatang dan boeroeng, masa pemerintah masih perloe diandjoerken boeat djangan kasih pendoedoek kampoeng minoem, masak dan mandi dengen goenaken aer soemoer atawa kali jang kotor?
Rapat oemoem itoe dapet kondjoengan banjak sekali orang djoega karena dapet sokongan dari N.U, P.N.I dan laen2 pergerakan.
Tida lama sesoedah pindah di Djember, saja dipilih boeat mendjadi voorzitter dari "Shiong Tih Hui", satoe perkoempoelan pemoeda Tionghoa jang djoega poenja bahagian sepak bola. Disebelah ini saja adaken djoega behagian boeat pertemoean2 dimana anggota2 dapat ketika beladjar ber pidato soepaia diwaktoe2 perloe bisa djoega oetaraken pikirannja dihadepan orang banjak.
Bahagian sepak bola kita dapet banjak kemadjoean sampe achirnja dioendang bertanding di Rogodjampi. Oendangan diterima dan pada hari Minggoe siang kita dengen beberapa oplet berangkat ke Rogodjampi. Belakangan saja menjesal soedah adjak pemain2 kita, jang oemoemnja masih moeda oesianja, kesana. Sebab ternjata pendoedoek boelh dibilang semoea terdiri dari orang2 "Osing", toeroenan djawa Madoera. Orangnja tjoekoep baek tjoema sanget agressif, gampang naek darah dan waktoe liat pertandingan sepak bola jang lelaki semoea bawa "Boeloe ajam" jaitoe pedang pandjang jang dibagian jang tadjamnja sedikit melengkoeng. Mereka pada doedoek bersila di keliling lapangan dan saban kali pihak kita bikin serangan atawa pembelaan bagoes, saban kali mereka ber-treakan sambil atjoengken "boeloe ajamnja". Waktoe boeat pertama kali bentengnja toean-roemah kebobolan, tereakan dan antjaman boekan tjoema bermaksoed dioetjapken sadja. Jang mendjadi ketoea dari kesebelasan toean-roemah ada seorang Indonesia, kira2 beroesia 40 taon. Ia adalah seorang jang simpatik, tetapi ketara sekali di Rogodjampi ia poenja kedoedoekan seperti dimandjakan, ia roepanja tjoekoep kaja, karena ia bisa ongkosin sendiri dari orang2 moeda jang soedah boekan anak2 tanggoeng lagi seperti pemain saja. Rante emas dari arlodjinja jang digantoengin ringgitan emas dari 20 dolar US soedah memboektiken jang ia itoe ada masoek golongan hartawan di Rogodjampi.
Dengen bangga ia toetoerken pada saja jang ia poenja "anak-anak" tida boelh bekerdja lain ketjoeali teroes berlatih dan maen bola sadja. Djadi sematjam pemaen bajaran. Dan anak2 "Shiong Tih Hui" jang mesti hadepin mereka! Tetapi nasi soedah djadi boeboer, tida ada laen djalan ketjoeali hantem teroes. Saja andjoerin team saja boeat maen gesit dan djangan takoet apa2. si Kepala soedah teroes sadja saja dampingin dan kadang2 pegang lengan tangannja seperti selagi saja ketemoe satoe kawan jang amat erat sekali hoeboengannja.
Saja soedah hitoeng begini, meliat mentalitetnja penonton dengan "boeloe ajamnja" kalaoe sampe terdjadi keriboetan saja akan pindjam moeloetnja boeat tentramken keadaan hadirin penontonnja. Saja sengadja tida kasih ia berlaloe dari samping saja, sebab djika didesak oleh keadaan, saja akan ringkoes dan desak ini orang lebih dahoeloe. Rasanja kalaoe adoe berklai saja masih bisa menang. Jang ia besar sekali pengaroehnja bisa sekali diboektiken dari hal-hal ini.
Kalaoe pemain "Shiong Tih Hui" bikin pelanggaran, lantas tjatji maki datangnja seperti hoedjan; kalaoe loepoet tendangan bola, disoerakin; djika tepat tendangan pergi bola jang lagi mengantjam, didjengekin dan dimaki-maki. Keadaan penonton terlaloe mengganggoe djalannja pertandingan sepak bola, kamoedian dengen si "Kepala" jang saja minta ia tentremkenpenonton disekeliling lapangan itoe tjoema bertreak. Keadaan berobah perloe angkat tindakan agar mendjadi tentrem dan aman.
Bahasa Bogem Mentah
INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Bahasa Bogem Mentah
(I)
Keadaan pers di Indonesia sekarang, dibandingkan dengen keadaan pesoerat-kabaran pada 50 taon berselang, sekarang boleh dikata saben kali terbit dalem tjoeatja jang terang dan djernih; dahoeloe di zaman pendjadjahan, saban kali terbit tida djarang dibarengin dengen beklebatnja sinar kilat dan menggelgarnja soeara goentoer. Saja maksoedken, saban kali ada timboel soal jang mengenaken "oemoem", sering mendjadi tjakar-tjakaran diantara kalangan sendiri. dan kalaoe sampe djadi begitoe, tida djarang polemik ini berobah sifatnja jang mendjadi saling maki dan tjatji, saling odol si sakoe dan peroet hingga oeroesan roemah-tangga sekalipoen dikotong kaloear. Tetapi belon pernah sampe berhadepan dimoeka hidjaoe. Kalaoe dilapangan hidjajoe memang sering.
Oempama Berretty, pendiri "aneta" dengen ia poenja koran minggoean jang diberi nama "De Zweep" (tjamboek) maen tjamboek siapa sadja, moelai dari Kandjeng Goebernemen sampe ketingkat bawah, sobat , kenalan. Lawan djoega dari kalangan sesama djoernalist, semoea disrobi. Dan jang kena srobi tentoe sadja djoega lantas balas srobi baik dan begitoelah keadaan saling tjatji dan maki; makin kotor makin enak dibatja, djoega tentoe sadja oleh pembatjanja jang seolah-olah dapet somangat baroe. Di zaman itoe baik jang toelis maoepoen jang batja sami mawon kesoekaan-nja. Kalaoe koerang "sedap" tjara menoelisnja koh koerang enak dibatjanja seolah-olah makan roedjak koh seperti tawar sadja; boemboenja koerang petis dan tjabe.
Tetapi toch Berretty sebage djoernalist dapat soekses djoega, seperti jang bisa diliat dari berdirinja diantara Bandoeng dan Lembang jang dengen megah mendjoelang kelangit : Villa Isola! (Ikip)
Tentoe sadja tida semoea djoernalist bernasib baek seperti Berretty, jang dibalikannja ia poenja soekses dalem soal keoewangan , poen alamken nasib jang tida kalah ngerinja waktoe ketemoe adjalnja; ia mati dalem katjilakaan pesawat terbang jang djatoh terdjoengkal dalem laoetan dalem penerbangan balik dari Eropa ke Indonesia.
Karel Wijbrandts dan Zentgraaff djoega ada pentolan2 dalem ilmoe tjatji dan maki. Ook`t uitschelden is een kunst! Djoega memaki itoe meminta kepandean istimewa! Dalem kalangan pesoerat-kabaran "Tionghoa melojoe" menoeroet istilah doeloe bisa ditjatet :
Kwee Hing Tjiat;
Liem Koen Hian ;
Houw Tek Kong;
Kwee Kek Beng;
Tan Tek Ho (Sin Po Oot java editie);
Jang lain tergolong pada djoernalist djinak
Samentara dari kalangan Indonesia jang saja kenal ada :
Tjindarboemi (Soera oemoem, Soerabaia);
R.M. Gondodjoewono;
R.M. Bintarti (Pewarta Soerabaia);
Soedardjo (Mata-hari Semarang); dan djangan loepa;
J.D. Sidjaranamoeal (artinja de goelden haan seperti jang dengen berbisik ia pernah toetoerken pada saja selagi sama2 doedoek dalem redaksi Sin Tit Po Soerabaia. Sidjaranamoeal atawa lebi poeloeler dengen nama "Joenoes", ada kawan jang sanget baek sekali. Diwaktoe moeda ia pernah dipilih sebage bondsspeler, maka itoe ketika kami orang adakan "vormannen elftal" ditaon 1932, ia mendjadi bintang lapangan hidjaoe di Koblen Soerabaia, sementara kita jang lain napasnja soedah mengkas-mengkis seperti koeda toewa jang poenja sakit bengek. Ini pertandingan "vormannen elftal" diadaken antara pemoeka2 dari Partai Tionghoa Indonesia (PTI) lawan idem dari Persatoean Bangsa Indonesia (PBI). Dan maksoednja tjoema sebage daja penarik penonton sadja boeat liat pertandingan2 sepak bola jang benar2.
Kita adakan ini semoea boeat saingin S.V.B (Soerabajasche Voetbal Bond) dari golongan Belanda dengen ia poenja Jaarmarkt. Dan disoesoel oleh pemboekaan Pasar Malem Nasional jang ke 3 diadakan di Koblen djoega.
Jang koeatkan kesebelasan kita dari PTI ada djoega Baswendan dan Alamoedi dari golongan Arab. Suksesnja dari pertandingan sepak bola dan pasar malem boleh djoega, karena banjak sekali kita tarik pengoendjoeng2 biasa dari Jaarmarkt boeat datang ke Kolben. Kemabli pada keadaan persoerat-kabaran , soedah diboewang, satoe kali timboel polemik moedah sadja pena ditaroh kepelan dikeloearken boeat saling tondjok, banting dan geboek lawan kita dilapangan hidjaoe. Ditaon 1933 saja pindah ke Djember dan disan terbitken djoega soerat kabar minggoean "Pembrita" jang isinja koetiban lain2 soerat kabar poenja kabaran penting. Lebih djaoeh djoega pada pembatja disoegoehken toelisan redaksi (dalem hal ini saja sendiri jang mendjadi redaksi; administrasi dipegang oleh Tan King Djien) dengen tjerita bersamboeng "Darah Kotor". Di Djembar ada djoega terbit "De Posthoek Bode", djoega seminggoe sekali, tetapi dalem bahasa Belanda dan diterbitken serta dikemoediken oleh Brunwijk van Huten, seorang Belanda jang amat angkoeh sikapnja karena merasa ada di Djember di "tanah Birnie" pioner dari peroesahaan tanam tembako. Oemoemnja memang Belanda di bilangan sana diwaktoe itoe lebih menondjol kedoedoekannja dibandingken dengen golongan jang hidoepnja di kota2 besar.
Tadinja antara Brunwijk van Huten dan saja tida ada apa2 dalem arti, ia anggap saja sebage angin dan saja poela begitoe terhadap ia. Di Djember saja kenal baik sekali assistent resident Lens, begitoe baik hingga segala waktoe saja bisa tilpon ia, baik dikantor maoepoen di roemahnja. Sampe bikin banjak orang ................, diantaranja terhitoeng Boerdiardjo, wedana dikota Djember dan Helms, commissaris polisi kota.
"Pembrita" selaloe dapet advertentie dari Regentschapsraad dan djoesteroe ini jang moelai bikin Brunwijk van Huten iri hati, tetapi ia tida berani berboeat apa2, karena ia tahoe boekan saja jang minta2 hanja advertentie begitoe dikirim pada saja boeat minta dimoeat dan tentoe sadja dengen bajaran. Pada soeatoe waktoe Boediardjo dengen kawan lain Kho Hong Phing, letnan Tionghoa di Djember djoega dan saja setoedjoe boeat kita adaken pasar malem dan pendapetan bersih aken didermaken pada roemah sakit orang boeta di Bandoeng. Satoe badan komite dalem mana ada doedoek orang2 dari badan pemerintah , diantaranja Controleur B.B, dari pergerakan seperti N.U. dan dari masjarakat laen. Boediardjo djadi voorzitter, saja sekretaris dan Hong Phing Bendahara. Saja lebi dahoeloe bikin koendjoengan resmi keboepati Djember dan assistent resident Lens boeat minta mereka soeka masing2 diangkat sebage voorzitter kehormatan dari komite dan kamoedian teroes ke resident Besoeki jang tinggal di Bondowoso jang ditawarken kadoedoekan sebage pelindoeng (Beschermheer). Semoea permintaan diloeloesken dan pasar malem moelai kita bangoen dengen tida mengetjewaken.
Ada rejog Ponorogo, ada keradjinan dari Trenggalek, ada wajang orang, stamboel, dan laen2 tontonan. Mala ada djoega satoe stand boeat kenalkan Aoeto "Ford" type baroe (tjoema satoe bidji karena standnja djoega tida lebar) dari satoe firma jang dagang mobil di Djember. Heibat apa tida? Dan djangan diloepaken kitapoen adaken ..........adoean sampi.
Kalaoe dibangkalan karapan sampi jang terkenal dan sanget digemari, didaerah Besoeki, dengen pendoedoeknja asal ketoeroenan Djawa dan Madoera (orang "osing" seboetannja) adoean sampi jang mendjadi idam-idamannja. Kalaoe di karapan sampi di adoe boeat berlomba lari, diadoean diadoe boeat oedji tandoek siapa jang lebi koeat menjeroedoek. Boeat ini adoean sampi dipoengoet bajaran masoek lima sen tiap orang dewasa dan anak2.
Gerak-Djalan N.I.A.U. (II-TAMAT)
(II)
Tetapi saja masih bisa tindas itoe semoea dan achirnja sampe djoega stadswacht seloeroehnja jang ambil bagean masoek di Sawahan. Tida ada satoepoen jang mangkir.
Soal mati hidoep kita memang tjoema Toehan satoe jang tahoe. Baroe ketika sampe di Sawahan kita diberi warta bahwa kapten kita (ia jang tadinja koreksi tjara saja panggoel senapan waktoe "over geweer") ditengah djalan ia mendadak djatoh dan teroes meninggal doenia karena serangan djantoeng. Diesoknja kita semoea toeroet hantar djenasahnja ke koeboeran Kembang Koening sebage tanda menghormat boeat penghabisan kali.
Dihari saptoe jang kedoea kita semoea datang lagi dengen tida ada satoe jang mangkir kendati disepandjang minggoe itoe kaki penoeh dengen loeka2. Begitoe djoega jang 20, 25 dan 30 KM. Kita "makan" sambil laloe. Tjoema perstege mars masih dirasakan berat djoega. Dalem satoe djam kita haroes tempoeh djarak paling sedikit 7 KM. Dengen dipotong beristirahat hanja satoe kali 10 menit. Marineirs didepan kita benar2 djempol; tindakannja tetep lebar dan tjepat; tetapi kitapoen tak maoe kalah. Sehabis NIAU wandelmars pada kita semoea jang toeroet ambil bagian dari semoela sampe achir, diberiken medali peroenggoe boeat kenangan.
