Seoea toelisannja Opa kwee soedah pindah ke sini http://tjamboek28.multiply.com/

Tuesday, November 22, 2005

Oegal-Oegalan (TAMAT

INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Oegal – Oegalan
(I)
Kalaoe menoeroet istilah Soerabaia adegan oegal-oegalan dimaksoedken kekanak-kanakan, anak2 tanggoeng jang berangkat besar tetapi jang masih lama sabeloem bisa dibilang masoek dewasa. Dalem bahasa Belanda “Kwajongens steken uithalen”, oegal-oegalan kata orang Soerabaia, anak2 dalem oesia belasan taon kadang2 memang kenakalannja hampir meliwatin bates, inipoen bisa dimengerti karena dalem kaadaan djiwa begitoe, oemoemnja mereka tersoeroeng oleh kainginan oendjoeken keoenggoelannja terhadep kawan2 jang lain. Tjoema sajangnja, kaoenggoelan boekan dibangkoe sekolah, tetapi disepandjang djalanan oemoem, teroetama diwaktoe malem.
Saja sendiri diwaktoe malem sehabis nonton selagi poelang dengen kawan2 sering maen sambitin genteng roemah2 jang besar dan poenja pekarangan loewas. Tjoema ingin oedji siapa diantara kita jang bisa lempar batoe paling djaoeh. Hal banjak gentang2 pada pitjah dan penghoeni kaget boekan kepalang, ini ada oeroesan mereka sendiri boekan ? atawa kita pada nonton bioscoop dengen masing2 soedah bawa persediaan tjoekoep barang2 dari “toko Hientjret” jang djoeal delem boengkoesan ketjil sematjam obat boeboek jang bisa bikin orang gatelan setengah mati; atawa “stinkbom”, satoe mertjoen banting ketjil, tetapi begitoe meledak timboelken bebaoean jang batjin sekali hingga orang moentah2 di tempat itoe djoega.
Kita ambil tempat doedoek dikelas atas, lebi disoeka dibawah kipas angin listrik, bila pelem soedah moelai dipoetar kita keloearken boengkoesan obat gatel itoe dan pegang boengkoesannja jang soedah diboeka di depan kipas angin. Tanggoeng obat boeboeknja bisa di bawa oleh angin sampe djaoeh djatoh didepan dan disegala djoeroesan menoeroet menioepnja angin dari kipas listrik itoe.
Saja liat satoe njonja Belanda jang soedah toea keloear dan pergi kebawah lentera boglamp. Saja ikoetin ia dari belakang dan kamoedian mendekatin itoe njonja boeat poera2 tanja apa jang ia lagi tjari.
Adoeh....! jij moet zien toch! Die kwanjongens alweer! Kata ia sembari tjaboetin boeloe2 obat gatel jang dengen tegas bisa diliat lagi berdiri dikoelitnja.
----$$$-----
Di djalan Kotalama disalah satoe roemah bergandengan enam ada tinggal seorang Tionghoa jang soedah toea oesianja. Tetapi bengisnja boekan maen. Bila ia doedoek diserambi depan roemahnja, jang langsoeng menghadep ke djalan besar, does zonder poenja perkarangan apa2, dan kita kebetoelan liwat dan betjanda dengen teman2 sendir, ini empek bentak2 soeroeh kita toeteop moeloet; tida boleh berisik didepan roemahnja.
Kalaoe soedah liwat sedikit djaoeh, kita berenti dan atjoengken kepelan kita ke djoeroesan nja. Gelak ketawa samboet aksinja si toea bangka jang antjam kita dengen tongkatnja serta moeloetnja tida berenti-berenti memaki kita sebage “anak kampoengan jang tida tahoe adat, jang besok kalaoe soedah besar, pasti akan mati di tiang penggantoengan” dan laen2 doa selamat lagi.
Ini `mpek roepanja gemar sekali sam kembang dan tetaneman. Roewangan depannja penoeh dengen pot2 tanah; ada jang besar, ada jang ketjil.
Saja adjak kawan2 jang tinggal di kotalama djoega, boeat berkoempoel pada djam 5 pagi didepan roemahnja si bengis. Dan begitoe kita kamoedian dengen hati2, soepaia tida kedengeran dari dalem, pada djedjer dan toempoek itoe segala pot didepan pintoe jang masih ditoetoep; kalaoe djendela tida perloe; tinggi tjoekoep boeat si `mpek ambil djalan dari sana boeat kaloear. Sesoedah rampoeng toempoek segala pot sampe mendjadi soesoenan tinggi, kita pada toenggoe dengen doedoek dipinggir seberang djalanan.
Pada kira2 djam 6 kita denger soeara kelotakan, padanja pintoe jang akan diboeka, tetapi tentoe sadja sia2. Kamoedian djendela diboeka , baroe keliatan si `mpek melongok kekiri kekanan dan achirnja tahoe jang pintoe tida bisa diboeka karena terhalang oleh toempoekan pot2. roewangan depannja bersih, tida katinggalan barang satoe bidji.
Makian2 jang dihamboerken dari moeloet si `mpek tida kalah derasnja dengen lahar jang dimoetahken oleh goenoeng Keloed. Kita sendiri tida bilang apa2, poen tida ketawa, tjoema liatin adja aksinja si `mpek seperti lagi nonton bioscoop. Sampe achirnja salah satoe boedjang keloear via djendela dan moelai singkirken itoe segala pot. Baroe dengen tenang kita pergi sesoedah lebi dahoeloe mendjoera tiga kali dihadepan si `mpek jang keliatan boewas sekali!
(Adoeh-adoeh......opa Kwee bandelnja.........)
Tetapi baek saja tida landjoetken penoetoeran pasal oegal-oegalan sematjam ini lebih landjoet, karena boekan maksoed saja oentoek kasih “koeliah” pada anak2 kita tjara bagaimana anak2 dahoeloe poenja oegal-oegalan.
----$$$----
Akan balik pada maksoed saja jang sabermoela. Ja itoe penoetoeran pasal tjara oegal-oegalan nja orang2 jang soedah tida bisa digolongken pada anak2 lagi. Di taon 1925 saja toelis di “Soeara Poeblik” pasal nona Tionghoa jang moelai hoendjak aliran modernisatie via segala cream, bedak dan setahoe apa lagi.
Diwaktoe itoe belon ada model boeloe mata tempelan. Boeat ambil gampangnja saja djoeloekin model saja dengen nama Bertha Oei. Saja pilih ini nama tjoema begitoe sadja, zonder poenja maksoed tertentoe.
Apa maoe, di esok paginja saja terima tilpon dari seorang jang beri nama “Toean Oei, pegawai tinggi gemeente Soerabaia”. Ini siangsing tinggal di Van Deventerlaan (sekarang gentang besar) jang mendjadi ajah dari si Bertha Oei dalem toelisan saja. Sekarang toean Oei ingin tanja, kenapa Soeara Poeblik berani toelis tentang gadisnja, Bertha.
Saja terangken pemilihan nama Bertha Oei tjoema kebetoelan sadja, sama sekali tida ada hoeboengannja dengen gadis Toean Oei, jang kita tida kenal, seperti djoega toean Oei sendiri jang masih asing bagi kita. Tetapi soepaia mendjadi lebih memoeasken berdoea pihak, saja djandji aken dateng di roemahnja diantara 3 sampe 4 sore. Begitoelah pembitjaraan dengen tilpon ditoetoep.
Koen Hian poen njataken maoe ikoet pergi, ingin tahoe bagaimana matjamnja ini Oei siansing jang bermoela bitjara di tilpon soedah moelai dengen bilang : “Meneer Oei, hooggeplaatst ambtenaar van de Gemeente Soerabaia”, Toean Oei, pegawai tinggi gemeente Soerabaia.
Kalaoe pembatja terima tilpon begitoe tentoe reaksinja akan sama seperti kita poenja. Ingin liat matjamnja si Oei siansing, pegawai tinggi gemeente Soerabaia, atawa petigesoe kalaoe menoeroet tjara sekarang.
(II)
Begitoelah deket djam 3 lohor kita panggil kosongan (kereta mylord jang ditarik oleh doea koeda seperti jang waktoe itoe banjak di Soerabaia) dan berangkatlah keroemahnja Oei siansing petigesoe. Ketika liat kita dateng, Oei siansing, jang tadinja pake pijama dan doedoek diserambi depan, boeroe2 samperin kita dan silahken kita doedoek doeloe. Ia kamoedian minta permisi toeker pakean.
Kadatengan kita tentoe saja pake djas “geblkan” (terboeka) dengen dasi dan topi sekali, jalah Borsanilo saja jang kamoedian ikoet hanter saja dalem perdjalanan teboes dosa di pendjara Tjipinang via idem Djokja dan idem Tjirebon. Tida lama kita doedoek djongosnja Oei siangsing kaloear dengen bawa baki-baki gelas minoem dan satoe stopples tinggi, di-isi padet dengen sigaret Clysma dan Maspero, doea matjam sigaret Egypte jang terkenal di masa itoe dan harganjapoen mahal djoega, 3 goelden per blik isi 10 batang.
Sasoedah djongos masoek, Koen Hian dan saja boeroe2 gasak itoe Clysma dan Maspero jang dikasih masoek dalem kantong djas, hingga sampe katinggalan tjoema seporoh stopples. Kamoedian Koen Hian dan saja pada doedoek diam seperti tida ada kadjadian apa2.
Oei siansing moentjoel dengen djoega pake djas boeka komplit dengen dasinja. Dengen ramah tamah dan manis boedi ia silahken kita minoem. Kamoedian ia angkat itoe stopples, boeka toetoepnja dan silahken kita ambil sigaret.
Tetapi pembatja boleh pertjaja jang Koen Hian dan saja haroes goenakan antero kamaoean kita boeat tindas napsoe ketawa dan tarik moeka biasa. Dan boeat itoe memang meminta will power jang loear biasa kalaoe liat tampang moekanja si Oei siansing.
Ia seperti orang ragoe2, siapa jang bisa dipertjaja, apa si djongos jang pandjang tangannja. Kalaoe tetamoenja masa ja......?. Mereka ada redactoer dari soerat kabar, penjaran dan pembimbing pikiran dan aliran masjarakat; orangnja pantas, sopan dan terhormat. Tetapi rasa ragoe2 masih tetep ada dikandoeng olej si Oei siansing, selagi saja terangken padanja asal moelanja toelisan saja dengen goenakan itoe nama Bertha Oei.
Dengen penoeh paerhatian ia dengerkan keterangan saja tetapi toch rasa ragoe2nja masih tetep ada. Pandangan matanja kadang2 dari stopples lari ke djoeroesan bawah medja, seolah-olah ia harap achirnja bertemoe banjak sigaret jang hilang dengen gaib, ternjata datoh di djoebin. Atawa dari stopples rokok pandangannja ditoedjoekan pada si djongos jang keloear lagi boeat bawa limoen baroe. Tetapi dari sorot mata dan aer moeka kentara betoel belon pernah ia sangsiken tetamoe2nja jang toch tergolong orang-orang terkemoeka dalem pers, sopan, terpeladjar dan terhormat....!.