Itoe waktoe saja tinggal di djalan Boklan. Meliat soekses stadswacht, orang2 LBD (lucht beschermings Dinest , dinas pendjagaan bila ada serangan oedara) dari lingkoengan saja , termasoek Gembong sawah, Kapasan, Simolawang dan Kendjeran pada minta adaken djoega wandelnmars begitoe. Saja hendak tanja dahoeloe pada letnan stadswacht; ia tida keberatan dan perbolehkan djoega saja pimpin itoe dengen pake Uniform. Begitoelah sesoedah dalem satoe rapat saja terangken bagaimana wandelmars haroes diadakan, kita pilih satoe hari saptoe sore boeat moelai berangkat dari pos polisi dari djalan Kapasan. Anggota2 LBD tida dapat Uniform, paling banjak dikasih pindjam topi helm dari badja. Dan di saptoe sore itoe mereka pada berkoempoel didepan pos polisi dengen pake pakeannja sendiri. Malah ada djoega jang pake saroeng atawa pijama. Tetapi semoea pake sepatoe atawa sandal, tegasnja tida boleh ada jang toeroet ambil bagean dengen kaki telandjang.
Dengen pake Uniform (tentoe sadja zonder ransel dan senapan) saja hadepin barisan LBD seperti djoega saja seorang djendral preksa barisan. Saja terangkan haroes bertindak berbaren dan sama dalem barisan dari 4 orang; selagi baris tida boleh betjanda, riboet atawa bertereak (makloem, ini ada orang2 preman, belon pernah mendengar disiplin, kata saja dalem hati) dan siapa jang sekiranja tida tahan ikoet berbaris lebih lama, ia merdeka boeat keloear dan boleh poelang tetapi atas resiko sendiri. Jang datang ada banjak djoega, lebi banjak dari apa jang saja doega semoela. Dan begitoe sesoedah saja atoer mereka berdiri berempat, barisan kita ternjata koerang lebi ada 100 orang semoea Indonesia dan Tionghoa.
Karena di wijk kami memnag tida ada tinggal keloearga Belanda. Atas treakan saja...."Geef acht........! mereka berdiri lempang. Disoesoel poela oleh ....."voorwaarts... marsch....! dan selandjoetnja .....links... twee....,drie....vier......& links.. twee....,drie....vier.....kita moelai djalan. Dizaman pendjadjahan belon ada itoe toe... wa.... ga...pat, seperti dizaman repoeloesi. Kita moelai berangkat pada poekoel 5 sore dan ambil djoeroesan Kapasan, Kapasari, Ngaglik, Tambaksari; Goebeng, Soematerasraat teroes sampe kebon binatang, disana balik lewat pasar kembang, Sawahan via djalan Ardjoeno ke djalan Gresik, menoedjoe tandjoeng Perak, poetar lagi biloek Djembatan Gantoeng (Ferwerda brug), Ampel, Panggoeng, Kembang Djepoen, Tjantian, kombali Kapasan lagi.
Pembatja di Soerabaia bisa kira2 sendiri berapa djaoeh perdjalanan itoe. Dan dilakoeken dengen pas militer, zonder mengaso, tjoema sampe pasar kembang berenti sebentar. Minoem boleh berdaja sendiri karena LBD tida bisa sedia apa2. baroe sampe wijk Goebeng soedah moelai ada jang keloear barisan. Mereka tida tahan disoeroeh djalan menoeroet tempo links ..twee .. drie.. vier. Dari bermoela saja djalan paling depan seperti lajaknja satoe kepala, boekan? Sampe Pasar Kembang dan selagi berenti boeat 10 menit, saja didatengin oleh menantoe dari wijk meester Boklan jang saja tentoe sadja kenal baik.
Orangnja masih moeda, tetapi badannja gemoek sekali, teroetama peroetnja seperti orang mengandoeng lewat boelan. Dengen badan penoeh keringet dan napas sengal-sengal ia menghadep saja seraja bilang : "..kalaoe badan owe masih koeat, `nko, tetapi peroet owe jang pajah.......! kata ia sembari pegangin peroetnja jang besarnja loear biasa. Saja soeroeh ia lekas ambil betjak boeat poelang. Saja koeatir djoega meliat aer moekanja rada poetjat begitoe. Kamoedian kita landjoetken perdjalanan. Selagi berenti saja liat banjak djoega jang tenteng sadja sandal, kasoet tennis atawa sepatoenja.
Terlaloe panas, lebi dingin kaki telandjang, kata mereka atas pertanjaan saja. Saja sendiri pajah djoega hendak berlaga seolah-olah masih seger dan anggep perdjalanan jang tjoema sebegitoe seperti ah.......! tida ada artinja sama sekali ! Saja tetep djalan didepan, kapan boentoetnja masih hidoep masa kepalanja soedah dood?
Ketika sisa barisan saja lewat Panggoeng dan moelai masoek Kembang Djepoen dengan Kapasan toedjoean achir telah keliatan didepan mata, kombali sifat sombong saja moentjoel lagi.
Bagaimana ......?
Apa soedah tjapai ama maoe teroes lagi ......? tanja saja pada seorang Tionghoa jang datang dari Tiongkok baroe satoe taon berselang dan bitjaranjapoen masih pelat (pelo). Ia ini memang dari bermoela soedah djalan persies disebelah saja. Orangnja tida begitoe tinggi dan potongan badannja ketjil sadja. Saja tadinja kira ia maoe sesembatan; tida taoenja dengen soeara gembira ia djawab : ".....Titak...!.....Titak....! Teloos....., Teloos sadja!"
Boesjet...... dasar tjina `ndah poenja oedel ! maki saja dalem hati. (TAMAT)
Tuesday, November 08, 2005
Gerak-Djalan N.I.A.U. (I)

INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Gerak-Djalan N.I.A.U.
(I)
Di taon 1939 dan djoega sebelonnja di Soerabaia ada berdiri tjabang dari Nederlands Indise Atletiek Unie, persatoean keolahragaan di Hindia Belanda. Satoe waktoe NIAU terseboet adaken olah raga djalan kaki dan stadswacht Soerabaia dioendang boeat toeroet ambil bagian. Begitoelah pada soeatoe sore, sehabis latihan kapten kita tanja siapa diantara kita jang ingin toeroet ambil bagian dalem NIAU wandelmarsen. Di antara kita, teroetama golongan Belanda banjak jang angkat tangannja. Tetapi oleh anggota stadswacht jang lain adjakan itoe diterima adem sadja. Tida ada barang satoe stadswachter Tionghoa, tanja kapten, karena maloe, saja angkat tangan, kendati sebenarnja belon pernah saja toeroem ambil bagian dalam mars-marsan begitoe. Meliat saja madjoe, banjak djoega stadswachter Tionghoa jang lain maoe ikoet. Hari saptoenja djam 4 sore kita disoeroeh sedia dilapangan Jaarmarkt oentoek diangkoet kesawahan. Satoe djam kamoedian moelai berangkatlah NIAU wandelmarsen jang kesohor. Bagian stadswacht pake uniform komplit dengen ransel dan velfles, serta senapannja djoega toeroet di tjangking. Tjoema tentoe sadja senapan kosong tampa peloeroe. Didepan sekali ada barisan marinier (angkatan laoet) terdiri dari pemoeda2 Belanda jang sedang soeboer2nja; dibelakangnja ada berbaris stadswacht. Saja dapet tempat dioedjoeng kanan dari barisan 4 orang, disebelah kiri saja ada stadswachter Belanda, pegawai dari salah satoe toko impor Eropa. Ia ada salah satoe pemoeda jang djangkoeng sekali, kepala saja tjoeman sampe dipoendaknja sadja. Orangnja tjoekoep simpatik dan sebage salah satoe apa jang dinamakan "import kracht" (pegawai jang di impor) ia masih belon tahoe banjak tentang Indonesia. Barisan kita loemajan djoega banjaknja. Saja tadinja kira boeat permoelaan paling djaoeh kita akan djalan sampe 5 KM. Tida tahoe, roete kita dari sawahan via djalan Gresik ka djoeroesan Tandjoeng Perak, poetar sana laloe balik via pasar besar, kramat gantoeng, Toendjoengan, palmenlaan ke sawahan lagi. Saptoe pertama 15 KM, saptoe ke doewa 20KM, katiga 25KM dan kaempat 30KM. Kamoedian disoesoel oleh prestage mars 20KM, dalem tempo paling lama 3 djam. Bila tahoe begitoe, maloe atawa tida maloe, tida anti saja soedi ikoet. Boeat saja jang tida biasa lakoeken sport djalan mars-marsan begitoe beroepa siksaan badan, teroetama kaki. Tetapi nasi soedah mendjadi boeboer, kepaksa ditelan djoega. Di saptoe pertama gagah djoega waktoe moelai keloear dari sawahan. Dengen ikoet barisan merinier dengen ia poenja model pas, kita baris keloear djalan raja. Kepala diangkat, ban koelit boeat senapan ditjantelkan dipoendak kanan, dipegang kentjang, tangan kiri, dengen lengan sedikit bengkok diangkat naek toeroen menoeroet tindakan kita ; links twee drie vier!... links twee drie vier!.......
Waktoe sampe gedong bioscoop "Luxor" dipasar besar, saja liat istri dan anak saja berdiri dipinggir djalanan diantara banjak sekali orang2 jang pada menonton lewat barisan kami.
Mami..........., itoe PAPI.........!, treak anak saja.
Saja berpaling ke mereka dan lambaikan tangan. Bangga djoega rasanja dihati bisa oendjoeken bagaimana rapih si PAPI.... bisa berbaris, kendati kaki dirasakan soedah seperti dibakar.
Sesampenja dipertengahan djalan ke tandjoeng perak kita dikasih beristirahat 15 menit. Senapan dan rangsel boeroe2 ditaroh ditanah dan saja sendiri londjorken badan disebelahnja. Poendak kanan dirasakan sangat panas karena si ban senapan; belakang kaki seperti bagian jang soedah mati. Ini bolehnja nurutin........ si Thiam Tjing ...GILA! begitoe lah saja dengar ditereakin oleh kawan2 jang tadinja tetoeroetan angkat tangannja didepan kapten. Dan kembali sekarang saja di maki. Saja tida ambil pedoeli itoe segala makian; saja tidoer tjelentang sembari abisken satoe botol limoen jang didermakan dari salah satoe firma. Banjak djoega jang kosongin verfles oentoek diisi limoen. Kalaoe enaknja sih...... enak, tetapi waktoe berdjalan lagi, peroet dirasakan sebage kemboeng dan menggandjal keatas hingga soesah rasanja oentoek bernapas. Tetapi pengantian aer teh dengen limoen di verfples timboelken hal2 jang loetjoe djoega sebage timbalan dari kemboengnja si peroet. Karena disana disini, didepan, dibelakang saban2 kedengaran soera terpental prop verfles jang didorong keloear oleh tertoempoeknja "koolzuur" dari limoen dalem verfles jang teroes seperti di kotjok selagi kita bertindak. Senapan dirasakan seperti mendjadi lebih berat, tindakan saja rada sempojongan, sampe kawan djangkoeng disebelah kiri saja tanja: Zal ik je geweer dragen? (apa baik saja panggoel sadja senapan kamoe?) "Dank je , ik ben een Chinees! Djawab saja, seolah-olah sebage orang Tionghoa saja selaloe bisa penoehin koewadjiban saja. Barisan kita soedag moelai balik ke Sawahan. Sampe didjalan Gresik lagi kita menbiloek kekanan akan teroes kepasar besar. Mendadak ada perintah "Over geweer!"..... Senapan boekan ditjantelkan dipoendak lagi tetapi dipikoel dengen gagangnja ditahan oleh tangan kanan. Dalem posisi begini , oedjoeng senapan dan tingginja gagang haroes sama dengen senapan kawan2 kita dalem barisan itoe. Selagi baris, roepanja oedjoeng senapan saja letaknja roepanja tida sama tingginja dengen jang laen. Sebab oedjoengnja ada jang saban2 kasih naek atawa toeroen. "GODVERDOMME........! wil je dat gewriemel wel nalaten? Sodemieter!... (salinan ini sengadja tida saja berikan) agar pemoeda kita, djika barangkali ikoet batja ini kenangan, tida tetoeroetan ketjipratan kebiasaan dalem bitjara di zaman kolonial.
Saja berpaling kekanan boeat tjari tahoe siapa orang jang baroe goda saja. Badan soedah tjape hingga gampang "singit" dikepala. Pembatja bisa banjangkan berapa besar kaget saja ketika jang dikoetik-koetik senapan saja tadi boekan laen ada kapten kita sendiri. Saja diam sadja, kapten djoega tetapi dari senjoemnja saja bisa bajangken ia bisa mengarti sikap saja. begitoe lah kita teroes baris dan ketika lewat Keramat Gantoeng, baoenja segala mie goreng dan laen2 masakan dari roemah makan di oedjoengnja, bisa bikin saja hampir keloear dari barisan. Rasa tjapai, haoes dan lapar sekonjong-konjong timboel berbarengan.
Monday, November 07, 2005
"Sini" CONTRA "Sana" (II_TAMAT)
(II)
Boeat bagi perhatian poeblik kami dari blok "sini" dirikan djoega S.I.V.B. (Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond) persatoean sepak bola Indonesia. Hari dimoelainja pertandingan SIVB (jang dibikin djatoh berbarengan dengen pertandingan2 SVB) sebage atraksi kami djoega madjoeken "voormannen elfal", kesebelasan jang terdiri dari pemoeka2 ber-bagai2 perkoempoelan politiek. Sebage "besi sembrani", magnet memang kesebelasan itoe tarik banjak sekali penonton jang ingin tahoe bagaimana nandaknja pemimpin2 mereka diloear mimbar pidato dan medja-toelis. Pertandingan diadakan di Kolben. Hasilnja ketawa dan sorak tida ada habisnja. Itoe koempoelan peroet gendoet jang lari tida karoean djoentroengannja, jang dengen napas kempas-kempis masih tida mampoe oedak bola jang menggelinding perlahan didepannja, jang tiga kali tendangan mesti doewa kali loepoetnja, mala ada jang selagi tendang loepoet bolanja sebaliknja badannja jang gemoek boendar djatoh "kantep" dibokongnja. Dipihak kami jang ikoet maen ada Koen Hian, Boen Liang, Alamoedi, Baswedan dan Sijaranamoeal (Joenoes), saja sendiri dengen dibantoe oleh pemain2 laen. Jang mendjadi bintang ada Joenoes, bekas Bondpelar, sih! Tetapi sisahnja diapkir semoea. Djoega pihak lawan tida madjoeken prestasi lebi oenggoel. Radjamin, Roeslan Wongsakoesoemo, Gondo, Tjidarboemi (pemimpin redaksi Soeara Oemoem Soerabaia), Soedirman(residen Soerabaia dizaman repoeblik), Pamoedji (djoega pernah djadi resident), Mas ngabei..........namanja saja loepa, tapi waktoe itoe djadi Wethouder Gemeente Soerabaia dan lain2. Main belon tjoekoep setengah djam tetapi soedah beroepa "een complete mishandeling" menoeroet keloehan itoe doea kesebelasan jang dengen pintjang dan meredjang redjang pada oesap keringetnja jang mengalir loear biasa banjaknja. Sesoedah kami baroe penonton disoegoehi pertandingan2 jang betoel. Hasilnja tida mengetjewakan, baek dari djoemlah penonton, maoepoen dari pendapatan pendjoealan kartjis.
Bitjara tentang "Chung Hua Hui", ini ada perkoempoelan orang Tionghoa jang dimoeka mata kami kadang2 maoe djadi Belanda dari Belanda nja sendiri. Mereka terdiri dari orang2 jang beroewang dan mempoenjai kedoedoekan jang loemajan dalem perdagangan dan peroesahaan. Mereka diberi nama "Kaoem Packrad" oleh kami, dan kami sendiri dikatakan "Kaoem Betjak" oleh mereka.
Hanja mereka tergolong orang mampoe, ini boeat kami boekan soal. Ini ada masing2 poenja oeroesan sendiri. Tjoema jang kadang2 mendjemoekan ialah sikap mendjilat pada segala apa jang berbaoe Belanda dari kelas atasan. Lebih atas kedoedoekannja jang hendak di djilat, lebi pandjang lidah jang mesti dioeloerken boeat bisa sampe pada jang hendak di djilat. Lebi berseri-seri aer moekanja djika itoe aksi djilat bisa berhasil.
Saja sendiri poenja banjak pamili jang tergolong pada Chung Hua Hui. Tjoema saja sadja jang boleh anggap sebage "Tjina Gendeng", jang ridla djadi bekakasnja kaoem "kroetjoek" jalah "het schuim van bet volk". Saja ada poenja satoe teman, moelai dari MULO Malang, kamoedian ia landjoetken peladjarannja ke Nederland. Datang kombali di Indonesia sebage Meester in de Rechten (sardjana hoekoem). Ia menetap di Soerabaia dan tentoe sadja mendjadi anggota pengoeroes Chung Hua Hui. Belakangan ia masoek stand-wacht djoega. Ini kadjadian ditaon 1939 dan pada soeatoe sore, sehabis latihan di Jearmarkt, ia datang di gedoeng perkoepoelan pemoeda Tionghoa di Kalianjar Wetan. Dengen pakean "Uniform" sebage stadwachter dan maksoednja oentoek andjoerin orang2 Tionghoa masoek stadwacht djoega. Ini semoea betoel. Tetapi sasoedah berpidato, ini sobat achirken pembitjara`annja dengen mendadak bertreak "Oranje Boven!" dan "Hidoep Chung Hua Hui" dan ini jang tida betoel.
Saja djoega ikoet datang dan ketika saja tegor ia boeat pengoetara`an perasaan (gemoed suking, saja bilang, sebab sama ini sobat kebanjakan mesti digoenaken bahasa Belanda), ia dengen maloe bilang jang ia soedah kesalahan bitjara. Saja tjoema toeding djidat saja dengen djari penoendjoek dan teroes berlaloe.
Ada lagi seorang dokter Tionghoa, loeloesan Nederland, anggota pengoeroes Chung Hua Hui tentoe. Ia ini begitoe fanatik (dan djoega karena ingin djilat saja rasa) hingga ketika di Jearmarkt di taon 1939 diadaken per-arakan kereta di hias, ia toeroen dari panggoeng dimana ada berkoempoel pembesar2 dan lain2 orang ternama, dan teroes samperin satoe kereta jang dihiasin bendera2 dari berbagai-bagai negara, diantaranja djoega bendera Djepang. Itoe dokter minta kereta berhenti sebentar, teroes ia tjaboet bendera Nippon, jang ia kamoedian sobek2 dan sobekannja dilempar di tanah. Lantas dengen tindakan dan sikap A G O E N G ia naek dipanggoeng lagi. Tetapi jang tarik perhatian saja jang itoe waktoe toeroet saksiken itoe kadjadian sebage penonton biasa, jalah dipanggoeng keadaan tinggal soenji. Tida ada kedengeran tepok tangan barang satoe kali. "Dat is gekkenwerk kata toean Topvooort, hoofcommissaris polisi pada saja, ketika kita saling ketemoe dibawah tangga panggoeng terseboet. Perboeatan tarik dan sobek bendera Djepang ada akibat jang ngerih sekali.
Waktoe Soerabaia di doedoekin Nippon orang jang pertama ditangkap Kempetai jalah itoe dokter jang achirnja mati djoega sasoedah mengalami siksaan jang maha heibat. (TAMAT)
Boeat bagi perhatian poeblik kami dari blok "sini" dirikan djoega S.I.V.B. (Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond) persatoean sepak bola Indonesia. Hari dimoelainja pertandingan SIVB (jang dibikin djatoh berbarengan dengen pertandingan2 SVB) sebage atraksi kami djoega madjoeken "voormannen elfal", kesebelasan jang terdiri dari pemoeka2 ber-bagai2 perkoempoelan politiek. Sebage "besi sembrani", magnet memang kesebelasan itoe tarik banjak sekali penonton jang ingin tahoe bagaimana nandaknja pemimpin2 mereka diloear mimbar pidato dan medja-toelis. Pertandingan diadakan di Kolben. Hasilnja ketawa dan sorak tida ada habisnja. Itoe koempoelan peroet gendoet jang lari tida karoean djoentroengannja, jang dengen napas kempas-kempis masih tida mampoe oedak bola jang menggelinding perlahan didepannja, jang tiga kali tendangan mesti doewa kali loepoetnja, mala ada jang selagi tendang loepoet bolanja sebaliknja badannja jang gemoek boendar djatoh "kantep" dibokongnja. Dipihak kami jang ikoet maen ada Koen Hian, Boen Liang, Alamoedi, Baswedan dan Sijaranamoeal (Joenoes), saja sendiri dengen dibantoe oleh pemain2 laen. Jang mendjadi bintang ada Joenoes, bekas Bondpelar, sih! Tetapi sisahnja diapkir semoea. Djoega pihak lawan tida madjoeken prestasi lebi oenggoel. Radjamin, Roeslan Wongsakoesoemo, Gondo, Tjidarboemi (pemimpin redaksi Soeara Oemoem Soerabaia), Soedirman(residen Soerabaia dizaman repoeblik), Pamoedji (djoega pernah djadi resident), Mas ngabei..........namanja saja loepa, tapi waktoe itoe djadi Wethouder Gemeente Soerabaia dan lain2. Main belon tjoekoep setengah djam tetapi soedah beroepa "een complete mishandeling" menoeroet keloehan itoe doea kesebelasan jang dengen pintjang dan meredjang redjang pada oesap keringetnja jang mengalir loear biasa banjaknja. Sesoedah kami baroe penonton disoegoehi pertandingan2 jang betoel. Hasilnja tida mengetjewakan, baek dari djoemlah penonton, maoepoen dari pendapatan pendjoealan kartjis.
Bitjara tentang "Chung Hua Hui", ini ada perkoempoelan orang Tionghoa jang dimoeka mata kami kadang2 maoe djadi Belanda dari Belanda nja sendiri. Mereka terdiri dari orang2 jang beroewang dan mempoenjai kedoedoekan jang loemajan dalem perdagangan dan peroesahaan. Mereka diberi nama "Kaoem Packrad" oleh kami, dan kami sendiri dikatakan "Kaoem Betjak" oleh mereka.
Hanja mereka tergolong orang mampoe, ini boeat kami boekan soal. Ini ada masing2 poenja oeroesan sendiri. Tjoema jang kadang2 mendjemoekan ialah sikap mendjilat pada segala apa jang berbaoe Belanda dari kelas atasan. Lebih atas kedoedoekannja jang hendak di djilat, lebi pandjang lidah jang mesti dioeloerken boeat bisa sampe pada jang hendak di djilat. Lebi berseri-seri aer moekanja djika itoe aksi djilat bisa berhasil.
Saja sendiri poenja banjak pamili jang tergolong pada Chung Hua Hui. Tjoema saja sadja jang boleh anggap sebage "Tjina Gendeng", jang ridla djadi bekakasnja kaoem "kroetjoek" jalah "het schuim van bet volk". Saja ada poenja satoe teman, moelai dari MULO Malang, kamoedian ia landjoetken peladjarannja ke Nederland. Datang kombali di Indonesia sebage Meester in de Rechten (sardjana hoekoem). Ia menetap di Soerabaia dan tentoe sadja mendjadi anggota pengoeroes Chung Hua Hui. Belakangan ia masoek stand-wacht djoega. Ini kadjadian ditaon 1939 dan pada soeatoe sore, sehabis latihan di Jearmarkt, ia datang di gedoeng perkoepoelan pemoeda Tionghoa di Kalianjar Wetan. Dengen pakean "Uniform" sebage stadwachter dan maksoednja oentoek andjoerin orang2 Tionghoa masoek stadwacht djoega. Ini semoea betoel. Tetapi sasoedah berpidato, ini sobat achirken pembitjara`annja dengen mendadak bertreak "Oranje Boven!" dan "Hidoep Chung Hua Hui" dan ini jang tida betoel.
Saja djoega ikoet datang dan ketika saja tegor ia boeat pengoetara`an perasaan (gemoed suking, saja bilang, sebab sama ini sobat kebanjakan mesti digoenaken bahasa Belanda), ia dengen maloe bilang jang ia soedah kesalahan bitjara. Saja tjoema toeding djidat saja dengen djari penoendjoek dan teroes berlaloe.
Ada lagi seorang dokter Tionghoa, loeloesan Nederland, anggota pengoeroes Chung Hua Hui tentoe. Ia ini begitoe fanatik (dan djoega karena ingin djilat saja rasa) hingga ketika di Jearmarkt di taon 1939 diadaken per-arakan kereta di hias, ia toeroen dari panggoeng dimana ada berkoempoel pembesar2 dan lain2 orang ternama, dan teroes samperin satoe kereta jang dihiasin bendera2 dari berbagai-bagai negara, diantaranja djoega bendera Djepang. Itoe dokter minta kereta berhenti sebentar, teroes ia tjaboet bendera Nippon, jang ia kamoedian sobek2 dan sobekannja dilempar di tanah. Lantas dengen tindakan dan sikap A G O E N G ia naek dipanggoeng lagi. Tetapi jang tarik perhatian saja jang itoe waktoe toeroet saksiken itoe kadjadian sebage penonton biasa, jalah dipanggoeng keadaan tinggal soenji. Tida ada kedengeran tepok tangan barang satoe kali. "Dat is gekkenwerk kata toean Topvooort, hoofcommissaris polisi pada saja, ketika kita saling ketemoe dibawah tangga panggoeng terseboet. Perboeatan tarik dan sobek bendera Djepang ada akibat jang ngerih sekali.
Waktoe Soerabaia di doedoekin Nippon orang jang pertama ditangkap Kempetai jalah itoe dokter jang achirnja mati djoega sasoedah mengalami siksaan jang maha heibat. (TAMAT)
"Sini" CONTRA "Sana"
INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
"Sini" Contra "Sana"
(I)
Sedari taon 1932 di Soerabaia didiriken Partai Tionghoa Indonesia (P.T.I.) perhoeboengan dengen P.B.I. (Persatoean Bangsa Indonesia), partainja Dr Soetomo, makin lama makin erat. Djoega ketika PBI, dengen masoeknja Boedi Oetomo, dirobah mendjadi PARINDA (Partai Indonesia Raja) hoeboengan dan bekerdjasama itoe keliatan lebi njata lagi. Makin njata adanja itoe tjara bekerdja sama2, makin djelek tjap jang kita dapet dari pihak Belanda ploes koran2nja. Oproekraaiers, onmiststokers, belhamels dll predicaat jang bikin kami, orang2 dari PTI berada lebi djaoeh lagi dari garis orang2 jang ada harepan bisa dianoegrahi bintang kesetiaan dan kehormatan di hari oelang taon sri baginda Ratoe Wilhelmina.
Tapi, ja apa boleh boeat satoe kali dalem hidoep manoesia ia haroes pilih toedjoean hidoepnja. Tjoema saja bisa terangken sikap saja boekan bentji Kandjeng Goebernemen, poen boekan saja bentji orang2 Belanda, tetapi jang kami tentang sedapat-dapatnja jalah adanja itoe perbedaan perlakoean antara jang masoek golongan Eropa dan jang disempitkan dalem golongan Inlander. Dalam rapat oemoem jang diadaken digedong Nasional Indonesia (GNI) di Boeboetan Soerabaia saja sebage wakil PTI terangken dengen tandes bahwa saja ini orang Indonesia ketoeroenan Tionghoa.
Dan toedjoean kami jang teroetama jalah tjoba hilangken itoe gandjelan. Itoe struikeblok jang menghambat kami dalem perdjoeangan mentjapai persamaan hak, persamaan perlakoean dalem lingkoengan oendang2 dalem negeri, agar achirnja bisa kami semoea membangoen satoe masjarakat jang bahagia, makmoer dan beroentoeng di Negara Indonesia jang raja, bila tida diperbolehkan bilang Indonesia MERDEKA! Bitjara sampe disini saja dikasih denger ketokan peringetan dari medja PID (politieke inlichtingen dienst) bagean penerangan oeroesan politik dari pamerentah Hindia Belanda, badan mana memang selaloe mesti ada bila diadaken rapat oemoem, apalagi rapat terboeka (openlucht). Sobat saja jang rapet almarhoem Soekandar waktoe itoe mendjadi mentri polisi bagean PID. Saja taoe ia melakoeken koewadjibannja boeat ketok pembitjara siapa sadja jang goenaken perkataan Indonesia merdeka dalem njanjian Indonesia raja diganti dengen Indonesia raja. Kami semoea taoe , Soekandar "ambtshalve" karena djabatannja, haroes maen ketok ketok begitoe, kendati dalem hati ia djoega ada satoe Nasionalis jang toelen. Bagaimana menjakitkan hati adanja itoe perbedaan antara si Belanda dan si Inlander bisa dibajangken ketika sebage radactoer Soera Poeblik di Soerabaia. Saja dengen pake pakean hoekoeman pendjara, telandjang kaki dan di borgol haroes djalan kaki dari pendjara Kalisosok ke Landraad di Sawahan. Samentara satoe sinjo Krembangan, golongan Belanda Indo diangkoet dengen mobil tertoetoep ke Raad van Justitie dengen pakean preman dan dikasih slop, ini anak Belanda Godong (istilah boeat Belanda Indo) tjoeri sepeda.