Achirnja kita orang berpisahan dengen beriken rasa poewas pada Oei siangsing mengenakan poetrinja, si Bertha. Tetapi belon poewas dalem hal hilangnja Clysma dan Maspero sampe setengah stopples, seperti jang bisa kita liat ketika dalem “kosongan” kita berpaling kebelakang lagi dan saksiken bagaimana Oei siansing, pegawai tinggi gemeente Soerabaia, masih berdebat dengen djongosnja sembari garoek2 kepalanja.
Ketika “kosongan” achirnja membiloek kekanan, ke djoeroesan Gemblongan, baroe Koen Hian dan saja berani ketawa bergelak-gelak dan terpingkal-pingkal sampe si koesir berentiken koedanja boeat tanja, kita hendak kemana? Inilah namanja oegal-oegalan jang semestinja soedah tida dilakoeken lagi oleh kita, jang kendati soedah dewasa toch “`ndah bisa gerajangi djitoknja” kata orang Soerabaia.
Sebenernja, baik Koen Hian maoepoen saja, kita berdoea sedari doeloe soedah sehidoep semati dengen djanda van Nelle (jang keloearken tembako shag van Nelle jang terkenal; ini pendjelasan boeat tjegah salah mengarti). Sigaret Clysma dan Maspero terlaloe enteng boeat kita. Kalaoe toch kantong kita berdoea penoeh dengen sigaret terseboet, ini meloeloe disebabkan karena hendak oegal-oegalan sadja.
Pada soeatoe hari pengoeroes Tionghoa SiangHwee Soerabaia (perserikatan perdagangan) minta saja datang di gedong SiangHwee di Tjantian oentoek toeroet badan pengoeroes samboet kedatengannja oetoesan2 SiangHwee dari Shanghai dan Hongkong jang dateng di Soerabaia dengen dihantar oleh wakil SiangHwee Batavia.
Djam pertemoean ditetepken djam 8 malem dan tepat pada itoe djam djoega mereka pada datang dengen menoempang beberapa mobil, kedatengan oetoesan2 dari Shanghai dan Hongkong moengkin bisa membawa kaoentoengan delem perdagangan mereka, maka bisa dimengerti wakil2 SiangHwee disebrang laoetan dengen tjara jang meriah sekali.
Sasoedah penjamboetan diroewang depan selesai, kami semoea ambil tempat doedoek di roewangan persidangan disebelah dalem. Saja doedoek disebelah kanan dari wakil ShiangHwee “kalapa” (Batavia seperti jang biasa dioetjapkan oleh orang Tionghoa jang masih ingat pada Soenda Kalapa, nama doeloe jang diberiken pada Djajakarta alias Batavia).
Orangnja tinggi besar, pake stelan “dongkerblauw”. Jang bikin saja rada mendongkol (mangkel kata arek sorobojo) jalah sikap jang angkoeh dan sombong seolah-olah kota Soerabaia boeat ia tjoema beroepa lapangan roempoet sadja. Sikap begitoe saja balas dengen anggap si dongkerblauw sebage sematjam bajangan jang tida perloe banjak digoebris.
Djoega dalem pertjakapan si dongkerblauw dan saja ibarat aer dan minjak, ia meloeloe goenaken bahasa mandarin dan saja memang `mtjay tedji poen tida kenal barang satoe hoeroef Tionghoa. katjoeali satoe , doea dan tiga jang saja kenal, ja itoe strip satoe berarti satoe, doea strip disoesoen, doea dan soesoen tiga strip ada tiga, kalaoe jang empat djangan tanja. Boeat imbangin tjaranja ia doedoek di kerosinja, saja poen senderkan belakang saja dikerosi serta jang doea tangan ditaroh diatas lengan seolah-olah aksinja-aksinja “radja Tartaar” dari pertoendjoekan stamboel koeno.
(III)
Si dongkerblauw keloearken sebatang rokok tjeroetoe jang besar oekoerannja, zonder tawarkan itoe pada di kiri kanannja. Soedah dibilang sombongnja boekan maen! Dengen pisaoe lipat ketjil ia dengen hati2 potong oedjoeng dibagean jang akan di hisap, kamoedian soeloet dan moelailah toean besar mengeboel. Tetapi baroe sadja ia sedot tjeroetoenja, namanja dipanggil. Artinja si dongkerblauw di oendang boeat angkat bitjara. Ia taroh tjeroetoenja di pinggir medja disebelah saja, kamoedian berdiri dan moelai berpidato.
Apa, saja tida tahoe dan djoega tida ada perhatian sama sekali boeat apa jang dioetaraken dalem bahasa jang saja toch tida paham. Semoea mata di oendjoeken pada si dongkerblauw jang haroes diakoei lantjar pidatonja dengen diselingin oleh mendjogetnja ia poenja kedoea tangan jang sebentar diatjoengken kedepan, keatas atawa dikepal.
Tetapi tangan kiri saja tida kalam tjepatnja bergerak djeridji djambret si tjeroetoe di bawah medja, dioper pada djeridji teloendjoek dan djeridji tengah dari tangan kanan dan sesaat lagi moentjoelah si tjeroetoe di hadepan oemoem. Dengen lagak seperti tjoema tjeroetoe sadja jang saja bisa hisap, saja moelai keboelken asapnja ke segala djoeroesan, djoega ke djoeroesannja si dongkerblauw, jang masih mendjoget ketek ogleng di pinggir medja.
Achirnja ia habis berpidato jang dapet samboetan tepok tangan jang rioeh sekali, djoega dari saja jang toeroet bertepok tangan selagi bibir tjangkeram oedjoeng si tjeroetoe jang kepaksa di gigit djoega karena berat rasanja. Tida koeat kalaoe mengandalkan pada djepitan bibir meloeloe.
Begitoelah si dongkerblauw doedoek lagi. Tetapi ia tida berani tanja apa2 pada saja jang dengen enak senderkan belakang saja di kerosi sembari toendjoeken mata saja ke orang ramai dan kadang2 pasang omong djoega dengen orang disebelah kanan saja. Si dongkerblauw keliatan melirik ke bawah medja tetapi tjeroetoenja masih tetep invisible, hilang moesnah tampa bekas. Satoe waktoe roepanja ia penasaran hingga ia tarik moendoer kerosinja boeat liat kebawah. Hasilnja tetep satoe nol. Boeat toedoeh saja ia tentoe tida ada alesan. Masa satoe “Taypiauw”, satoe wakil maoe sedot iapoenja tjeroetoe bekas dihisap? Toch boekan tjoema ia sendiri jang hisap tjeroetoe ?.
Tida lama kamoedian persidangan ditoetoep dan kita moelai berpentjaran. Begitoe saja dapat ketika saja lempar si tjeroetoe tjilaka kedalem selokan. Moeloet dirasakan panas dan paitnja boekan maen.
Dan inilah oegal-oegalan jang seharoenja saja tida lakoeken lagi. Tetapi apa boleh boeat. Saking inginja hadjar adat sedikit pada si dongkerblauw!
-------$$$-----
Satoe minggoe lamanja saja liwatkan tjoeti saja di Malang, kamoedian balik lagi ke Soerabaia ke roemah pondokan saja. Waktoe itoe saja masih boedjang. Sorenja saja keloear lagi boeat ke Koen Hian jang saja tahoe ada tinggal di Vardon park, Kalisari. Di park terseboet memang terdapat sekoempoelan roemah2 tinggal jang besar dan semoea berada dalem satoe park milik seorang Jahoedi bernama Vardon. Maka djoega diberi nama Vardon park jang dikelilingin tembok tinggi. Tjoema bagian jang mendjoeroes ke Kalisari ada terdapet pintoe roedji jang teroes tinggal terboeka.
Sesampenja, disana dan selagi hendak ke roemah Koen Hian, saja berpapasan dengen seorang jang ketara sekali ada seorang Jahoedi. Ini mesti si Vardon jang saja sendiri belon kenal.
Ia tanja saja tjari siapa dan ketika saja bilang Koen Hian, mendadak aer moekanja si Jahoedi berobah. Ia pegang lengan kanan saja dan tjoba tarik. Dengen bikin gerakan mendadak, saja lepasken pegangannja dan bilang pada si Jahoedi, saja tida bisa boeat maen di gelendeng oleh siapapoen djoega.
Ternjata jang ia itoe benar ada Vardon, tetapi saja tida ambil pedoeli. Ia boleh 10x Vardon dan 10x memiliki ini roemah2, tetapi ia tida berhak maen pegang lengan orang seolah-olah datang saja sebage satoe pentjoeri. Dapat dampratan begitoe ia berobah mendjadi sedikit djinak, tetapi nada marah ia kata:
“Koen Hian,......... Koen Hian......” itoe redaktoer tai! Mari toean ikoet, saja kasih tahoe.
.......Redaktoer tai......!”
karena mendjadi ingin tahoe, maka saja ikoet si Vardon. Ia poenja orang agak pendek tetapi gemoek, hingga ketika bertindak tjepat, dari belakang bokongnja keliatan mental-mentoel ke kiri ke keana; hampir2 saja ingin beriken tendangan jang keras.
Redaktoer tai.....! pasti Koen Hian ada lakoeken apa2 hingga si Vardon sampe mendjadi begitoe kalap. Sampe di roemah jang memang saja soedah kenal, ternjata itoe roemah soedah kosong. Vardon adjak saja masoek, dan boleh dibilang di tiap kamar, sama sekali ada lima, di roewangan deepan dalem dan belakang, di tiap pintoe dan djendela, malah djoega di tembok2 Vardon toeding dimana tadinja ada terdapat..........tai manoesia, toean! Tai manoesia, tjoba toean pikir......! redaktoer......tai....!.
Pasti kamoe berboeat apa2 terhadep ia, kata saja...
Koen Hian saja kenal baek, kalaoe boekan kamoe jang moelai dahoeloe Koen Hian tida akan berlakoe begitoe.....”
“Itoe redaktoer tai bilang saja terlaloe sering datang menagih sewa oewang, terlaloe tjerewet ini tida boleh, itoe tida boleh......!.. menerangkan Vardon.
Kalaoe begitoe ada sebabnja sampe Koen Hian berlakoe begitoe. Biarpoen roemah ini milikmoe, satoe kali dikasih sewa, kamoe ada orang asing di roemah ini,....mengarti...! awas sama Koen Hian kamoe djangan gegabah laen kali boekan roemah ini jang dilaboer tai, tetapi kepalamoe sendiri...!
Dengen berkata begitoe saja tinggalken si Vardon dengen pikirannja. Ia awasin saja dengen moeloet terboeka; maoe bertindak ia koeatir djoega liat sikap saja. Ia pikir ini orang potongan toekang maen tojor, seperti si redaktoer tai.
Tjoema jang saja tida mengarti dari mana Koen Hian bisa koempoelken begitoe banjak kotoran manoesia sampe bisa laboer djoebin, djendela dan pintoe malah tembok sekalipoen.
Ketika achirnja saja ketemoe Koen Hian di roemah baroe di djalan Kemoening, dengen ketawa ia toetoerken sengadja ia laboer roemah si Vardon dengen barang istimewa itoe boeat kasih hadjar adat sedikit pada si Jahoedi jang tida tahoe atoeran. Masa, menagih pagi gagal siangnja dateng gagal sorenja moentjoel, malah pernah kadjadian di malem hari. Tida pedoeli ada tetamoe atawa tida dan tjerewetnja boekan maen. Tanam ini tida boleh, potong itoe tida boleh. Semoea haroes “report” lebi dahoeloe. (TAMAT)