Pada waktoe, kami dari PTI adaken "mement actie" (asksi berbarengan dalem waktoe sama) dan diadaken diberbage-bage tempat. Pembatja bisa bajangankan bagaimana repotnja keadaan di hoofbureau politie (markas besar polisi) di Soerabaia itoe waktoe disembilan tempat jang terpentjar (ada jang di GNI, di Ampel, wijk Arab, di Kalianjar wetan, Kedongdoro dll) ada openbare vergadering, rapat oemoem, dan jang berbitjara boekan dari PTI sadja, tetapi dibantoe oleh kawan2 dari PARINDA, dari Partai Arab Indonesia (Alamoedi, Baswadan), dari NU dll. Boeat adaken rapat oemoem begitoe kami hanja tjoema terima 3 hari dimoeka lapor pada polisi. Kalaoe boeat rapat terboeka (openlucht) satoe boelan dimoeka. Oentoek tolak permintaan kami, tida ada alesan polisi toch tida bisa bilang kekoerangan pedjabat PID, jang di tjap rapat biasanja diwakilin oleh 3 orang, djadi dalem moment aksi disembilan tempat haroes ada 9 kali 3 sama dengen 27 orang! Dan ditaon 1932 djoemlah polisi terbatas. Kenangan masa perdjoeangan begitoe sehingga sekarang masih bisa kasih perasaan hangat dalem dada. Perasaan hangat begitoe katanja ada baik djoega boeat orang jang soedah masoek golongan "soedah ada oemoer" itoe boekan soal, tergantoeng pada diri kita sendiri. Von Hindeburg dalem oesia 85 taon masih naek koeda dan preksa barisan.
Di Soerabaia ditaon 1932 Soerabajasche Voetbal Bond (SVB) perserikatan koempoelan sepak bola Belanda (dalem mana termasoek djoega Tionghoa dengan ia poenja anggota2 pengoeroes jang oemoemnja terdiri dari pemoeka2 Chung Hua Hui betoel2 sedang djaja-djajanja.
Kwee Thiam Tjing bertjerita
"Sini" Contra "Sana"
(I)
Sedari taon 1932 di Soerabaia didiriken Partai Tionghoa Indonesia (P.T.I.) perhoeboengan dengen P.B.I. (Persatoean Bangsa Indonesia), partainja Dr Soetomo, makin lama makin erat. Djoega ketika PBI, dengen masoeknja Boedi Oetomo, dirobah mendjadi PARINDA (Partai Indonesia Raja) hoeboengan dan bekerdjasama itoe keliatan lebi njata lagi. Makin njata adanja itoe tjara bekerdja sama2, makin djelek tjap jang kita dapet dari pihak Belanda ploes koran2nja. Oproekraaiers, onmiststokers, belhamels dll predicaat jang bikin kami, orang2 dari PTI berada lebi djaoeh lagi dari garis orang2 jang ada harepan bisa dianoegrahi bintang kesetiaan dan kehormatan di hari oelang taon sri baginda Ratoe Wilhelmina.
Tapi, ja apa boleh boeat satoe kali dalem hidoep manoesia ia haroes pilih toedjoean hidoepnja. Tjoema saja bisa terangken sikap saja boekan bentji Kandjeng Goebernemen, poen boekan saja bentji orang2 Belanda, tetapi jang kami tentang sedapat-dapatnja jalah adanja itoe perbedaan perlakoean antara jang masoek golongan Eropa dan jang disempitkan dalem golongan Inlander. Dalam rapat oemoem jang diadaken digedong Nasional Indonesia (GNI) di Boeboetan Soerabaia saja sebage wakil PTI terangken dengen tandes bahwa saja ini orang Indonesia ketoeroenan Tionghoa.
Dan toedjoean kami jang teroetama jalah tjoba hilangken itoe gandjelan. Itoe struikeblok jang menghambat kami dalem perdjoeangan mentjapai persamaan hak, persamaan perlakoean dalem lingkoengan oendang2 dalem negeri, agar achirnja bisa kami semoea membangoen satoe masjarakat jang bahagia, makmoer dan beroentoeng di Negara Indonesia jang raja, bila tida diperbolehkan bilang Indonesia MERDEKA! Bitjara sampe disini saja dikasih denger ketokan peringetan dari medja PID (politieke inlichtingen dienst) bagean penerangan oeroesan politik dari pamerentah Hindia Belanda, badan mana memang selaloe mesti ada bila diadaken rapat oemoem, apalagi rapat terboeka (openlucht). Sobat saja jang rapet almarhoem Soekandar waktoe itoe mendjadi mentri polisi bagean PID. Saja taoe ia melakoeken koewadjibannja boeat ketok pembitjara siapa sadja jang goenaken perkataan Indonesia merdeka dalem njanjian Indonesia raja diganti dengen Indonesia raja. Kami semoea taoe , Soekandar "ambtshalve" karena djabatannja, haroes maen ketok ketok begitoe, kendati dalem hati ia djoega ada satoe Nasionalis jang toelen. Bagaimana menjakitkan hati adanja itoe perbedaan antara si Belanda dan si Inlander bisa dibajangken ketika sebage radactoer Soera Poeblik di Soerabaia. Saja dengen pake pakean hoekoeman pendjara, telandjang kaki dan di borgol haroes djalan kaki dari pendjara Kalisosok ke Landraad di Sawahan. Samentara satoe sinjo Krembangan, golongan Belanda Indo diangkoet dengen mobil tertoetoep ke Raad van Justitie dengen pakean preman dan dikasih slop, ini anak Belanda Godong (istilah boeat Belanda Indo) tjoeri sepeda.
Pada waktoe, kami dari PTI adaken "mement actie" (asksi berbarengan dalem waktoe sama) dan diadaken diberbage-bage tempat. Pembatja bisa bajangankan bagaimana repotnja keadaan di hoofbureau politie (markas besar polisi) di Soerabaia itoe waktoe disembilan tempat jang terpentjar (ada jang di GNI, di Ampel, wijk Arab, di Kalianjar wetan, Kedongdoro dll) ada openbare vergadering, rapat oemoem, dan jang berbitjara boekan dari PTI sadja, tetapi dibantoe oleh kawan2 dari PARINDA, dari Partai Arab Indonesia (Alamoedi, Baswadan), dari NU dll. Boeat adaken rapat oemoem begitoe kami hanja tjoema terima 3 hari dimoeka lapor pada polisi. Kalaoe boeat rapat terboeka (openlucht) satoe boelan dimoeka. Oentoek tolak permintaan kami, tida ada alesan polisi toch tida bisa bilang kekoerangan pedjabat PID, jang di tjap rapat biasanja diwakilin oleh 3 orang, djadi dalem moment aksi disembilan tempat haroes ada 9 kali 3 sama dengen 27 orang! Dan ditaon 1932 djoemlah polisi terbatas. Kenangan masa perdjoeangan begitoe sehingga sekarang masih bisa kasih perasaan hangat dalem dada. Perasaan hangat begitoe katanja ada baik djoega boeat orang jang soedah masoek golongan "soedah ada oemoer" itoe boekan soal, tergantoeng pada diri kita sendiri. Von Hindeburg dalem oesia 85 taon masih naek koeda dan preksa barisan.
Di Soerabaia ditaon 1932 Soerabajasche Voetbal Bond (SVB) perserikatan koempoelan sepak bola Belanda (dalem mana termasoek djoega Tionghoa dengan ia poenja anggota2 pengoeroes jang oemoemnja terdiri dari pemoeka2 Chung Hua Hui betoel2 sedang djaja-djajanja.
Pemoeda di zaman Koeno (II_TAMAT)
(II)
Di zaman itoe gadis2 pada beramboet pandjang jang tersebar menoetoepi badannja. Kita jang ada dibelakang intjar sadja "misje" kita. Kalaoe kebetoelan bisa berada didjoeroesannja dan angin djoega kebetoelan menioep dari depan, kita sembari endjot pedal sepeda, sedot napas sedalem-dalemnja bisa oentoek tjoba tjioem haroemnja ramboet si djantoeng hati. Dan sampe sore rasanja dada mendjadi lapang, apalagi kalaoe disoeroeh pompa sepeda dan selagi serahken setirnja, tangan kita bisa beradoe, telinga tangkap perkataan "dankje wel, hoor!" dan tangan sama2 saling senggol, adoeh! Rasanja biarpoen sampe esok paginja kok sajang kalaoe kena aer.
Kendati tida terang-terangan, tetapi masing2 dari kita tahoe "misje" A siapa jang poenja dan B djadi "misje" siapa. Kalaoe sampe ada persaingan atawa perlakoean jang dianggap koerang adjar, terhadap gadis jang mendjadi idaman kita, pasti ini berarti adoe kepelan atawa "all es en alles" termasoek djegal, piting, toendjek, banting , tendang semoeanja boleh katjoeali menggigit. Kalaoe kita ketemoe doea moerid lelaki jang pada matang biroe, djalan pintjang dan aer moeka penoeh baret karena bekas di gobrot di tanah, tahoelah kita bahwa antara mereka ada dilakoeken satoe tjara oentoek pertahankan masing2 poenja "hak" atas soeatoe "misje". Ini bodoh boekan? Dan lebi bodoh lagi bila kita tahoe dalem banjak hal si misje djoega tida mendoesin jang ia jang tadinja diboeat reboetan. Karena oemoemnja misje itoe tjoema akoe-akoean sadja. Karena saja rasa anak zaman sekarang tida akan berlakoe begitoe naif dan bodoh seperti anak dari setengah abad berselang.
Karena diloear sekolah tida ada iketan jang gaboengken itoe anak2 satoe pada lain, maka masing2 tjari djalannja sendiri, tjari temen-temennja sendiri. kalaoe menoeroet istilah sekarang, ia orang meroepaken "gang-gangan" ada jang liwatin temponja dengen maen biljard; ada jang djalan2 sepandjang djalan dengen ganggoe siapa sadja jang dianggep bisa diganggoe (ini golongan toekang tjari perkara) ada djoega jang sering goda anak2 prempoean baik di roemah atawa disekolahnja. Oempama pernah kadjadian satoe hal jang memboektiken benarnja pribahasa "hie-hie siet-siet" (apa jang dikira kosong ternjata penoeh dan apa jang dianggep penoeh terboekti kosong) atawa dengen perkataan biasa hendak dibilang, perlawanan didapat djoesteroe dari fihak jang tadinja ditaksir tida akan melawan sama sekali.
Saja dengen beberapa temen (tentoe sadja lelaki) pada soeatoe pagi liwat di zusterschool di Tjelaket, Malang. Apa maoe, djendela ditingkat atas diboeka dan di belakangnja terliat sekoempoelan gadis-gadis jang memang sekolah dan tinggal disana. Kami atjoengken tangan dan treak "dag....dag". treakan ini dibales dengen lambaian tangan, malah ada djoega jang kasih "kushandje". Pembatja bisa tebak bagaimana reaksi kami dengen samboetan jang begitoe meriah. Rasanja maoe berdjingkrak dan djoengkir-balik di djalanan saking girangnja. Tentoe sadja hal ini lekas tertoelar diantara teman2 lelaki jang lain.
Grombolan kami achirnja terdiri dari koerang lebi 12 orang jang tiap pagi pasti dengen sepada berenti dibawah djendela jang terkenal itoe. Djoemlah gadis ternjata djoega bertambah. Soera sepada, treakan dan djeritan tentoe sadja tarik perhatian orang2 Belanda jang tinggal disekiternja, tetapi mereka poera2 tida tahoe apa2, tida denger apa2 koeatir kalaoe ganggoean itoe pindah keroemah masing2. pembatja djangan kira kami orang meroepaken segrombolan anak2 jang masih ketjil. Tida, badan kita dan tinggi tjoekoep besar, sebab zaman itoe kaloe hampir loeloes MULO berarti soedah delapan atawa sembilan belas taon. Kapan tadi soedah dibilang, anak2 zaman itoe kebanjakan maen masa bodoh sadja, toch ada orang toewa.
Apalagi djika pamili poenja anak gadis. Pembatja bisa bajangken sendiri anak2 lelaki seoesia moeda begitoe, makin dibiarin makin naek kepala. Tetapi pembalesannja dateng. Kami disebelah bawah pada treakin, gapein dan bikin gerakan adjak mereka keliling kota naek sepeda dan makan minoem. Adjakan kita jang berada disebelah bawah dari doea djendela jang diboeka lebar disamboet dengen gelak ketawa oleh gadis2 jang berada dibelakangnja.
Dan selagi kami mendongak keatas boeat nikmati manisnja itoe sekoempoelan boenga jang lagi mekar-mekarnja, mendadak mereka dengen serentak pada moendoer dan tempatnja diganti oleh lima atawa anam zuster. Belon hilang terperandjat kita atawa itoe koempoelan zuster dengen serentak toewang isinja pot-pot jang memang masing2 ada bawa. Dan boekan lagi gerimis jang menimpah kita, tetapi lebat sekali adanja hoedjan............. kentjing jang menggoejoer kami. Ada diantara kita jang isinja si pot langsoeng menggoejoer kepalanja!
Tida oesah ditanja lagi bagaimana kita pada lari seraboetan dengen dibelakang kedengeran soerak dan tepok tangan jang rioeh sekali dari itoe sekoempoelan zuster dan moerid-moeridnja.
"Kom morgen weer terug!" treak mereka. Esoknja disoeroeh dateng lagi, katanja. Sampe lama Zusterschool di Tjelaket Malang oleh kami dianggap sebage tempat jang angker! Hiet-hiet siet-siet.
(TAMAT)
Di zaman itoe gadis2 pada beramboet pandjang jang tersebar menoetoepi badannja. Kita jang ada dibelakang intjar sadja "misje" kita. Kalaoe kebetoelan bisa berada didjoeroesannja dan angin djoega kebetoelan menioep dari depan, kita sembari endjot pedal sepeda, sedot napas sedalem-dalemnja bisa oentoek tjoba tjioem haroemnja ramboet si djantoeng hati. Dan sampe sore rasanja dada mendjadi lapang, apalagi kalaoe disoeroeh pompa sepeda dan selagi serahken setirnja, tangan kita bisa beradoe, telinga tangkap perkataan "dankje wel, hoor!" dan tangan sama2 saling senggol, adoeh! Rasanja biarpoen sampe esok paginja kok sajang kalaoe kena aer.
Kendati tida terang-terangan, tetapi masing2 dari kita tahoe "misje" A siapa jang poenja dan B djadi "misje" siapa. Kalaoe sampe ada persaingan atawa perlakoean jang dianggap koerang adjar, terhadap gadis jang mendjadi idaman kita, pasti ini berarti adoe kepelan atawa "all es en alles" termasoek djegal, piting, toendjek, banting , tendang semoeanja boleh katjoeali menggigit. Kalaoe kita ketemoe doea moerid lelaki jang pada matang biroe, djalan pintjang dan aer moeka penoeh baret karena bekas di gobrot di tanah, tahoelah kita bahwa antara mereka ada dilakoeken satoe tjara oentoek pertahankan masing2 poenja "hak" atas soeatoe "misje". Ini bodoh boekan? Dan lebi bodoh lagi bila kita tahoe dalem banjak hal si misje djoega tida mendoesin jang ia jang tadinja diboeat reboetan. Karena oemoemnja misje itoe tjoema akoe-akoean sadja. Karena saja rasa anak zaman sekarang tida akan berlakoe begitoe naif dan bodoh seperti anak dari setengah abad berselang.
Karena diloear sekolah tida ada iketan jang gaboengken itoe anak2 satoe pada lain, maka masing2 tjari djalannja sendiri, tjari temen-temennja sendiri. kalaoe menoeroet istilah sekarang, ia orang meroepaken "gang-gangan" ada jang liwatin temponja dengen maen biljard; ada jang djalan2 sepandjang djalan dengen ganggoe siapa sadja jang dianggep bisa diganggoe (ini golongan toekang tjari perkara) ada djoega jang sering goda anak2 prempoean baik di roemah atawa disekolahnja. Oempama pernah kadjadian satoe hal jang memboektiken benarnja pribahasa "hie-hie siet-siet" (apa jang dikira kosong ternjata penoeh dan apa jang dianggep penoeh terboekti kosong) atawa dengen perkataan biasa hendak dibilang, perlawanan didapat djoesteroe dari fihak jang tadinja ditaksir tida akan melawan sama sekali.
Saja dengen beberapa temen (tentoe sadja lelaki) pada soeatoe pagi liwat di zusterschool di Tjelaket, Malang. Apa maoe, djendela ditingkat atas diboeka dan di belakangnja terliat sekoempoelan gadis-gadis jang memang sekolah dan tinggal disana. Kami atjoengken tangan dan treak "dag....dag". treakan ini dibales dengen lambaian tangan, malah ada djoega jang kasih "kushandje". Pembatja bisa tebak bagaimana reaksi kami dengen samboetan jang begitoe meriah. Rasanja maoe berdjingkrak dan djoengkir-balik di djalanan saking girangnja. Tentoe sadja hal ini lekas tertoelar diantara teman2 lelaki jang lain.
Grombolan kami achirnja terdiri dari koerang lebi 12 orang jang tiap pagi pasti dengen sepada berenti dibawah djendela jang terkenal itoe. Djoemlah gadis ternjata djoega bertambah. Soera sepada, treakan dan djeritan tentoe sadja tarik perhatian orang2 Belanda jang tinggal disekiternja, tetapi mereka poera2 tida tahoe apa2, tida denger apa2 koeatir kalaoe ganggoean itoe pindah keroemah masing2. pembatja djangan kira kami orang meroepaken segrombolan anak2 jang masih ketjil. Tida, badan kita dan tinggi tjoekoep besar, sebab zaman itoe kaloe hampir loeloes MULO berarti soedah delapan atawa sembilan belas taon. Kapan tadi soedah dibilang, anak2 zaman itoe kebanjakan maen masa bodoh sadja, toch ada orang toewa.
Apalagi djika pamili poenja anak gadis. Pembatja bisa bajangken sendiri anak2 lelaki seoesia moeda begitoe, makin dibiarin makin naek kepala. Tetapi pembalesannja dateng. Kami disebelah bawah pada treakin, gapein dan bikin gerakan adjak mereka keliling kota naek sepeda dan makan minoem. Adjakan kita jang berada disebelah bawah dari doea djendela jang diboeka lebar disamboet dengen gelak ketawa oleh gadis2 jang berada dibelakangnja.
Dan selagi kami mendongak keatas boeat nikmati manisnja itoe sekoempoelan boenga jang lagi mekar-mekarnja, mendadak mereka dengen serentak pada moendoer dan tempatnja diganti oleh lima atawa anam zuster. Belon hilang terperandjat kita atawa itoe koempoelan zuster dengen serentak toewang isinja pot-pot jang memang masing2 ada bawa. Dan boekan lagi gerimis jang menimpah kita, tetapi lebat sekali adanja hoedjan............. kentjing jang menggoejoer kami. Ada diantara kita jang isinja si pot langsoeng menggoejoer kepalanja!
Tida oesah ditanja lagi bagaimana kita pada lari seraboetan dengen dibelakang kedengeran soerak dan tepok tangan jang rioeh sekali dari itoe sekoempoelan zuster dan moerid-moeridnja.
"Kom morgen weer terug!" treak mereka. Esoknja disoeroeh dateng lagi, katanja. Sampe lama Zusterschool di Tjelaket Malang oleh kami dianggap sebage tempat jang angker! Hiet-hiet siet-siet.
(TAMAT)
Sunday, October 30, 2005
Pemoeda di zaman koeno (I)
INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Pemoeda di Zaman Koeno
(I)
Djika kita bikin pertandingan antara tindak-tandoek anak2 zaman sekarang dengen anak2 zamansekiter 1915-1920 kita mesti akoein bahwa anak2 sekarangoendjoeken lebi banjak pengertian tentang toedjoean hidoep. 50 taon berselang kita tjoema tahoe sekolah sadja, kapan loeloesnja itoe si perkara belakang hari. Kapan ada orang toea jang tanggoeng segala-galanja. Dari di permoelaan abad ini toedjoean hidoep masjarakat di Hindia Belanda ada lebih terbatas lagi. Kalaoe bapa tani, harapannja jalah anaknja djoega mendjadi seorang tani; djika bapa priaji dalem kalangan pamong pradja, anaknjapoen diharap achirnja dapet seboetan "ndoro wedono" sasoedah sebage djedjaka ia dinas mendjadi "magang" dan via poeloehan taon sebage "ndoro mantri" dan "ndoro asten". Kalaoe kandjeng boepatiitoe mesti toeroenan. Bapa dagang anak djoega dagang. Dan kalaoe bekerdja pada "toko Belanda" soepaia bisa diangkat djadi "baba kasir", poentjak dari segala angen2. Seboetan "baba-kasir" djangan dianggep terlaloe enteng. Dalem kalangan masjarakat Tionghoa di zaman itoe, kalaoe ada djedjaka hendak di oedji lagi sekali, sesoedah lamaran via orang toeanja diterima baek, ia dengen diikoeti oleh pamilinja terdekat, diminta datang di roemah bakal mertoeanja.
Disana diroeangan depan ia diminta doedoek dipinggir medja dimana diatas terdapat beberapa kantong terisi oewang perak, seperti ringgitan, goelden, setangah goelden, 25 sen, 10 sen. Dengen dikiterin dan diawasin oleh pamili dari beberapa toenangannja, si tjalon "baba mantoe" diminta hitoeng itoe oewang pitjahan. Kalaoe saban kali bisa roepaken barisan dari 10 bidji, ini tandanja ia soedah loeloes. Dan sibakal mertoea boleh dengen bangga toetoerken pada pamili dan sobatnja bagaimana "tjing sin" pintar adanja ia poenja bakal "baba mantoe" . di belakangan medja oedjian ada terdapat djendela jang daonnja tinggal tertoetoep, tetapi di belakangan mana pasti penoeh dengen pamili prempoean dari anak gadis jang dilamar itoe. Mereka pada berdesakan oentoek tjoeri liat si bakal mantoe. Dan anak gadisnja sendiri? ia tida pernah ketemoe moeka dengen orang jang ditetepken sebage bakal soeaminja. Kendati dalem hati tentoe sadja ia ingin liat tampang moeka dari bakal pasangannja, tetapi sebage "gadis pingitan" mana ia ada itoe kebranian. Ia tinggal toendoek hadepin wadjan gorengan di dapoer seolah-olah itoe semoea tida mengenakan ia barang seoedjoeng ramboetpoen. Ini baroe dibilang "perawan simpenan" sedjati.
Aken kombali pada keadaan anak2 disekiter taon doea poeloehan, tida ada tjerita pasal "girl friend" atawa "boy friend". Baik lelaki maoepoen perempoean masing2 pada maloe kalaoe saoempama berdjalan berdoeaan sadja. Djoega mertamoe di roemah "geen kwestle van" menoeroet istilah dari Corrie poenja bapa. Ini Corrie ada gadis Belanda sekolah MULO di Malang dimana ia mendjadi kembangnja dalem hal ketjantikan. Poeloehan anak lelaki jang pernah tjoba mertamoe diroemahnja, tetapi semoea disemprot keloear oleh corrie poenja bapa jang bengisnja lebi dari setan. Tetapi kendati hidoep kami, moerid lelaki dan prempoean dari sekolahan, ada keliatan seperti terpisah sebab selaloe bergerombol sendiri-sendiri, toch perhoeboengan "asmara" ada, kendati tida terang2an seperti sekarang. Kita, silelaki, ada poenja "misje" dan dikalangan moerid2 prempoean pasti ada jang poenja teman lelaki speciaal. Djam 1 kalaoe waktoe poelang, bisa kita liat 2 grombolan. Oemoemnja naek sepeda. Jang prempoean ada didepan.
Saturday, October 29, 2005
Wild West Journalism (III - TAMAT)
(III)
Sesampenja disana, baroe saja tahoe Koen Hian berenti selakoe hoofdredacteur Pewarta Soerabaia dan diriken ( dengen beberapa kawan lain) soerat-kabar "Soeara Poeblik" di djalan Gresik. Ia minta saja doedoek sebage redacteur. Zonder pikir padjang dan zonder tanja condite apa2, saja terima tawaran itoe dan pindahlah saja ke Soerabaia. Makloem itoe waktoe masih boedjangan dan tida pikoel tanggoengan terhadap orang toea maoepoen pamili jang semoeanja ada "in goede doen" menoeroet tjara Belandanja. Bermoela Soeara Poeblik dapet samboetan baek sekali, teroetama dari pihak pers Belanda, seperti Soerabajasch Handelsblad dan Indische Courant jang redactienja memang kenal kami, poen contract advertentie mengoembirakan; dari apa jang itoe waktoe diseboet "The Big Five" seperti Borsumy, Hagemayer dan sebagenja kami terima ratoesan riboe regel advertentie. Tetapi sesoedah kenjataan "boroknja" warnanja dan sikap kami jang tida soedi maen noen inggih, kandjeng sadja, malahan sering kali berani hantem jang dipertoean dimana kamirasa kami berada dipihak benar, lantas berobah sikap itoe, contract advertentie tinggal contract, karena baroe dibajar kalaoe advertentie nja soedah dimoeat, boekan? Bermoela kami terbit 10 lembar dari mana dengen 6 lembar dengen advertentie besar. Borsumy sendiri minta satoe lembar penoeh. Tetapi sasoedah terang jang kita tioep itoe boekan lagoe "Wilhelmoes" hanja lagoe "Indonesia raja", soerat-kabar kami moelai hidoep sene-kemes. Kalaoe didatengin colporteur kami, selaloe dibilang belon ada barang baroe jang mesti diperkenalken. Kami maloe boeat oedjoekin kenapa pada2 lain2 soerat-kabar ada dimoeat advertentienja, djadi dengen menboesoengken dada kami tjoba pertahankan hidoep kami dari advertentie si A kong jang djoeal katja-mata jang tjoema bajar virj goelden sadja satoe kali moeat. Pabriek rokok "Nitisemito" dari Koedoes dan poen pernah moeat advertentie rokoknja, teroetama diwaktoe ada gelombang "swadesi" dikalangan kaoem pergerakkan. Tapi biar bagaimana soesah djoega hidoep kami, toch kami tida aken oendjoeken itoe dihadepan oemoem. Kendati kadang2 kantong kempes, toch kalaoe keloear tetep pake dasi, djas dan topi.
Trouwens di waktoe itoe semoea pake djas, kalaoe tida pake dasi tentoe djas toetoep. Tida seperti sekarang, maen tjoel-tjoelan2 kalaoe menoeroet istilah dahoeloe. Tjoema sadja kebanjakan pake sepeda, djarang jang naek toeroen Aoeto. Kalaoe masoeknja advertentie djoesteroe itoe djantoengnja soerat-kabar. Di Soeara Poeblik makin lama makin sedikit sebaliknja djoemlah pers-delict jang mesti kami beriken tanggoeng djawab datangnja tida ada poetoes-poetoesnja. Saja sendiri mesti tanggoeng 9 delict karena toelisan saja sendiri. jang mendjadi poepoek dari soeboernja delict2 begitoe jalah itoe artikel 161 bis dan ter jang kesohor. Belon toelisan saja boeat mana kita telah sediaken apa jang diseboet "Zit redacteur" redaktoer boeat Zit, boeat doedoek dalem boewi. Sebab djika saja sendiri jang mesti tanggoeng djawab, pasti sedikitnja dihoekoem berat sekali. Boeat djadi Zit redacteur ada amat gampang. Tida perloe kepandean sekolahan, pengetahoean oemoem jang laen2 nonsen lagi. Jang diminta tjoema kebranian boeat akoein kesalahan jang boekan ia berboeat. Oemoemnja Zit redacteur kami diambil dari "anak kapasan" Soerabaia jang menerangken dimoeka pengadilan bahwa ia jang terima copy toelisan jang djadi delict itoe pada Zettery, karena waktoe itoe Zettery minta copie boeat dizet karena semoea copie soedah habis, ia ambil sadja copie jang ada dimedja redaktoer dan bawa itoe ke Zettery. Ia tida tahoe apa artinja toelisan itoe, poen tida mengarti effect dari apa jang ditoelis sebage tjontoh ada ini kadjadian.
Ditaon 1925 tanah Atjeh tarik penoeh perhatian karena pendoedoek berontak. Tiap hari Soerabajasch Handelsblad dan Indische Courant toelis "we mooten die sloebers en djahata maar doodschieten" katanja (kita mesti tembak mati sadja itoe badjingan dan pendjahat). Dan karena soedah bosen dengen njanjian begitoe, satoe waktoe saja bales di Soeara Poeblik begini : perbedaan antara sloebers dan djahat jang haroes ditembak mati dan vader des vaderland tjoema geografisch sadja. Prins Willem van Oranje (de groote Zwijger) ada vader des vaderland dimoeka matanja orang Belanda. Tetapi boeat Philips ke 11 dari Spanjol ia djoega ada sloebers dan djahat jang haroes ditembak mati itoe poetera2 Atjeh berontak karena maoe Merdeka, sebab didjadjah tida eank. Belanda sendiri mengakoei tida enaknja itoe. Boekitnja dalem boekoe Hikajat ada diseboet pasal "tachtig jarige oorlog" (80 taon perang) boeat lepasken diri dari belenggoe pendjadjahan. Tetapi ini toelisan masih belon dianggap seberapa salah. Jang bikin Zit redacteur digandjar 1 taon pendjara jalah moto jang toelis diatasnja jang berboenji begini:
Als ik eens een Atjeher was,
Hoe zou mijn rentjong spreken!
Als ik eens een Atjeher was,
Mensenbloed zoe aan mijn klewang kleven!
.......boeshet.... deh kalaoe Soeharto denger pasti ilang deh Opa
kalaoe saja orang Atjeh,
bagaimana rentjoengkoe berbitjara!
Kalaoe saja orang Atjeh,
Klewangkoe akan basah dengen darah manoesia.