Bahasa Bogem Mentah (VI- TAMAT)

(VI)
Ketika poetri Joeliana menikah dengen pangeran Bernard, tentoe sadja kadjadian itoe dirajakan diseloeroeh Hindia Belanda, djoega poen di Bandoeng tida katinggalan, Hoo Hap dan Hong Gie Soen masing2 keloear dengen Barongsay, Liong dan tjengee (kereta berhias). Dalem arak-arakan ini Hoo Hap djalan didepan dengen diikoetin oleh Hong Gie Soen dibelakangnja; Hoo Hap ada golongan Oh (hitam), djadi dianggap lebi toea sedang Hong Gie Soen ada Ang (merah) jang lebi moeda. Begitoelah ita ikoet serta dalem rombongan pendoedoek laen jang merajakan perakrakan jang pandjang sekali.
Ketika Barongsay dan Liong Hoo Hap masoek dipekarangan residen dengan diikoeti oleh tiengge, Hong Gie Soen masih ada didjalanan besar, toenggoe gilirannja, djadi waktoe Barongsay dan Liong Hoo Hap keloear dari pekarangan residen dan berada didjalanan besar lagi, mereka berpapasan dengen arak-arakan Hong Gie Soen jang enak sadja maenkan Barongsay dan Liong dengen ambil tempat selebar djalanan boeat poelang. Mereka roepanja sengadja tida maoe ambil pedoeli tjara bagaimana Hoo Hap bisa poelang kalaoe selebar djalan ditoetoep.
Meliat keadaan mendjadi genting, saja koeatir bisa timboel bentrok jang memang soedah lama makin keliatan teges antara Hoo Hap dan Hong Gie Soen, sebage hasil dari.............. hasoetan si Siauw Hie.
Pembatja bisa bajangkan bagaimana waktoe itoe saja ingin sekali gebrakan dimedja masih bisa berkesoedahan dengen menggeloendoengnja kepala. Dan saja taoe kepala siapa jang akan menggeloendoeng! Tida ada laen djalan dari pada saja samperin twako, djiko dan shako Hong Gie Soen jang waktoe itoe dengen sikap menantang sengadja liatin saja Barongsay dan Liong mereka oendjoekan tari silatnja.
Sesampenja dihadepan mereka, dengen pendek saja minta diboeka djalan karena arak-arakan Hoo Hap hendak poelang. Segala resiko dan bentrok ini, Hong Gie Soen jang mesti pikoel tanggoeng djawab. Besok pagi sekiter djam 10 saja akan datang di Hong Gie Soen poenja Kongkwan (roemah perkoempoelan) di Katja2 Wetan. Saja akan datang seorang diri.
Kamoedian saja kasih tanda pada Barongsay dan Liong Hoo Hap boeat teroes djalan ditengah2. kita ingin tahoe Hong Gie Soen berani berboeat apa. Darah soedah lagi panasnja, tetapi oentoeng Hong Gie Soen achirnja mengarti djoega, orang lagi hendak poelang tida pantas ditoetoep djalannja. Dan mereka minggir boeat kasih kita liwat.
Diesok paginja djam 10 tepat saja naek loteng kongkwan Hong Gie Soen, seorang diri. Saja anggep itoe semoea sentrogantol tjoema bisa gertak, tida berani berboeat. Kedatengan saja diterima dengen baek oleh twako, djiko dan shako Hong Gie Soen dan mereka di djaga oleh itoe perkoempoelan poenja Ngo Ho (lima matjan) alias toekang poekoel, djagolah namanja!
Saja sengadja anggap mereka sebage angin. Memang begitoe kita haroes bersikap terhadep orang2 dari kwalitet tjoema begitoe saja. Saja oetaraken pendapet saja tentang perselisihan paham kemaren dan terangkan sekali keinginan dan pengharepan saja agar Hoo Hap dan Hong Gie Soen bisa saling bantoe membantoe boeat kebaekan pendoedoek oemoemnja. Djadi berdirinja doea perkoempoelan ini tida dengen pertjoema.
Sebelon saja berpamitan saja ingin hadjar mereka dengen “gertak londo”. Saja bilang, boleh djadi mereka heran kenapa saja berani datang sendirian. Boeat saja kongkwan Hong Gie Soen ada kongkwan biasa, boekan goa matjan. Dan ..........(inilah gertak londo saja), kalaoe sampe ada apa2 pada diri saja, twako, djiko dan shako, ploes itoe 5 Ngo Ho pasti akan diringkoes oleh polisi. Karena pada polisi saja soedah kasih tahoe tentang niat saja boeat koendjoengin kongkwan Hong Gie Soen. Tetapi ini tjoema gertak londo sadja. Tentoe sadja saja tida kasih tahoe polisi jang akan datang di kongkwan Hong Gie Soen, nanti polisi anggap apa tentang ini “gekke Chinees”?
Dari pertjakepan pendek di kongkwan saja bisa tarik kesimpoelan bahwa antara Hoo Hap dan Hong Gie Soen makin menroentjing, semoea disebabkan oleh si Siauw Hie jang mendjadi tjoemi2nja. Maka itoe saja ambil poetoesan akan bitjara dengen Siauw Hie dengen goenakan satoe matjam bahasa jang ia tentoe akan mengarti. Ja itoe bahasa bogem mentah!
Dan kebetoelan pada soeatoe pagi, selagi liwat di djalanan di belakang Hotel Semarang, saja berpapasan dengen si Siauw Hie jang ditemanin seorang Tionghoa jang saja tida kenal. Siauw Hie berbadan besar dan keliatan sehat sekali. Saja tahan ia dan saja tanja apa benar ia siarkan matjam2 omong kosong tentang diri saja. Bermoela ia tjoba poengkir, tetapi karena didesak, achirnja sembari peloek tangan ia dengen sikap sombong tanja: “en wat wil jij?”
Apa jang goewa maoe?.......INI....! djawab saja sembari tondjok moeloetnja dengen bogem kanan sementara bogem kiri tjari peroetnja sebage sasaran. Siauw Hie tida kira jang saja akan goenakan ini bahasa. Waktoe moekanja toendoek karena peroetnja dihamblek, bogem kanan saja hadjar ia dibagean matanja. Siauw Hie keliatan sempojongan dan ini digoenakan oleh saja boeat hadjar djidat, djanggoet, hidoeng, moeloet dan mana sadja dengen “roffel bogem kiri kanan. Achirnja ia djatoh doedoek.
Saja bilang padanja, saja bersedia boeat segala akibatnja dan kamoedian tinggalkan si koentjoek sendirian. Sobatnja soedah lama ngatjir tak tahoe kemana.
Pada djam 2 lohor dari hari itoe saja dapet panggilan dari kantor polisi dideket masdjid di Aloen-aloen. Ketika saja sampe disana, oleh inspectoer politie, jang memang saja kenal, saja dikasi tahoe Siauw Hie mengadoe jang saja poekoel ia dengen goenaken “krakeling” atawa boks beugel.
Ini ada bohong baroe, kata saja. Saja belon pernah hadjar orang dengen goenakan krakeling. Tjoba toeloeng pereksa tangan saja, nanti saja hadjar ini orang dihadepan toean. Bisa di tjotjokan apa bendjol sebesar telor ajamdi djidat akan sama besarnja atawa tida dengen jang baroe. Boekan salah saja djika ternjata bogem saja ada lebi keras dari koelitnja si semproel ada lebi lembek.
Achirnja Siauw Hie mengakoe salah soedah sengadja siarkan segala omong kosong tentang saja. Perkara djoega diachirkan sampe disini sadja. Kadang2 bogem mentah ada bahasa jang paling bisa dimengerti, teroetama oleh mereka jang berkwalitet seperti hengtee saja jang TERTJINTA. (TAMAT)