(TAMAT)
Wild West Journalism (II)
(II)
Ketika paling belakangan saja datang ke Soerabaia banjak diantara sobat2 soedah ada jang djalan dahoeloe. Saja insjaf, poen saja sekarang berada digaris depan. Tetapi soal mati dan hidoep berada dalem tangan Toehan jang Maha Esa wa`llahoe a`lam bissawab! Ada jang masih moeda, sehat, segar boegar saat ini dan saat kamoedian tamatlah hidoepnja di doenia. Ada djoega kawan saja dari taon 1920 di waktoe sama2 masih moeda, badannja soedah koeroes kering, poenja penjakit astma kronis, hingga napasnja kedengeran seperti engsel pintoe jang karatan dan tida dikasih minjak, sekarang tambah bongkok lagi en toch masih hidoep masih bisa gelak ketawa ketika ketemoe saja.
Ia tanja apa saja masih soeka maen maki2 di soerat kabar? Saja terangken padanja, kalaoe seorang dimaki di soerat kabar oemoemnja ia mendjadi marah, gelisah, patah hati, tegesnja menderita. Dan karenaadanja ini penderitaan lebi doeloe dosanja dikoerangin. Dan saja sebab kasih djalan orang itoe koerangin dosa, poen dosa saja dikoerangin sebage tanda djasa terhadap sesama! Semoea pihak sama2 oentoeng boekan?
Ditaon 1932 di Soerabaia ada didiriken Partai Tionghoa Indonesia (P.T.I.) dengen Koen Hian sebage ketoea, saja penoelis dan Mr Ong Lian Kok sebage bendaraha. P.T.I mengkoe dirinja ada orang Indonesia. Dalam rapat oemoem jang diadaken di Gedong Nasional Indonesia (GNI) di Boeboetan Soerabaia ada dengen djelas terangken bahwa saja ini orang Indonesia ketoeroenan Tionghoa. Soedah toedjoeh toeroenan keloearga saja ada disini, djadi dewasa, anak beranak, toea mati dan dikoeboer disini djoega. Djadi oentoek kami tida bisa dihoeboengken dengen pelantoen anak2 jang berboenji :
"Otok-otok boenjinja tokeh; Tjina mondo bilangnja singkeh". Kalaoe mondok sampe toedjoeh toeroenan itoe soedah tida bisa dibilang mondok lagi boekan ? kontan diesok harinja koran2 jang tida setoedjoeh dengen haloean PTI (kebanjakan koran Belanda jang direct tjap PTI sebage Communist, katanja dan djoega ada koran Tionghoa-melajoe jang maoe djadi lebi Belanda dari Belandanja sendiri, golongan Chung Hua Hui). Maki dan tjatji saja habis-habisan. Tan Tek Ho dari Sin PO editle djawa timoer dan terbit di Soerabaia namaken saja "Tjina Gila jang maoe djadi Hwana". Ia tanja apa saja soedah di "soenat"? saja djawab di "Soeara Poeblik" hal saja soedah di soenat atawa belon, ini saja soedah loepa. Tjoba penoelis tolong tanja sadja pada istrinja. Malem itoe djoega sekiter djam 10 liwat, Tek Ho gedor roemah saja boeat tanja apa maksoed saja dengen soeroeh ia tanja pada istrinja apa saja soedah disoenat atawa belon. "Loe anggep apa bini goewa? Treak ia dengen marah. Saja tida pedoeli kalaoe ia tida terima tjoema djangan berlaga dalem roemah saja. Tjari sadja tempat dimana kita bisa saling hantem. Ia setoedjoe dan begitoelah kami keloear dan disatoe tempat kosong di Pasar besar di belakang gedong Raad van Justitie (jang sekarang soedah lama dibongkar mendjadi taman pahlawan) kita landjoetken "polemik" kita dengen saling djotos, tendang, djegal dan piting. Dalem "seni" matjam ini memang saja soedah berlatih moelai dari doedoek dikelas satoe dari EELS di Malang diantara anak2 Belanda totok jang maki saja sebage "tjina loleng, boentoette di goreang" dalem oesia 30 taon lebi banjak dapet kenjataan masih "boleh" napas saja dan baek toendjekan dan bantingan masih tjoekoep mantep dan gesit. Tek ho sendiri bebadan tegep dan sama oesianja. Sasoedah saling hadjar hampir setengah djam lamanja, achirnja kami dengen napas senggal2 berenti dan kasih tangan, kedoea pihak soedah merasa poeas, Tek Ho antar saja poelang, sebage tanda mata dari "debat" itoe saja poenja mata kanan bengkak dan biroe, bibir bawah pitjah. Tek Ho hidoengnja tambah ambles dan djidat serta djanggoetnja pada loeka karena dibanting ke tanah. Belon terhitoeng rasa sakit di badan dan iga. Tetapi digoenggoeng total djendralnja stand djadi seri; kedoea pihak sama2 poeas. Dan ........ merasa kawan lagi, ini bagoesnja tjara tempo dahoeloe. Tetapi diambil oemoemnja hidoep kita lebi soekar dari pada apa jang kami tondjoelken didepan oemoem. Lebi soekar teroetama dalem kaoewangan.
Ditaon 1921 Koen Hian mendjadi hoofdredacteur Pewarta Soerabaia dan saja pembantoe tetep di Malang. Tiap hari saptoe saja toelis "tjorat-tjoeret" dengen nama pandengan TJAMBOEK BERDOERI. Mendadak ditaon 1923 Koen Hian kirim kawat pada saja minta lantas datang di Soerabaia.
Thursday, October 27, 2005
Wild West Journalism (I)
INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Wild West Journalism
(I)
Dibanding dengen persoeratkabaran di taon 1920/1930 keadaan pers kita disini boleh dibilang tenterem sekali. Tadjoek rentjana ditoelis dengen objektif dan kalaoe kadang2 kepaksa menjinggoeng, tjara menjinggoengnja djoega haloes. Perbedaan begitoe anatara dahoeloe dan sekarang bisa dimengerti; kapan doeloe pemerentah asing dengen segala kepintjangannja jang berkoeasa atas kita. Karena terlaloe sering terdjadinja bentrokan2 begitoe, pribadinja si djoernalist djoega ikoet berobah. Persis seperti jang bisa diliat di Wild West film. Ada sedikit alesan sadja, pistol dan revolver di tjaboet dan peloeroe2 tjari mangsanja di segala djoeroesan. Tjoema tentoe sadja apa jang kita hamboerken boekan peloeroe, tetapi makian2, makin kotor makin disoeka. Malah kotor masoek golongan "swaargeschut", kata Zentgraaff. Djoega oleh pembatja jang sedikit banjak ketoelaran. Soerat kabar jang soearanja "melempem mamboe dem" tida disoeka oleh mereka. Oempama Berretty dengen ia poenja "de Zweep", O!, satoe kali ia hantem, ia hantem betoel tida perdoeli Kandjeng Goebernemen atawa Kandjeng toean manapoen, Wijbrands Zentgraaff, Lievegoed dan laen2 semoeanja idem. Dalam pers kita jang tergolong sebage tjabang atas dalem kesenian maka bisa ditjatet : Hauw Tek Kong, Kwee Hing Tjiat, Gondojoewono, Liem Koen Hian, Injo Beng Goat, Kwee Kek Beng, Sijaranamual (Joenoes), Soedarjo Tjokrosisworo, Tjindarboeni dll. Dan kalaoe saling bantah antar doea djago pena begitoe tida bisa diberesken dalem batas garis kolom soerat kabar, kebanjakan lantas ditjari garis kolom jang lebi loeas, jaitoe tanah lapangan.
Dan disana mereka saling geloet, saling tondjok, saling banting, habis ini, saling kasih tangan dan saling mendjadi kawan kembali ini adalah "eere code" zaman itoe, pembatja. Djoega tjara hidoep kami ada laen, dahoeloe kalaoe kita keloear roemah, pasti djas dan dasi serta topi tida ketinggalan. Beda dengen sekarang jang dandanannja, kalaoe menoeroet istilah sebelon perang, dinamaken "tjoel-tjoelan".
Saja tida tahoe bagaimana pandangan hidoep saoedara2 djoernalist zaman sekarang. Tetapi di zaman saja, kami tida begitoe poesingken kesedjahteraan roemah tanggga. Koerang sedikit atawa lebih sedikit dalem soal oewang belandja, ini boekan soal jang meminta pikiran kita terlaloe banjak. Kalaoe ada banjak dipake banjak, djika sedikit djoega sedikit. Dan kalaoe satoe waktoe habis sama sekali, dompet kawan selaloe tinggal terboeka, seperti djoega dompet kita bila ada kawan jang memerloekennja. Sebenernja sikap hidoep begitoe ada keliroe, tetapi pada oemoemnja kaoem djoernalist itoe kebanjakan pemboros. Ada djoega satoe kawan djoernalist jang mendjadi satoe ketjoealian diantara kaoem penoelis. Sekakernja boekan maen, merokok ditaker, kalaoe makan bersama-sama selaloe bajar sendiri apa jang dimakan atawa diminoem. Belon pernah ia berani traktir kawannja, tetapi kalaoe ditraktir, maoe.
Sebage djoernalist ia masoek golongan kelas nol; paling2 tjoema bisa isi roewangan kabar kota dengen kantor polisi sebage soembernja. Seringkali kawan itoe dinasehatken oentoek bekerdja sebage klerk sadja; siapa tahoe satoe waktoe ia aken mendjadi "ba-bekaoer" (boekhoulder). Ia tida ada bakat boeat mendjadi djoernalist. Tetapi ja apa maoe dikata? Ini wepenbroeder terlaloe bangga dengen ia poenja perskart.
Pada soeatoe hari, selagi iseng Koen Hian dan saja pergi ke toko Onderling Belang di Gemblongan Soerabaia. Zonder maksoed tertentoe, tjoema boeat liat2 sadja. Apa maoe sesoedah liat ini dan itoe achirnja kami sampe dibagean jang di djaga oleh satoe nona Belanda Indo jang tjantik dan menarik sekali. Dasar namanja golongan pemoeda (waktoe itoe), jang tida bisa liat rok berkibar sedikit sadja, kami moelai pasang omong tentang barang2 jang didagangkan dan achirnja Koen Hian tanja poekoel berapa toko toetoep dan apa si nona maoe diadjak djalan2. sebaliknja dari kasih djawaban, nona itoe mendadak lari kabelakang. Kamoedian ia kaloear lagi dengen di ikoeti oleh seorang Belanda jang tinggi besar.
Barangkali ia poenja sep. Meliat kami, dari djaoeh ini Belanda soedah maen betereak dan toeding2 "Neen, neen zijgaat niet uit! En vooral niet zo`n soort als julie!" (tida, tida! Ia tida aken djalan2 dan teroetama tida dengen orang2 sematjam kamoe!). Sesampenja dikami Koen Hian mendekati itoe Belanda jang seperti kalap, dengen sikap seperti hendak damaiken. Ia maen pegang orang poenja lengan tangan bagean atas seraja bilang tentang "misverstand"(salah sangka) dan sebagenja. Itoe Belanda makin beringas. Mendadak Koen Hian beriken ia satoe tojoran jang tepat kena moeloetnja jang besar. Itoe Belanda djatoh doedoek dengen moeloet berdarah. Ia bangkit poela; Koen Hian soedah sedia, tetapi sebaliknja dari itoe ia balikin badannja dan teroes masoek kekamarnja lagi, kami dengen enak menoedjoe kaloear dan toenggoe didepan toko apa jang sekiranja hendak dilakoeken oleh itoe Belanda jang sombong. Kita sedia boeat segala boentoetnja, tetapi tida ada aksi atawa dateng polisi.
Dalem perdjalanan poelang saja tanja Koen Hian ia bermoela maen pegang2 orang poenja lengan atas "goewa maoe kir doeloe spiernja. Ternjata lembek seperti godir. Djadi goewa tojor sadja!".
Taon 1924 di Soerabaia masih terbit satoe soerat kabar lama, jalah "Bintang Soerabaia". Jang paling toewa ada "pewarta Soerabaia" (1905), jang asal moelanja dipimpin oleh Kommer, seorang Belanda jang djoega mendjadi bapa kebon binatang di Soerabaia. Kommer moelai piara binatang2 sebage kesoekaan dan baroe belakangan ia operken pada "gemeente" Soerabaia baik jang "Pewarta" maoepoen jang "binatang" tentoe sadja tjara mengarangnja stijl koeno. Hal mana ditjeritaken oleh orang jang mempoenjai tjerita...... begitoelah oemoemnja rentjana2 dimoelai. Kalaoe menoeroet oekoeran sekarang, pembatja bisa keboeroe tidoer setengah djalan. Tetapi jang tarik perhatian, jalah bermoela soerat2 kabar itoe dipimpin oleh... Tjina Betawi. Karena di Djawa Timoer waktoe itoe tjina jang bisa melajoe Betawi ada djarang sekali dan djoesteroe melajoe Betawi dianggap sebage jang paling enak di batja atawa didengar. Oemoenja "Tjina Djawa" melajoenja dikatakan kasar dan koerang moerni. Ditaon 1924 saja bekerdja dalem redaksi "soera poeblik" jang dipimpin oleh Liem Koen Hian. Pada soeatoe hari oleh Tjoa Jan Hie, kepala tata oesaha soeratkabar kami (administratoer namanja doeloe) dibawa mertamoe boeat beladjar kenal diroemahnja pemimpin redaksi "Bintang Soerabaia" jang tinggal di Gombong sajoeran. Djarang diantara kita jang tinggal dikampoeng Belanda waktoe itoe. Ini hoofdredacteur ada tjina Betawi, Phoa Tjoen Hway, tetapi karena ia djadi Belanda staatsblad, maka namanja ditoelis Th. H. Phoa djoenior, soepaia bisa dibedaken dengen kakaknja, Tjoen Hoat. Jang djoega mendjadi Belanda anderhalve pop ( satoe setengah goelden, oewang kertas segel diatas nama ada disahken beslitgelijkstelling). Namanja ini kakak ditoelis sebage Th. H. Phoa senior, ia djoega bekerdja sebage djoernalist jang paling belakangan sebage hoofdredacteur Sin Tit Po Soerabaia, pendjelmaan dari Sin Po Ost Java editle. Laris apa tida tjina betawi?
Haroes diakoei toean roemah terima kedatengan kami dengen tjoekoep ramah tamah, disoegoei teh dan biskoewit. Tjoema jang bikin djengkel saja si djoenior poenja sombong. Ia pikir tjina djawa bisa dimaen seroedoek sadja oleh tjina betawi. Mereka anggap diri sendiri menpoenjai tjoekoep banjak "geestelijk overwicht" (kelebihan kepandean djika maoe disalin setjara merdeka), hingga djoernalist jang baroe moentjoel seperti saja dianggap sebage boeloe kalong jang dengen gampang bisa ditioep poelang pergi menoeroet sesoekanja jang tioep "soedah 20 taon owe bekerdja sebage djoernalist! Katanja "Boeat ko Thiam Tjing jang baroe moentjoel masih lama sekali haroes beladjar tjara bagaimana soesoen seboewah karangan jang sekiranja berharga boeat di batja". Kalaoe pembatja djadi saja merasa enek apa tida? Ketika balik di "soeara poeblik" toelisan pertama saja tik beroepa gamparan bagi si Djoenior, pada siapa kasih ini nasehat, satoe kerbaoe jang tarik peloekoe 20 taon lamanja ia tetap tinggal satoe kerbaoe dan tida bisa meloengsoengi sebage petani. Pada Jan Hie belakangan ini djoenior bilang : "Thiam Tjing itoe tjina apa? Datang roemah Owe diterima dengen baek, sampe dikantornja Owe digasak habis2an". Ini permoelaan dari clash saja dengen djoenior dan belakangan senior ikoet2an djoega. Doea, senior dan djoenior roepanja goenaken krojokan sjstem. Dan tentoe sadja si senior djoega dapet bageannja. Menoeroet tjara dahoeloe, tarik oerat begitoe bisa mendjalar sampe saling "odol-odolan". Apa jang bisa dirogoh keloear, isi kantong , isi peroet, isi apa sadja. Dan pembatja? Pembatja dengen keloearga dapet kesenengan hati sepoeas2nja. Dan tjoema bajar 20 sen sadja tiap soerat kabar terbit. Oewang langganan doeloe anam goelden.
Sunday, October 23, 2005
“Nederland in Nood” (II_TAMAT)
(II)
Asistent Resident sendiri dengen separo lari keliatan mendatengin. Sementara orang jang tadinja dikira djoega seorang tjina keliatan naek dikerosi sembari pentangken benderanja sebesar sapoetangan didada "Djapan" ia bilang dengen tenang. Keadaan mendjadi sirap waktoe liat asistent resident, itoe orang Djepang toeroen dari kerosinja dan datang padanja seraja protes perboeatan orang sebawahannja jang maen tendang-tendangin medja djoedi.
Kalaoe permaenan djoedi dilarang, kenapa baroe sesoedah liwat 5 malem. Dan kalaoe kamoedian dilarang, toch larangan itoe tida perloe diberiken beroepa maen tendangin orang poenja medja. Djoesteroe kedatengan ia dan kawan2nja adalah boeat bantoe merameken pasar malem jang diadaken boeat koempoel dana bantoean oentoek Nederland. Ini semoea dioetjapken dalem bahasa "Melajoe" jang kedengarannja teges sekali, sembari tangannja toeding pada kain jang dipasang antara doea tiang bamboe dengen toelisan "Nederland in Nood! Wie helpt?".
Asistent resident keliatan berbitjara sebentar sama jang baroe ditempiling, kamoedian samperin itoe orang Djepang dengen siapa ia berdjabatan tangan sebage tanda perkara "salah mengerti" dibikin habis sampe disini sadja.
Perdjoedian "pasang djaroem" tida diadakan lagi dan itoe orang Djepang dengen kawan-kawannja Tionghoa pada berkoempoel di satoe restaoeran boeat makan minoem dengen gembira sekali.
Asistent Resident sendiri dengen separo lari keliatan mendatengin. Sementara orang jang tadinja dikira djoega seorang tjina keliatan naek dikerosi sembari pentangken benderanja sebesar sapoetangan didada "Djapan" ia bilang dengen tenang. Keadaan mendjadi sirap waktoe liat asistent resident, itoe orang Djepang toeroen dari kerosinja dan datang padanja seraja protes perboeatan orang sebawahannja jang maen tendang-tendangin medja djoedi.
Kalaoe permaenan djoedi dilarang, kenapa baroe sesoedah liwat 5 malem. Dan kalaoe kamoedian dilarang, toch larangan itoe tida perloe diberiken beroepa maen tendangin orang poenja medja. Djoesteroe kedatengan ia dan kawan2nja adalah boeat bantoe merameken pasar malem jang diadaken boeat koempoel dana bantoean oentoek Nederland. Ini semoea dioetjapken dalem bahasa "Melajoe" jang kedengarannja teges sekali, sembari tangannja toeding pada kain jang dipasang antara doea tiang bamboe dengen toelisan "Nederland in Nood! Wie helpt?".
Asistent resident keliatan berbitjara sebentar sama jang baroe ditempiling, kamoedian samperin itoe orang Djepang dengen siapa ia berdjabatan tangan sebage tanda perkara "salah mengerti" dibikin habis sampe disini sadja.
Perdjoedian "pasang djaroem" tida diadakan lagi dan itoe orang Djepang dengen kawan-kawannja Tionghoa pada berkoempoel di satoe restaoeran boeat makan minoem dengen gembira sekali.
Thursday, October 20, 2005
“Nederland in Nood” (I)
INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
"Nederland in Nood"
(I)
Hampir di achir taon 1914 di Eropa Barat mendadak berkobarlah api paperangan jang maha dahsjat. Nederland masi oentoeng tida kerembet, tetapi karena adanja ditengah-tengahnja, tentoe sadja djoega ikoet rasaken panasnja. Bisa dimengerti koemandang dari djeritan ini terdengar djoega di Hindia Belanda. Dimana-mana didiriken badan2 pengoempoelan bantoean dan derma dengen sembojan "Ieder cent is welkom" (tiap sen aken diterima dengen senang hati).
Dalem hal beriken bantoean tentoe sadja kota Toeloeng Agoeng djoega tida maoe katinggalan. Di taon itoe saja memang tinggal di Toeloeng Agoeng dan sekolah disana. Di aloen-aloen depan roemah asistent resident diadaken pasar malem. Boeat kami, anak2 di zaman itoe, pasar malem ada tontonan jang istimewa menariknja karena memang tida ada jang laen. Ada soenglap, ada loedroek, koeda kepang, rejok, moezik tandjidor, stamboel dan laen-laen. Belon dihitoeng banjaknja restoran dan waroeng.
Diantara begitoe banjak tontonan terdapat djoega permaenan djoedi "pasang djaroem" jang banjak sekali tarik perhatian. Di atas seboewah medja ketjil dipasang taplak jang soedah digambar dengen angka2 seperti jang bisa diliat dimedja rooelet. Ditengahnja ditaroh sematjam setandar dengen diatasnja dipasang melintang bamboe ketjil. Pada salah satoe oedjoengnja diikat benang dibagean jang menggelantoeng di atas taplak tadi terdapat satoe djaroem. Para penonton diandjoerin oentoek taro tombokannja di nomor jang dipilih, kamoedian standar dipoeter dan jang toeroet pasang dengen penoeh perhatian toenggoe di nomor mana oedjoeng djaroem itoe berenti. Karena djoesteroe dinomor mana oedjoeng djaroem itoe berenti, pemasangnja dapet kombali oewang tarohannja 5x lipet. Sama sekali ada terdapet 5 medja "pasang djaroem" begitoe semoea berkoempoel disatoe lingkaran. Keramean boeat koempoelken oewang goena bantoe Nederland dapet perhatian besar sekali dari pendoedoek dari segala tingkat dan kaoem. Europeanen, Vreemde Oosterlingen dan Inlanders, semoea djadi satoe. Boeat pembatja zaman sekarang saja pikir baik diterangkan sebentar dengen Vreemde Oosterlingen itoe (orang timoer asing) dimaksoedken pendoedoek Arab, Tionghoa, India dan sebagenja. Kalaoe diwaktoe itoe andai kata dari fihak kita ada jang kemoekaken boeat ganti perkataan Europeanen dengen Vreemde Oosterlingen saja rasa boemi seperti hendak maoe ambles, begitoe heibat meledaknja hawa moerka fihak "sana". Tetapi pembatja tida oesah koeatir, tida ada moerka jang meledak karena tidak ada kadjadian jang begitoe. Fihak "sana" masi sedang djaja-djajanja, fihak "sini" adem, tentrem, ajem dan nerimo. Satoe soeasana jang ideal boeat kolonisatie.
Akan balik pada pasar malem, soedah 5 malem semoea berdjalan dengen menjenangkan. Penonton dateng dengen berdoejoen-doejoen, ketika mendadak terdjadi satoe hal jang saja anggep pantas dikenang disini. Kendati itoe kadjadian soedah 57 taon jang laloe. Dari djoeroesan roemah asistent resident ada keliatan mendatangin seorang lelaki Belanda jang masih moeda dengen di iringin oleh "ndoro" dono kota. Ia pake pakean preman, tetapi dari halnja ia di-ikoetin oleh wedono kota, ia sedikitnja ada Kandjeng Toean Kontelir.
Kedatengannja Belanda moeda itoe pasti dengen toedjoean tertentoe, karena ia langsoeng pergi kebagean "pasang djaroem". Sasampenja disana zonder oetjap barang satoe patah, ia maen tendang itoe 5 medja "pasang djaroem". Penonton pada betereak dan moendoer ketakoetan, itoe kawanan orang tjina jang oesahakan permaenan "pasang djaroem" pada siboek koempoelin doeitnja jang tersebar dimana-mana karena medjanja ditendang. Tetapi apa jang tadinja dikira tjina ternjata tida semoeanja. Satoe dari mereka tida perdoeliken lagi medjanja, tida perdoeliken doeitnja jang tersebar. Ia dengen tindakan mantep samperin itoe orang Belanda jang tadi obral tendangannja.
Ketika soedah sampe dihadepannja, tangan kanannja sebage kilat tjepatnja bergerak dan itoe pipi kirinja Belanda terima gamparan jang keras djoega. Kalaoe ditilik dari soeara itoe tempilingan datang. O, pembatja zaman sekarang tida bisa bajangken itoe semoea. Ambroeknja belon tentoe bisa bikin aloen-aloen djadi begitoe gempar seperti waktoe itoe. Kandjeng Toean Kontelir ditempiling? Ja Toehan! Ja Goesti!.
Iboe (II-TAMAT)
(II)
Sesampenja dihadepan iboe saja berloetoet dan tjioem ia poenja kedoea loetoet. Tida barang satoe perkataan jang dioetjapken olehnja; tjoema matanja sadja jang teroes padang saja dari atas sampe bawah, tiga empat kali tangannja oesap2 kepala goendoel saja , kamoedian dengen gerakan tangan ia soeroeh saja doedoek di bangkoe depan, persis menghadep ia. Iboe tida perhatiken siapa sadja jang berada disekiternja; ia tjoema pandang saja moelai dari kaki ajam sampe pada kepala saja jang goendoel. Ini kepala goendoel memang satoe koeadjiban; ketika ramboet saja mesti di "millimeter" saja sengadja minta ditjoekoer. Ingin tahoe bagaimana rasanja. Sedari ketjil saja soedah tida pernah ditjoekoer goendoel "lagi". (berarti Opa pernah dikoentjir nah.... ketahoean hehe)
Kasoedahannja, batoek pilek sampe satoe minggoe lamanja, boeat hiboerken hatinja, saja toetoerken padanja seriboe satoe tjerita, sampe poen si Gareng jang kebetoelan lewat, saja tjangking sekali. Tetapi semoea itoe tida digoebris oleh iboe; ia poen tida tanja apa2 tapi dari matanja jang teroes mengembeng aer, saja tahoe bagaimana sedih dan perih hatinja waktoe itoe.
Iboe saja ada seorang jang beribadat zonder menganoet agama jang tertentoe. Tiap pagi dan malem ia biasa menghadep langit (Thian) dan memohon ampoen dan pentoendjoek dari Tuhan jang Maha Esa. Kamoedian ia sodja 12x. Saja bisa bajangken bagaimana pengharepannja atas diri saja, sebage anak lelaki jang pertama, jang diharepken bisa mendjadi senderan di hari toeanja; ia selaloe memohon agar saja bisa diparingi pikiran baek dan didjaoehin dari segala perboeatan djahat. Ketika saja diterima sebage moerid dari "Eerste Europese Lagere School di Malang" (satoe hal jang loear biasa boeat taon 1907) girangnja Iboe saja tida ketoeloengan. Ia harep anaknja besok, karena bisa bitjara Belanda aken dapat kadoedoeken jang loemajan dalem pergaoelan hidoep. Ia soedah bajangken satoe waktoe ia aken bisa ramalken anaknja mendjadi "toean Sep" dari satoe kantor dagang Belanda jang besar. Lantas menikah, ia bisa pangkoe tjoetjoenja jang pertama. Bagaimana bahagianja adanja Ia! Tetapi sekarang, itoe semoea impian, itoe semoea pengharepan hilang moesna. Jang ketinggalan, jang ia bisa liat dengen teges, jalah anaknja sebage orang perantean didalem pendjara. Dan jang tida lama lagi aken di "boewang ke Betawi". Dari poentjak boekit jang indah dan permai dibanting djatoh masoek dalem djoerang penoeh loempoer.
Sebisa-bisanja saja tjoba hiboerkan iboe saja dengen bilang, djangan sedih, toch lagi beberapa boelan saja soedah merdeka lagi. Masi sadja iboe tinggal boengkam. Gelas dari katja-matanja keliatan amat boeram karena aer mata. Saban2 ia kepaksa gosok katja itoe dengen goenaken oedjoeng kebajanja, sebab sapoe tangannja basah semoea.
Ketika djam mertamoe soedah habis, kombali saja berloetoet dihadepannja dan merangkoel serta tjioem loetoetnja. Tiga empat kali tangan iboe oesap2 kepala saja, kamoedian dengen tepok poendak saja ia soeroeh saja berlaloe. Sembari menangis sesenggoekan, ia remas2 tangan saja. Ketika saja berlaloe, Iboe masih doedoek di bangkoenja. Sembari teroes awasin anaknja jang sebentar lagi aken hilang dari pemandengannja sebab dialing-alingin oleh tembok gang jang menoedjoe sel saja. Waktoe hendak membiloek, saja berenti dan berpaling kedepan dan lambaiken tangan pada Iboe jang masih doedoek seperti terpakoe di bangkoenja. Ketjintaan soeatoe Iboe memang tida mengenal batas!
(TAMAT)
Iboe
INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Iboe
(I)
Dipermoelaan boelan Djoeli 1926 saja disoeroeh dateng dikantor directeur pendjara Kalisosok. Sesampenja disana soedah ada menoenggoe griffier van Justitie jang dengen resmi batjaken pada saja, atas nama Sri ratoe, sasoedahnja, mendengar dan seteroesnja, menimbang dan seteroesnja,achirnja soedah diambil poetoesan, hoekoeman2 jang didjatohken oleh Landraad Soerabaia pada diri saja boeat mana tadinja saja minta naek banding, semoeanja ditolak dan hoekoeman2 Landraad dikoeatken. Jang mana berarti saja mesti djalanin habis hoekoeman 3 boelan dan 6 boelan pendjara, semoea direken moelai tahanan preventif. Boeat penerangan pembatja, kalaoe seorang hoekoeman statoes Inlander naek banding dipengadilan jang lebih tinggi dalem hal ini Raad van Justitie, jang dikirim soerat2nja sadja dan poetoesan djoega diberiken atas pertimbangan boenjinja sorat2 itoe. Orang jang bersangkoetan tida perloe oendjoeken diri.