Kalaoe Semproel Djadi Ratoe

INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Kalaoe Semproel Djadi Ratoe
Soedah dibilang dalem tjatetan saja doeloean, tanggal 8 Maret 1942 tentara Djepang moelai masoek dan doedoeki kota Malang. Hari itoe boleh ditjap dalem boekoe hikajat sebage hari djempol jang diatjoengken keatas, baek oleh pihak Nippon sendiri, maoepoen oleh pihak kita. Boleh dibilang Malang dibandjiri oleh tentara Djepang dari banjak pendjoeroe hingga dalem tempo tida lama ibarat kata tida bisa bertindak barang satoe djangka atawa soedah mesti kesandoeng soedara toea kita.
Saja sampe diroemah dan tentoe sadja keloearga banjak girang hati kendati poelang saja sebage petjoendang, berpijama, dan kaki ajam. Sesoedah ganti pakean saja keloear lagi. Keadaan kota masih lebi ramai dari waktoe di Malang banjak terdapat serdadoe Amerika, Ostrali, dan Inggris, sedikit waktoe sebelon Belanda tekoek loetoet, toko2 pada diboeka, toekang2 djoealan hilir moedik, katjoeng2 pendjadjah rokok pada lari sana sini. Sesampenja di Pandhoeistraat (sekarang djalan pegadean) saja nampak satoe barisan pemoeda Indonesia bawa bamboe roentjing dan bendera merah poetih. Mereka roepanja hendak toeroet merajakan djatohnja Belanda dan bangoennja Dai Nippon jang toch mendjadi soedara toewa, pemimpin, pelindoeng dan tjahaja Asia, paling tida menoeroet sirkoelernja sendiri.
Tetapi kita orang jang toeroet saksiken mendjadi sanget ketjewa ketika liat bagaimana satoe opsir Djepang jang lewat dengen Jeep serta bawa serdadoe-serdadoe bersendjata komplit, mendadak berenti dan rampas bendera jang dibawa dan semoea bamboe roentjing, kamoedian perentahken pemoeda2 itoe haroes boebar. Baik opsir maoepoen serdadoe masing2 pake kaen poetih dengen hoeroef Djepang warna merah dilengan kiri.
Bermoela kita tida ambil poesing sama tanda kaen poetih dengen hoeroef merah begitoe, tetapi tida laam hoeroef merah itoe lebi ditakoetin dari pada segala djerangkong dan demit, sebab hoeroef merah itoe tanda dari Kempetai, pembatja!. Polisi militer Djepang!
Saja teroesin perdjalanan saja sesampe didepan Rex bioscoop, saja liat satoe pandoe Indonesia, komplit pakean seragam dengen tali leher jang beroepa kaen merah poetih. Ia mendatengin satoe serdadoe Djepang jang berdiri dengen kedoea tangannja pegang senapan ploes bajonet dalem “aanvals positie”, menoeroet istilah resminja.
Itoe pandoe kasih “saluut”-nja tetapi didjawab dengen perkataan “khoerah......khoerah......” kembali pandoe kita madjoe beberapa tindak dan “saluut” lagi .....”khoerah..........khoera......... kata si serdadoe. Tetapi waktoe liat pandoe itoe masih sadja datang lebi dekat, ia pegang senapan dengen tangan kiri dan tangan kanannjasetjepat kilat digoenaken boeat tempeleng si pandoe jang sial itoe.
Roepanja tempelengan itoe tjoekoep keras djoega karena pandoe kita djatoh tjelentang dan seperti orang lagi lingloeng liat kanan kiri seolah-olah hendak tanja apa jang soedah terdjadi. Kita kaokin ia boeat pergi sadja, nasehat mana tentoe ditoeroet.
Ja .... Goesti, siapa jang waktoe itoe taoe bahwa “khoerah...khoerah” dalem bahasa Djepang sama sadja artinja seperti “pergi....pergi....”
Tetapi masih ada lain kadjadian jang lebi tragis. Di trotoar depan roemah gadai di Pandhoeistraat ada satoe serdadoe Djepang, djoega dengen bawa senapan dan bajonet terhoemoes. Dari djoeroesan aloen-aloen ada mendatengin satoe hadji jang naek sepeda, boeat merajaken hari gembira berhoeboeng sama datengnja sang soedara toewa, sepeda dibagean stir dihiasin dengen doea bendera ketjil, satoe merah poetih , satoe bendera Djepang. Ketika datang dekat si serdadoe, pak Hadji toeroen dari sepedanja jang ia toentoen sembari saban2 mendjoera dalam ke djoeroesan dimana serdadoe Djepang itoe berada. Ketika soedah dateng dekat serdadoe Djepang itoe tahan sepedanja pak hadji dan bendera merah poetih itoe ia tjaboet dan robek-robek, tetapi ia tida marah, barangkali tjoema hendak kasih taoe soesoenan warna merah poetih dibendera jang di robek-robek tadi ada kliroe.
Meliat ini boeroe2 pak hadji tjaboet bendera Dai Nippon jang ia kontan djoega robek2......... (mampoes nga toeh ?); barangkali ia pikir bendera tida boleh ditantjepken disepeda.
Meliat ini si serdadoe tida bilang apa2 lagi, hanja balikin senapan dan dengen gagahnja ia habek iga pak hadji sampe doewa kali dan kamoedian teroes mengelojor pergi, seolah-olah tida ada kedjadian apa2. Tinggal pak hadji dengen merintih dan napas sengal2 dibantoe boeat menjingkir kelaen tempat.
Di djalan Indoestristraat, tida djaoeh dari Kotalama, saja liat dengen mata kepala sendiri bagaimana banjak orang lagi berkroemoen di sekiteran majat seorang lelaki Indonesia jang beroesia kira-kira 30 taon, majat itoe dibediriken dengen diikat kedoea lengannja pada pager kawat berdoeri. Dadanja toendjoeken satoe loeka padjang bekas goresan bajonet. Di dekat kepalanja jang terangkat naek sebab ramboetnja diikat keatas terdapat papan dengen toelisan “Hoekoeman orang jang berani tjoeri”. Dari lobang hidoeng, moeloet dan koeping majat itoe ada keloear banjak semoet hitam. Itoe majat soedah 2 hari diikat disana, tetapi jang mengherankan, jalah tida berbaoe boesoek atawa bengkak, masih tetep keliatan rapih dan langsing. Poen dari potongan romannja orang bisa tebak moestahil jang di hoekoem masoek golongan pentjoeri biasa.
Di Wilheminaplaan (sekarang djalan Dr Tjipto kalaoe tida salah) dibekas sekolah MULO ada ditempatkan golongan opsir Belanda jang ditawan. Dari djalan besar orang dengen moedah bisa liat siapa sadja jang ada didalemnja. Pada soeatoe hari ada liwat disana satoe wanita Belanda dengen naek sepeda (zaman mereka maen Aoeto-aoetoan soedah lewat). Apa maoe, sethoe siapa jang ia gapein tetapi selagi tangannja masih diatjoengken diatas boeat kasih tabe, perboeatannja dapat diliat oleh serdadoe djepang jang lagi djaga.
Itoe wanita diperentah berenti dan kamoedian diikat dipoehoen pinggir djalan jang menghadepin roemah sekolah dengen lebi dahoeloe ditelandjangin boelat2. Dan ini boeat doea hari doea malem lamanja. Pembatja bisa bajangken sendiri bagaimana sengsaranja itoe wanita dan orang2 Belanda jang ditawan dalem roemah sekolah itoe. Mala orang jang kebetoelan liwat toeroet merasa terharoe dan sakit hati meliat bagaimana boewas dan kedjemnja sang semproel beriken hoekoeman pada pelanggaran jang begitoe tida berarti. Kendati sepoeloeh............... lagi berperang. (TAMAT)