Karena naek banding saja soedah di poetoesken, maka kebrangkatan saja ke pendjara Tjipinang haroes dilakoeken selekas moengkin. Ja itoe dipertengahan boelan Djoeli. Oleh "Koen Hian" orang toea saja dikasih tahoe tentang ini dan di hari Minggoe penghabisan jang saja masih boleh terima tetamoe di Kalisosok ada datang disana..............Iboe saja. Dengen diantar oleh sanak pamili terdekat Iboe saja...... Iboe jang belon pernah koendjoengin saja dalem pendjara karena, tida tahan liat anaknja jang ditjintai sebage orang perantean. Sedari saja ditangkep pada tanggal 3 Djanoeari 1926, setahoe berapa banjak malem ia pasti tida bisa tidoer; setahoe berapa banjak aer mata jang dikoetjoerken sendirian dikamarnja. Saja tahoe sebage anak lelaki jang soeloeng menoeroet tradisi jang berlakoe di kalangan masjarakat Tionghoa zaman itoe, saja jang paling dimandjakan, paling diagoel-agoelken, kendati menoeroet pendapat saja, tida ada barang satoe alesan kenapa saja mesti dibedaken dengen saoedara2 saja jang laen. Poetoe lelaki jang pertama dari pihak nenek, anak lelaki jang pertama dari sang Iboe. Dan sekarang mendjadi perantean. Habislah segala impian dan angen2 jang pernah dikandoeng selagi menoenggoe saja mendjadi dewasa. Moengkin bisa mendjadi dokter, djadi kepala dari peroesahaan dagang jang besar; setida-tidanja bekerdja sebage "sep" dari toko Belanda. Makloemlah bates pengharepan orang toea zaman itoe tida begitoe loeas seperti adanja apa jang bisa ditjapai oleh generasi moeda zaman sekarang. Dalem kalangan pamili saja, masi hidoepnja kaoem toea, tradisi "koeno" menoeroet istilah sekarang, masi di djoengdjoeng tinggi.
Oempama dalem peraja`an Imlek, kaoem moeda masi selaloe "sodja-koewi" 12x dihadepan orang toea dan sanak jang setingkat dengen mereka. Dan menoeroet kebisaan dalem oepatjara begitoe sajalah jang mendahoeloein sebage poetoe dan anak lelaki jang pertama, jang tertoea. Baroe disoesoel oleh jang laen, jang lebi moeda. Tetapi ditaon 1926 orang toea saja menangis terima pemberian selamat Imlek dari anak2 jang laen. Karena anak harepannja berada dalem pendjara. Djoega waktoe menikahnja saja poenja doea saoedara prempoean, pasti iboe dan ajah saja mandi aer mata. Dan sasoedahnja alamken itoe semoea penderitaan, di hari Minggoe itoe kombali Iboe saja alamken siksaan bathin jang heibat dengen datang sendiri ke pendjara boeat tengok, boeat pertama dan penghabisan kali poeteranja jang "katanja maoe diboewang Belanda di Betawi". Ajah tida ikoet; maoe liat berangkat saja sadja. Selagi di hari Minggoe itoe saja dihantar ke depan di bangkoe2 boeat bagean tetamoe, masi ada di "gang" dari djaoeh saja soedah liat Iboe saja. Ia doedoek lempang dibangkoenja; tida bergerak barang sedikit. Matanja teroes ditoedjoeken kepada saja jang mendatengin dengen pakean perantean. Telandjng kaki, tjelana kolor, tida pandjang tida pendek; berbadjoe gedombrangan, kepala goendoel dengen ikat kepala dikaloengken di leher sadja.
Wednesday, October 19, 2005
Tetap Bodoh Lebi Baik (II-TAMAT)

(II)
Anak2 dahoeloe, bila dibandingken dengen anak2 generasi sekarang, masih golongan tjebol, kuntet, dan kebanjakan koeroes2 sadja. Sikap mereka sedikit banjak oendjoeken sikap rasa takoet. Apa lagi djika berdekatan sama orang2 Belanda, lebi takoet dari pada seoempama berdekatan sam setan pedjadjaran. Ini semoea memang hasil dari pemandengan hidoep dan pendidikan. Apa djoega jang bisa diharep dari anak2 jang orang toeanja tjoema bisa djongkok dan sembah sadja, tjoema bisa mendjoerah dalem sekali sampe koentjirnja via poendak menggelantong di depannja sasoedah di perdom poelang pergi. Tida ada pergerakan badan, tida ada vitamin A sampe moengkin Z, tida ada makanan istimewa seperti sekarang. Jang ada "sego wadang iwah tempe" atawa boeboer dengen sedikit ketjap. Maka itoe bisa dimengerti mengapa anak2 di zaman saja ada dibawah oekoeran dibandingken dengen anak2 sekarang.
Kalaoe saja mertamoe di roemah pamili atawa diperkenalkan pada anak atawa tjoetjoe mereka, oemoemnja ini anak2 dari belasan taon ada lebi tinggi, lebi lebar dadanja daripada saja, baik jang lelaki maoepoen jang prempoean. Hasil dari makanan, pergerakan badan dan pandengan hidoep. Liat sadja orang Djepang zaman sekarang mana ada jang masih kate dan djalan mekar-mekor. Djoega sekarang tida bisa diketemoeken lagi singke jang dengen toeboehnja setengah bongkok merentang merenting tjoba tjari djalannja. Diantara tjoetjoe saja sendiri, oesia 16 dan 15 taon, mereka soedah lebi tinggi badanja dari pada saja. Rasa takoet jang didasarken atas kebodohan memang haroes lebi banjak dikasihani dari pada ditertawakan. Kendati toch ada bagean2 jang tida bisa timboelken napsoe ketawa kita. Tjoba pembatja tolong ambil tahoe tentang ini kedjadian.
Sesoedah lebi dahoeloe "toean dokter kapten" dateng di roemah boeat preksa adik prempoean ajah saja , satoe gadis dari 16 taon waktoe itoe, ia soeroeh bibi dateng diroemahnja oentoek diberi obat soentik. Obat soentik.....? Adoeh....! semoea pamili jang toea2 pada koempoel oentoek ambil poetoesan, apa baik bibi di soentik, atawa tetep minoem obat sinshe jang soedah ternjata tida "djodoh" seperti djoega dengen halnja si Pak Giman, doekoen kampoeng di Kotalama. Remboek poenja remboek achirnja diambil poetoesan boeat hantar bibi ke roemah toean dokter kapten. Ini toean dokter kapten ada dokter militer, satoe-satoenja tabib jang dimasa itoe, taon 1907, bisa didapat di Malang. Begitoelah di hari jang soedah ditetepken bibi saja, dengen diapit oleh doea pamili prempoean jang toea masing2 pada pegang lengan tangannja si bibi jang doedoek ditengah, pada naek kereta "milor" jang ditarik oleh doea koeda dengen si koesir doedoek dibangkoe depan.
Bibi keliatan doedoek dengen tondoek, boekan karena ia sakit berat, tetapi meloeloe sebab sebage "perawan jang dipingit" toch tida pantes ia maen meliat kesana kesini; Nanti orang loear aken kata apa....? dikereta kedoea doedoek nenek saja dengen disebelahnja ada iboe saja, sebage anak mantoe pertama jang dalem hal2 penting seperti pergi keseorang dokter Belanda, tida boleh ketinggalan diadjak. Dan dibangkoe depan, sebelah koesir ada penoelis dari ini kenangan jang hari itoe kombali paksa minta bolos dari sekolah. Dan seperti biasa kemaoeannja (hehe...he..) ini anak jang terlaloe di mandja (ngakoe neh jah.!), karena poetoe laki "mbarep" dan poetera "mbarep" (jang pertama) diloeloesken. Sebab "koh sahno". Sebab koh kasian dan kasian sjstem ini jang bikin saja dalem soal peladjaran mendjadi kodok boekan.....kintel boekan.
Dibelakang masih ada kereta ke tiga boeat bawa saoedara lelaki dari kakek saja jang waktoe itoe soedah lama wafat. Begitoelah rombongan kita, dengen goenaken 3 kereta masing2 ditarik oleh doea koeda "tedji". Koeda besar berangkat ke roemah toean dokter kapten, memoeloe boeat ambil obat soentik.
Rasa takoet berdasar atas kebodohan......! Gambarnja seperti jang diterangken diatas. (TAMAT)
Tuesday, October 18, 2005
Tetap Bodoh, Lebih Baik
INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Tetap Bodoh, Lebih Baik
(I)
Soal peladjaran dipermoelaan abad ini, apa lagi sebelonnja, ada sanget menjedihken. Djika saja bilang sanget menjedihken, dimaksoed boeat kita golongan Inlander. Boeat golongan Nederlander tentoe ada laen; ini saja tida tahoe. Boeat apa jang lazim dinamaken Inlander ada dibediriken pesantren (atas oesaha pendoedoek sendiri); sampe lama baroe ada hoofden school dibeberapa kota jang besar; tetapi di hoofden school itoe jang bisa diterima sebage moerid meloeloe anak priaji golongan pamong pradja. Kalaoe sang bapa sedikitnja pangkatnja asisten wedana (`ndoro asten) keatas, baroe si anak (jang laki2 sadja) bisa masoek hoofden school jang dalem dasarnja ada seperti sekolah rendah biasa. Mas Tom (Dr. Soetomo) waktoe moelai masoek di Large School di Bangil bermoela djoega alamken kesoelitan boeat diterima sampe achirnja ia haroes ganti namanja mendjadi Soetomo.
Boeat `vreemde Oosterlingen jang satoe dimaksoed pendoedoek golongan Arab, ini saja tida tahoe, tetapi boeat vreemde Oosterlingen jang lain, dimaksoed pendoedoek golongan Tionghoa bermoela djoega tida ada apa2 jang mirip sama apa jang dinamaken onderwijs. Tjoema di kalangan pamili jang "atasan" anak lelaki dikasih beladjar toelis dalem hoeroef Tionghoa dan disoeroeh apalken pepatah2 peladjaran Khong Hoe Tjoe. Pembatja jang golongan toea tentoe ada jang masih inget itoe kitab "Tjoe wat hak dji tee iet" (Khong Hoe Tjoe bilang, peladjaran ada jang paling oetama).
Peladjaran diberiken oleh satoe sinshe (goeroe) jang dateng di roemah. Baroe belakangan sesoedah peladjaran mendjadi lebi popoeler sampe diloear kalangan "atasa" dan moelai mendjalar di kalangan "pertengahan", oleh sang sinshe moeridnja diterima diroemahnja sendiri. Batavia boleh bangga mempoenjai Tiong Hoa Hwee Kwan jang paling pertama ditaon 1903. di Malang sendiri Tiong Hoa Hwee Kwan diberdiriken ditaon 1915 disatoe roemah biasa di Petjinan. Saja belon pernah masoek Tiong Hoa Hwee Kwan, tetapi masih bisa bajangken mereka didepan mata. Jang mendjadi goeroe ada Lauw Kwie Hong, beroesia 40 taon keatas. Ia sebelonnja memang dikenal sebagai orang jang "batdji", tahoe tentang kesoesastraan Tionghoa. Dandanannja sepatoe tiongkok, tjelana kompriang poetih, badjoe sianho warna hitam bergemerlap, kadang2 pake kopiah, koentjir nja selaloe klimis. Belon pernah Lauw Kwie Hong berdandan serampangan seperti jang laen. Anak2 moeridnja djoega berpakean seragam, tjelana poetih dan sianho poetih dan pake topi roempoet jang diban dari kaen hitam ada di tjantolken hoeroef Tiong Hoa Hwee Kwan, dibikin dari tembaga. Koentjirnja poen keliatan di sisir klimis. Begitoe goeroe begitoe moerid!
Meliat timboelnja begitoe banjak roemah sekola, barang kali Kandjeng Goebernemen koeatir nanti alisan mereka tida selaras dengen kamaoeannja, maka kamoedian dimana-mana didiriken Hollands Chinese school (H.C.S.) dan Hollands Inlandse School (H.I.S.) di Malang HCS baroe ada ditaon 1909.
Ini dengen singkat mengenaken soal peladjaran. Dan di bidang djasmani apa jang bisa diliat tjoema nol besar. Saja dilahirken diboelan ke doea dari permoelaan ini abad. Perbandingan dimasa saja masih anak2 dengan keadaan sekarang adalah seperti boemi dan langit lapis toedjoeh. Dimasa itoe tida bisa ada bitjara pasal hiboeran ini dan itoe, kolam renang, bowling, olah raga. T.V, radio, bioscoop sampai rasanja seperti kesandoeng-sandoeng saking banjaknja.
Kalaoe maoe berenang paling2 kita berenang dikali brantas atawa ke "Djending Khong Lok", pemandian ditanah koeboeran. Di depan roemah saja di Kotalama, di sebrang djalanan ada goedang kereta-api, dibelakangnja terdapat tanah sawah jang loeas sekali, tjoema dipotong oleh rail Malang Stootram Maatschappy, jang djalannja begitoe perlahan dan kedengerannja mengkas-mengkis seperti orang jang dihinggapi penjakit astma, sampe oleh rakjat nama potongan MSM diartiken sebage "mbentoer soeseor mandek", saking ladjoenja itoe tram bobrok. Dan di sawah itoe, hanja pake "hansopp" sadja dengen kawan2 sekampoeng dapat banjak kesenengan.
Karena kita dengen bergiliran, oleh pak tani peloekoenja di perbolehkan doedoek di peloekoe di belakang si sampi. Begitoelah sampe lewat tengah hari kita main di sawah dan poelang dengen dari atas sampi bawa penoeh loempoer, atawa kalaoe lagi hoedjan, dengen telandjang boelet lari-lari di djalanan besar (jang kebanjakan sepi sekali) dengen moeloet diboeka selebar bisa boeat tadah djatohnja aer hoedjan. Tontonan tida ada, paling banjak "Ketek Ogleng" jang datang di roemah ke roemah, komedi "Tjia-im", wajang tjina dan stamboel.
Di Malang taon 1905 di roemah sekola Tiong Hoa Hwee Kwan boeat pertama kali saja pernah saksiken pertoendjoekan "gambar hidoep" (bioscoop). Di lajar poetih lebi dahoeloe tida keliatan apa2 tjoema titik hitam seperti hoedjan gerimis. Kamoedian keliatan satoe kebon dan moentjoelah nona Belanda jang bawa siraman aer. Mantjoernja aer bisa diliat teges ketika si nona toeangken siraman kebawah. Tentoe sadja semoea pertoendjoeken pendek itoe ada bisoe, tetapi halnja aer bisa keliatan mantjoernja, itoe jang bikin penonton2 pada garoek2 kepalanja. Kamoedian gelap lagi, karena pertoendjoeken gambar hidoep poen sampe disini sadja. Tetapi apa jang diliat itoe mendjadi boewah toetoer di kampoeng tjina sampe satoe minggoe lebi. Teroetama kaoem wanita jang tida bosan2nja mendengarnja, teroetama mereka jang oleh "adat pingit" memang djarang boelh kaloear roemah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