Wednesday, November 16, 2005

Bahasa Bogem Mentah (V)

(V)
Pekerdjaan di Mata-hari djalan seperti biasa. Ada kalanja repot, ada kalanja sepi. Tjoema kadang2 seperti biasa, saja kalaoe dirasa perloe, djewer djoega koepingnja “DJAWA TENGAH” dan “Warna Warta” doea soerat kabar Tionghoa-Melajoe jang terbit di Semarang.
Belakangan sekali, waktoe tinggal di Djakarta saja pernah berkenalan dengen seorang dokter gigi, she Be, asal Semarang. Dengen ketawa ia bilang, saja doeloenja sering kali maki maki ajahnja Be, directoer dan hoofdredactoer “Djawa Tengah” terangken ia ketika liat aer moeka meroepakan satoe tanda tanja, saja ketawa waktoe diingatkan pada itoe tempo selagi “taroeng” dengen koerang adjarnja ba “Be” seperti jang saja seboet ajahnja.
Saja tjoema bisa hiboerken dokter gigi jang simpatiek orangnja bahwa sebenarnja orang jang saja maki, haroes bersoekoer jang nasibnja baek. Kalaoe orang dimaki di soerar-kabar, oemoemnja orang djadi marah, djengkel, sakit-hati, enz, enz, does waktoe itoe ia menderita, dan djoesteroe adanja penderitaan lebi dahoeloe, diatas dosanja akan dikoerangin. Dan saja , karena kasih djalan boeat orang jang bersangkoetan dipotong dosanja saja poen berdjasa dan poen akan dikoerangin dosa saja.
Boekan itoe ada sama baiknja boeat berdoea pihak?
Kembali pada itoe “bentoeknja jang sekarang”, djika diwaktoe pagi saja sisir ramboet didepan tjermin, seperti makin lama makin tegas saja liat hoeroef2 di djidat saja “Opportoenist”. Poen dari Soerabaia dan dari beberapa tempat lain saja kadang2 terima soerat dari kawan2 seperdjoeangan saja jang pada kasih selamat dan diharapkan agar peroet saja bisa lekas gendoet dan badan gemoek sehat walafiat; soepaia lekas mirip satoe kapitalis sedjati. Ada djoega jang kirim kartoe pos sadja dengen dibelakangnja ditoelis “Hidoeplah Chung Hua Hui”!
Tentang isi semoea saja bisa tida ambil poesing, tetapi jang lebih mengelisahkan jalah perasaan sendiri, seolah-olah saja ini seperti “overlooper” sebage penghianat jang lari masoek barisan moesoeh; jang djilat kombali segala apa jang pernah saja oetarakan, baek dalem toelisan maoepoen dalem pidato. Karena adanja ini perasaan, tentoe saja itoe “bentoek” jang soedah ditjor dengen beton makin lama makin “mereteli”. Dan achirnja tjopot djoega si gigi jang soedah oglak-aglik. Tjoema saja keloear dikasih etiket bagoes, ja itoe “reorganisatie”.
Begitoelah saja si “landlooper” dengen bawa keloearga mengelondong lagi, kali ini ke Bandoeng, dimana saja bermoela tinggal di Gardoedjati, akan kamoedian pindah ke Toeindorp deket Grote Lengkong. Dan kombali saja djadi djoernalis merdeka boeat beberapa soerat kabar. Oleh sobat2 saja diminta boeat mendjadi anggota “Hoo Hap” jang kantornja ada di Gardoedjati djoega.
Hoo Hap ? saja tahoe; Hoo Hap ini masoek golongan perkoempoelan jang salem masjarakat Tionghoa dikenal sebage Thien Tee Hwee (perkoempoelan langit dan boem), djiplakan dari Thien Tee Hwee begitoe jang moelai didirikan di Tiongkok ratoesan taon berselang. Asalnja memang sedari zaman Bwantjioe takloekin dan doedoekin Tiongkok dan oesir pamerentahan bangsa Han. Didirikan dan didjiwain oleh 5 orang jang diperingati sebage Ngo Tjo (lima orang tertoea). Oleh ini 5 orang pentjinta bangsa dan negara perkoempoelan rahasia begitoe disebarkan disegala pelosok Tiongkok oentoek dengen kekoeatan bersama tjoba toembangken pemerintahan Bwantjioe, si pendjajah tadi.
Bwantjioe jang paksa bangsa Han, sebage tanda penakloekan, pake koentjir boeat jang lelaki dan kaki jang sedari masih ketjil diikat kentjeng2 boeat jang perempoean.
Maksoed pendirian Thien Tee Hwee memang moelia, tetapi dalem prakteknja, perkoempoelan2 rahasia ini meroepakan pesaing maha hiebat oentoek saling reboet kekoeasaan dan pengaroeh dalem sendiri. Hingga atjap kali sampe timboelken penjerangan dan pertoempahan darah; toedjoean asal diloepakan saking tergila-gilanja pada pemoedjaan dan keagoengan oentoek diri sendiri.
Baroe taon 1911, dengen dioesirnja kaisar Bwan jang penghabisan, swan Thong, dari tachta, Tiongkok mendjadi Repoeblik dengen Dr. Sun Yat Sen sebage presiden jang pertama.
Seperti diatas soedah dibilang, Thien Tee Hwee djoega tersebar sampe keloear Tiongkok, dimana sadja ada hidoep orang2 Tionghoa. djoega tentoe sadja poen di Indonesia. Bisa dimengerti jang di loear Tiongkok seperti di Indonesia, persaingan oentoek reboet kekoeasaan dan pengaroeh anatar Thien Tee Hwee2 begitoe tida sampe menjadi bentrokan setjara besar2an. Karena djoemlah orang Tionghoa terlaloe ketjil dan kedoea tentoe sadja oleh pamerentah jang bersangkoetan kekatjaoean sematjam itoe akan ditindas selekas moelai moentjoel. Tetapi toch persaingan dan penjerangan gelap atawa terang, setjara ketjil2an tida bisa dibasmi sama sekali.
Menoeroet pendapat saja, ini semoea disebabkan karena oemoemnja orang Tionghoa, jang dari kelas bawahan dalem hal pendidikan, kadoedoekan dalem masjarakat, dan keoewangan, ada koekoeh sekali hingga tida gampang bisa boeang hal2 jang oleh pikiran sehat soedah tida bisa diterima lagi, karena soedah tida tjotjoek dengen perobahan zaman.
Dan perobahan2 begini, menoeroet pendapat saja, jang haroes dilakoeken dalem kalangan Thien Tee Hwee begitoe agar pendoedoek Tionghoa dimana sadja mereka berada, bisa djoega bergoena boeat masjarakat oemoemnja. Djangan biasakan diri tjoema bisa terima dan telan sadja segala apa jang baek oentoeknja zonder satoe-satoe kali pernah oendjoeken boedi timbal balik.
Dan tersoeroeng ini kainginan achirnja saja terima baik tawaran dari sobat saja. Ang Tjin Eng jang waktoe itoe mendjadi twako (ketoea) dari Hoo Hap Bandoeng oentoek mendjadi anggota.
Tapi belon tjoekoep doea boelan sedjak saja dengen resmi dalem oepatjara sembajang di depan gambar Ngo Tjo disoempah sebage hengtee (saoedara) dari Hoo Hap, menoeroet kebiasaan jang berlakoe dalem kalangan Thien Tee Hwee, atawa dalen sidang anggota, saja dengen soeara terbanjak dipilih sebage “Djiko” (wakil ketoea) boeat isi lowongan jang terboeka berhoeboeng dengen halnja djiko jang dahoeloe Loa Kioen Poh, oendoerken diri.
Dalem sidang itoe doea kali saja tolak dipilih sebage djiko, dengen alesan saja masih orang baroe dan belon tahoe banjak soal perkoempoelan seperti Hoo Hap, Hong Gie Soen dan lain2 perkoempoelan begitoe memang jang mendjadi ketoea (saoedara jang paling toea), wakil ketoea ada djiko (saoedara toea jang kedoea) serta kepala dari badan commissaris diseboet “shako” (saoedara toea jang ketiga). Dan sebage twako, djiko dan shako memang kita poenja pengahoer besar kendati tjoema dikalangan sendiri.
Di Tiongkok dahoeloe, dalem kalangan perkoempoelan rahasia, begitoe, satoe kali sang twako atawa djiko gebrak medja bisa berarti dipenggalnja kepala dari anggota jang dianggap bersalah melanggar ketentoean jang soedah ditetapkan dalem kalangannja. Tentoe sadja di Bandoeng tida pernah ada kepala anggota jang menggeloendoeng sebab twako atawa djiko gebrak medja. Tetapi toch perintah atawa pengoedjoek jang diberiken oleh twako atawa djiko tida gampang ada anggota jang berani langgar.
Dan djoesteroe karena adanja ini pengaroeh maka keangkatan saja, si orang baroe, timboelken banjak iri hati. Diantaranja terdapat djoega satoe anggota jang memang soedah lama mengiler ingin diangkat sebage djiko. Ini hengtee, saoedara bernama Oh Siauw Hie dan masoek golongan terpeladjar djoega. Ia pandai goenakan bahasa Belanda dengen lantjar sekali dan berasal dari keloearga jang berada, terpeladjar dan terhormat, tjoema sajang, Siauw Hie roepanja dibikin kaloet oleh pikirannja oleh napsoe ingin “mendjagoin”
Didepan saja ia berlakoe baek sekali, tetapi dibelakang saja ternjata ia soeka djoeal moeloet sana sini boeat djelekin nama saja jang ia sangat bentji. Karena kebetoelan saja dipilih boeat itoe lowongan sebage djiko dan boekan ia.
Begitoelah ia djoeal obrolan diloearan, kenapa djoesteroe saja, orang baroe, jang diangkat, kendati..... Thiam Tjing itoe, katanja badjingan, toekang tipoe, toekang angglap dan laen2 tjatjian lagi.
Bermoela saja, ketika dikasih taoe sepak terdjangnja si Siauw Hie terhadap saja diloearan, ganda tertawa sadja. Tetapi makin saja diam, makin Siauw Hie lebi koerang adjar lagi. Ia dibikin panas hatinja oleh orang2 dari Hong Gie Soen, djoega seroepa perkoempoelan seperti Hoo Hap, dengen maksoed agar dalem kalangan Hoo Hap bisa timboel keretakan dan permoesoehan, soepaia Hong Gie Soen poenja pengaroeh bisa terpentang lebi loewas dalem kalangan pendoedoek Tionghoa di Bandoeng.
Tjilaka apa tida....? antara Hoo Hap dan Hong Gie Soen kendati sama2 Thien Tee Hwee, memang dari doeloe soedah timboel gandjelan jang berasal saling iri hati jang di tjap oleh setahoe twako dan djiko jang mana?????.

Bahasa Bogem Mentah (IV)

(IV)
Begitoelah saja si “landlooper” dengen keloearga pindah ke Semarang. Bermoela mondok pada Ting Tjiat di Karenweg, kamoedian pindah di roemahnja sendiri di Progoplein 4. Pakai tilpon dan mobil segala. Katanja Kian Gwan jang tetep ken begitoe. Saja soedah dapet firasat tida enak dan koeatir, “bentoeknja jang sekarang” seperti jang diterangkan oleh Hing Tjiat roepanja boekan “tjoertjoeran beton”, hingga bentoek dari Mata-hari bisa modot, bisa mengkeret, tetapi sekarang apa maoe dikata? Hendaklah “bouw tjay djien sing soe tjay Thian”, kita berdaja, poetoesan berada dalem tangan Toehan, mendjadi sendi hidoep saja.
Pekerdjaan di “Mata-hari” senang djoega. Kantornja tida djaoeh dari roemah saja dan djoega pada kantor soerat kabar “De Locomotief” dimana koran kamipoen ditjitak. Tentoe besar seperti “De Locomotief” dengen oekoeran besar. Hing Tjiat dan saja poenja medja toelis berada dalem satoe kamar, terpisah dari redaksi dan staf jang lain. Kadang2 Hing Tjiat dalem perdjalanannja berikan saja “stof” boeat hal2 jang istimewa dan saja jang “bewerkan” itoe. Karena toh soedah bekerdja di “Mata-hari” tentoe sadja saja satoe waktoe djoega berhoeboengan sama orang2 Conccern diantaranja banjak djoega jang saja soedah kenal dari doeloenja, seperti Dr. Djie Ting Ham, Dr. Djie Ting Liat, Tan Tek Peng , Liem Hwie Giap (jang masih soedara paling moeda dari iboe saja) jang di Soerabaia mendjadi agent dari kantor Kian Gwan di Petjian Koeloen dan.... voorzitter Chung Hua Hui Soerabaia.
Pada soeatoe hari, sehabis dari “De Locomotief”, boeat preksa proefdruk dari Mata-hari saja mampir di Kian Gwan poenja kantor dan masoek kamarnja Tan Ek Kiat, asal Bandjarmasin, dan sekarang mendjadi sep dari satoe tjabang perdagangan. Selagi kita pasang omong tentang ini dan itoe, tilpon berboenji. Ek Kiat jang terima. Mendadak aer moekanja jang tadinja keliatan bergembira berobah mendjadi keliatan sangat merendah.
“Ja, Meneer Tan. Natuurlijk, meneer. Tan ik kom direc. Meneer Tan, Ja ik zal de stukken meenemen, meneer Tan”.
Kamoedian dengen hati-hati ia letakan pendengar tilpon ditempatnja. Aken boeroe2 bikin betoel dasinja dan djambret ia poenja djas serta bawa beberapa soerat. Meliat ini semoea bikin saja inget kombali pada oppas dari wedono kota Toeloeng Agoeng jang djoega terima tilpon jang ia berkali-kali sembah dengen sikep jang amat hormat sekali, sebab diseberang sana jang berbitjara ada “`Ndoro Patih”.
Saja tanja sama Ek Kiat sama siapa ia lagi bitjara? “Meneer Tan Tek Peng roept mij!” djawabnja dengen sikap jang amat goegoep.
“Ja sodemietr! Laat die Tek Peng toch ook en beetje wachten!” kata saja jang soeroeh Tek Peng djoega beladjar toenggoe.
Ek Kiat melorok sembari pake dasi dan djas dan kamoedian dengen separoh lari naek tangga boeat keroewangan atas dimana memang terdapat kantor2 dari pada dewa.....maaf, saja maksoedken directoer dari O.T.H. Concern dan Kian Gwan.
Dasar darah boedak, mengerendeng sadja. Memang roewangan itoe boeat seloeroeh pegawai ada sebage tempat keramat dan angker. Saja poen pernah dateng disana kalaoe hendak ketemoe Ting Ham atawa Tek Peng. Dan berangkat saja langsoeng dari medja toelis saja di Mata-hari dimana oemoemnja saja tinggalkan dasi dan djas. Does dalem keadaan tjoel-tjoelan saja masoek sadja diroewangan angker seperti goanja demit itoe.
Tjoel-tjoelan begitoe memang dianggap melarang tata tertib concern, tetapi tida ada satoe orang jang berani tegor saja sampe dirasa perloe boeat minta bantoean Hwie Giap oentoek menerangken pada saja apa jang mendjadi kebiasaan personil jang hendak menghadep directie. Saja ketawa dan bilang , direksi Kian Gwan boekan directie saja dan sajapoen boekan personil Kian Gwan atawa Oei Tiong Ham Concern.
Pembatja bisa toeroet saraken bagaimana itoe “bentoek” soedah moelai oglak-aglik, seperti gigi toewa, tinggal tjopotnja sadja.
Achirnja dari Djember datang djoega soerat panggilan dari landraad. Saja beritahoeken pada Hing Tjiat dan diesok paginja saja dengen kereta api berangkat ke Soerabaia dan sesampenja distasioen pasar toeri lantas teroesken perdjalanan ke Djember dengen Aoeto. Agar diesoknja djam 8 soedah bisa siap di Landraad sana.
Malamnja di Djember saja menginap diroemah pamili. Dan selama itoe datanglah kawan2 boeat tanja kabaran, diantara siapa terdapat djoega itoe orang Tionghoa jang tadinja kena ditempeleng dan dimake oleh si Brunwijk van Huten. Padanja saja kasih tahoe tida oesah takoet apa2, saja tida aken rembet ia tjoema saja pesan, bila laen kali ia ditempeleng dan dimaki si Belanda tjongkak. Kalaoe perloe saja aken dateng di Djember lagi.
Voorzitter Landraad jang preksa perkara saja ada seorang moeda oesianja, djoega tentoe sadja satoe sardjana Hoekoem, ketika saja soedah terangken bagaimana asalnja perkara dengen si Brunwijk van Huten, jang djoega dateng sebage pengadoean saksi, Voorzitter landraad tanja apa saja bisa madjoeken itoe orang sebage saksi saja karena begitoe menoeroet pertimbangannja, saja aken bisa dibebasken dari si Brunwijk van Huten poenja toedoehan. Ini Voorzitter landraad djoega tawarken boeat toenda persidangan oentoek kasi tempo pada saja boeat tjari itoe saksi.
Saja djawab tida bisa, seraja hatoerken terima kasih pada hakim itoe, jang sepandjang pemereksaan perkara saja saban2 tersenjoem. Apa lagi ketika si Brunwijk van Huten nimbroeng toeroet bitjara boeat oetaraken keloehannja jang belon pernah ia dengar terdakwa (saja) bilang heer atawa meneer waktoe seboet namanja hanja selaloe Brunwijk van Huten sadja. Saja djawab kira2 begini : Toean Voorzitter, dalam wet boek van strafrecht jang tebalnja semoea kita taoe, tidak ada barang satoe oendang2 jang mestikan saja seboet namanja soeatoe orang dengen bilang heer atawa meneer. Ini si Brunwijk van Huten kendati saja kasih gelaran baron tetapi sebage podjokan sadja sebab pandjang namanja, boeat saja tetep si Brunwijk van Huten sadja, zonder heer atawa meneer. Ia tjoema mampoe maen tempeleng dan maki jang ia tahoe tida akan berani melawan apa2. sekarang saja oendang si Brunwijk van Huten, met zonder titel baron pemberian saja, oentoek tjoba tempeleng atawa maki saja. Ia nanti liat kepala siapa jang achirnja akan bendjol dan melepoeh, kata saja sembari dengen melotot awasin itoe Belanda jang haroes di hadjar adat sedikit.
Voorzitter Landraad sampe ambil sapoe tangannja boeat poera2 oesap moeloetnja jang tida apa2. Achirnja saja dipoetoes denda 25 goelden. Sasoedahnja keloear dari roewangan persidangan saja bilang pada si Brunwijk van Huten, dalam sakoe saja masih ada poeloehan kali 25 goelden, tjoekoep oentoek hadjar ia poeloehan kali lagi. Saja oelangin tantangan saja boeat tjoba rabah kepala saja, tetapi si setrogantol pikir lebi baek siang2 dan kamoedian dengen angkat kaki sadja.
Teman2 adjak saja menoedjoe Aoeto saja balik ke Soerabaia oentoek esoknja poelang ke Semarang. Belakangan seseorang kasih tahoe, si Brunwijk van Huten sedari itoe tidak lagi djoeal laga lagi; .............. Achirnja ini matjam Belanda tahoe djoega nomernja

Monday, November 14, 2005

Bahasa Bogem Mentah (III)

(III)
Begitoe lihai adanja “Poopwe” saja hingga saja djaga betoel2 soepaia djimat moedjarab ini tida sampe lolos pada saja. Sehabis sentengah permaenan stand ada kosong lawan 3 boeat kemenangan kesebelasan tetamoe. Dibabak kedoea ditjitak satoe gol lagi.
Katika team Rogodjampi sena 12 pas karena bikin pelanggaran menjerang pemaen kita dengen tjara jang menjolok tjoerangnja, dan selagi Liong Tong, salah satoe speler kita , bikin persedian boeat tendangan bola, mendadak soeasana mendjadi gempar lagi. Darah jang memang soedah gampang mendjadi panas, sekarang mendjadi lebi panas karena tenggorokan seperti tersoempat sebab telan 4 bola dengen beroetoen.
Selagi penonton disekelilingnja diam dan toenggoe dengen tida sabaran bagaimana kesoedahannja tendangan ini, mendadak kedengeran soeara njaring sekali di fihak kita.
“Tembak sadja biar poetoes tangannja!”.
Dimaksoedken, Liong Tong mesti tendang begitoe keras hingga tangannja keeper biar poetoes. TJILAKA.... apa tida? Dengen serentak penonton berdiri , bertreak maki-maki dan gojang-gojang si “BOELOE AJAM”.
Si “Kepala “ lantas saja gandeng dengen erat sekali dan minta ia tereakin orang2nja boeat bersabar. Begitoe meledak marahnja penonton sampe si kepala mesti treak tiga kali sembari atjoeng-atjoengken tangannja kesegala djoeroesan. Sesoedah keadaan mendjadi tida begitoe katjaoe, tendangan sengadja diloepoetken dan saja minta pertandingan di achirkan sadja.
Bermoela fihat toean roemah keberatan tetapi dengen soeara keras hingga semoea bisa denger, saja terangkan, pertjoema maen teroes sedang lima menit lagi soedah mesti diachirkan. Dalem tempo sebegitoe pendek moestahil mereka bisa tjitak gol. Baek permaenan dilandjoetken laen kali sadja agar kita bisa berpisah sebage saoedara jang baek satoe pada laen. Saja oendang oentoek dateng di Djember boeat kita maen lagi disana. Serta saja minta maaf boeat segala kesalahan jang moengkin dilakoeken fihak kita.
Boeroe-boeroe saja soeroeh kesebelasan kita naek oplet lebi dahoeloe dan lantas berangkat. Saja nanti akan menjoesoel dengen oplet jang penghabisan. Si “Kepala” baroe saja lepas sesoedah saja naek di oplet dengen beberapa kawan dan kendaraan moelai berangkat.
Ditengah djalan oplet kita ditimpoekin batoe dan penoempang2nja dimaki-maki. Rogodjampi bisa toenggoe sampe lama bila hendak liat saja dateng lagi dengen bawa kesebelasan.
Sesampe di gedong “Shiong Tih Hui” saja tjari jang siapa diantara kita jang dirinja treak : “tembak sadja biar poetoes tangannja!”. Ternjata jang berboeat begitoe ada Lauw Tjoe Tjiok seorang Taiwan (dia masoek golongan orang Djepang dimasa itoe) jang berkerdja sebage dinest dan tinggal tida djaoeh dari roemah saja. Ia memang “Djiatsim” penoeh semangat terhadap “Shiong Tih Hui” dari siapa ia djoega mendjadi donatoer jang setia. Kalaoe sebage anggota tida bisa sebab Tjoe Tjiok itoe berbangsa Djepang. Saja terangkan pada Tjoe Tjiok jang hampir sadja ia timboelken onar besar, mala bisa mendjadi pertoempahan darah.
Tjoe Tjiok tida tahoe perangi mereka di Rogodjampi itoe. Sebaiknja ia terima tegoran saja itoe, si Tjoe Tjiok ini malah marah pada saja jang ia katakan “boekan lelaki bangsa takoet” dan sebagenja. Saja djawab, kalaoe ia maoe tjari mati, ini ada oeroesannja sendiri dan tida ada satoe orang jang hendak menghalangi. Tetapi tida boleh seret orang2 lain toeroet djadi korban. Kamoedian saja tinggalkan ia balik poelang.
Di esok harinja, selagi saja siboek rampoengken toelisan boeat soerat-kabar Mata-hari di Semarang, atas permintaan Kwee Hing Tjiat jang mendjadi hoofdredacteur, Lauw Tjoe Tjiok masoek diroemah saja. Saja ketawa sadja padanja seperti biasa. Mendadak Djepang “sepoehan” ini seperti jang sering ia digoda oleh kawan2nja, dengen moerka treakin saja “ Bangsat..........! Badjingan.........! Loe takoet sama Hwanna! “ kamoedian sembari meloedah di djoebin ia pergi lagi.
Nah sekarang orang sematjam ini haroes dihadjar adat, pikir saja sembari teroes keloear ke roemah nja Tjoe Tjiok jang memang sajaliat djalan kesana. Sesampenja dipekarangan saja treakin Tjoe Tjiok boeat berenti. Ia balikin badannja dan ambil sikap seperti hendak beklai. Potongan badanja Lauw Tjoe Tjiok memang pasek dan gempal menoeroet istilah di Djember. Ia ada lebih pendek sedikit dari saja dan poen oesianja lebi moeda.
Ketika soedah berhadepan dengan ia zonder boewang banjak tempo lagi, saja tondjok moekanja, dan tondjokan ini boekan tjoma satoe kali hanja saja bikin seri, sampe achirnja Tjoe Tjiok djatoh, saja bongkokin badan saja soepaia ia tarik dasi saja. Dan benar djoega doegaan ini selagi saja tarik toeboehnja keatas sampe moekanja sedjedjeran dengen tindjoe saja, kombali saja timpoek lagi dan kali ini matanja jang digasak. Tjoe Tjiok lepaskan dasi saja dan achirnja ia mengakoe salah.
“Sekarang loe boelh bikin apa jang loe soeka, Goewa bersedia”, kata saja sembari poelang ke roemah.
Satoe minggoe lamanja Tjoe Tjiok tida keliatan montjoel tetapi anak2 bilang , kedoea matanja tertoeteop dan moekanja banjak tanda bondjol. Ketika saja lagi hadjar Tjoe Tjiok memang saja liat ada doewa agen polisi kebetoelan liwat, tetapi mereka mengenalin saja, mereka poera2 liat kelaen djoeroesan dan teroes ngelojor pergi. Kapan saja ini mereka kenal sebage sobat baik sep-nja , commissaris Helms. Djadi boeat apa tjari perkara jang tida-tida. Makloem di kota ketjil seperti Djember itoe waktoe memang moedah kita bisa berlaga seperti “Kodjo-jo-jo—o-o” kata arek Soerobojo.
Tjoe Tjiok sendiri ternjata djoega tida mengadoeh pada polisi. Bener pada saja ada datang doewa orang Djepang jang boeka toko di Djember dan jang saja djoega kenal. Pada mereka saja toetoerken apa jang Tjoe Tjiok soedah berboeat di Rogodjampi. Ia orang memang soedah denger semoea tentang ini. Memang Tjoe Tjiok orangnja tida bisa “djaga moeloet” kata itoe doewa orang Djepang jang poen hatoerken maaf boeat kesalahannja si Tjoe Tjiok jang masoek golongan bangsanja.
Tapi waktoe tentara Djepang soedah doedoeki bekas Hindia Belanda, saja ngeri djoega boeat datang di Djember. Djangan2 disana soedah menoenggoe si Tjoe Tjiok dengen ........Kempetainja.
Oleh Hing Tjiat saja ditawarin boeat doedoek dalem redaksi “MATA-HARI” soerat kabar dari Oei Tiong Ham Concern jang djoega miliki Kian Gwan jang terkenal. Bermoela saja sangsi karena akarnja “Chung Hua Hui”, moesoeh politik dari PTI (Partai Tionghoa Indonesia), djoesteroe tertanam di Concern itoe. Boleh dibilang hampir semoea anggota pimpinan C.H.H. ada orangnja Kian Gwan . tetapi letika dengen kawat Hing Tjiat minta saja datang di Semarang dan terangken pada saja jang “MATA-HARI” dalem bentoeknja sekarang “heeft nists te maken met Oei Tiong Ham Concern of Kian Gwan” djadi pimpinan redaksi “mata-hari” ada merdeka sepenoeh-penoehnja dan terlepas dari tjampoer tangan O.T.H. Concern atawa Kian Gwan, saja minta tempo boeat beroending dengen istri saja sebeloemnja bisa diambil poetoesan tetap.
Sesampenja di roemah soedah ada jang menoenggoe lain sinterklaas tjadeoe. Ternjata si Brunwijk van Huten adoeken saja pada polisi karena dianja saja hinakan ia, bikin nama baeknja mendjadi tertjemar dan laen2 tangisan. Ketika saja datang dikantornja Helms, seorang mentri polisi jang masih moeda terangken pada saja, sebenarnja pengadoean ini soedah lama di madjoeken, tetapi baik wedana kota, commisaris polisi tolak boeat verbal saja. Hingga achirnja mentri jang diwajibken, katanja dengen senjoem seperti hendak minta maaf.
Saja toetoerken pokok pangkalnja permoesoehan antar si Baron dan saja ada terletak dalam halnja itoe orang Tionghoa, jang namanja saja tida maoe seboet, jang oleh Brunwijk van Huten ditempeleng dan dimaki karena berani ketok roemahnja si Belanda pada djam 2 tengah hari boeat kombaliken oewang kelebihan jang soedah dibajar oleh Brunwijk van Huten ketika kirim barangnja per expeditie......................
Sesoedah saja boeboehin tanda tangan pada proses verbaal, saja gasak lagi si baron gadoengan dalem “Pembrita”. Tetapi toenggoe poenja toenggoe pengadoean masih tetep tinggal namanja sadja. Sampe achirnja saja lapor tentang bakal pindah saja ke Semarang dan karena belon tahoe akan tinggal dimana, tolong sadja pemanggilan Landraad dialamatkan pada soerat kabar Mata-Hari Semarang.

Bahasa Bogem Mentah (II)


(II)
Boeat saja pribadi oentoengnja memang ada. Boleh djadi sebab pendapetan bersih dikirim ke Bliden Insituut Bandoeng, jang kenal nama saja sebage secretaris comite, merangkap penerbit "Pembrita" jang djoega diberi advertentie Pasar malem. Maka pada soeatoe hari "Pembrita" dapet advertentie dari Bandoengsche Kinine Fabriek, hal mana jang bikin si Brunwijk van Huten mendjadi lebi gondok lagi tetapi diloear ia tida berani ambil sikap gegabah terhadep saja. Waktoe boeat pertama kali pasar malem di boeka, saja sebage sekretaris oleh comite diminta oentoek berpidato. Makloem, diwaktoe itoe kalaoe mesti mendadak angkat bitjara didepan kandjeng toean resident, kandjeng boepati, kandjeng toean asisstent resident, rasanja tenggorokan dirasaken mendadak seperti kering. Tetapi boeat saja, djoernalist jang selaloe hidoep dalem soeasana merdeka itoe semoea saja anggep biasa sadja. Dan ini hal bikin si Brunwijk van Huten gondoknja djadi kembar. Poen saja oleh comite "dipesen" zonder sewa tanah disekiter pohon waringin ditengah-tengah aloen-aloen (dimana pasar malem diadakan) boeat bikin stand restoran dimana istri saja dengen pembantoe2nja sediaken Soto Madoera (istri saja kelahiran Pamengkasan) dan lain2 makanan, stand jang paling rojal penerangannja, karena oleh.................. di Djember saja dikasih gratis dengen semoea kawat dan bola lampoe Aniem jang kasih pindjam pertjoema.
Doea minggoe lamanja pasar malem diadakan dengen hasil memoeasken. Sampe dengen mendadak si Brunwijk van Huten moentjoel didepan hidoeng saja (ini nguurijk pembatja). Doedoek perkara ada begini : pada soeatoe hari ada datang di roemah saja di Gang tengah, depan Mars Hotel seorang Tionghoa jang mengadoe pada saja ia ditempeleng dan dimaki oleh si Brunwijk van Huten karena ia ketok roemahnja si Belanda pada djam 2 tengah hari oentoek beriken kombali oewang kelebihan bajar ongkos pengakoetan. Itoe orang Tionghoa ada orang jang sederhana, bekerdja sebage pegawai dikantor jang oeroes ekpedisi. Saja tanja kenapa ia tida bales tondjok, ini `nko tjoema djawab, mana ia berani lawan Belanda.
Karena anggap ia tida omong kosong pada saja tentang itoe tempelengan dan mari terbitnja "Pembrita", sekian, maka dihari saptoe (seperti djoega "De Costhoek Bode" ,ini Brunwijk van Huten saja hadjar dalem toelisan seperti jang belon pernah orang Belanda di Djember di hadjar. Dan moelai saat itoe tiap hari saptoe si Brunwijk van Huten dan saja saling maki dan tjatji, menoeroet tjara pesoerat kabaran di zaman itoe. Soedah saja tantang boeat beklai dan tjoba tempeleng saja, djangan pilih Vhinees jang soedah terang boekan tandingannjadalem semoa hal.
Si Brunwijk van Huten karena namanja pandjang saja beri nama Baron Brunwijk van Huten, dengen pendjelasan ini boekan baron toelen tetapi baron gadoengan, tida berani terima tantangan goenaken bahasa BOGEM MENTAH.
Sebaliknja ia tjoba menghasoet pembesar setempat dengen toelis dalem korannja :"in hem herkennen wij de communist van Soerabaia, de op roenkraier en onrustsoker". Ia (dimaksoed saja) kita kenalin kombali sebage komoenis dari Soerabaia pemberontak dan toekang timboelken kekatjaoean. Tetapi hasinja hasoedtan itoe ada nol besar. Boeat bakar hatinja si verlopen baron-baronan dalem "Pembrita saja toelis dalem koendjoengan saja ke roemahnja assistent resident Lens dalem minggoe ini, saja kasih tahoe pada pembesar itoe jang saja akan adaken rapat oemoem di Djember boeat desak pemerintah selekas moengkin pasang ledeng aer boeat pendoedoek di kampoeng oentoek keperloean minoem, masak dan mandi. Kapan itoe waktoe dimana-mana, boekan sadja di Djember bisa didapat aer mantjoer dari lededng boeat isi bak oentoek persedian minoem boeat koeda. Gedenk de diren, spaar de vogels! Begitoelah dioekir dibatoe tegel dari aer mantjoer begitoe. Masa, kalaoe kita diandjoerken boeat djangan loepa sajang binatang dan boeroeng, masa pemerintah masih perloe diandjoerken boeat djangan kasih pendoedoek kampoeng minoem, masak dan mandi dengen goenaken aer soemoer atawa kali jang kotor?
Rapat oemoem itoe dapet kondjoengan banjak sekali orang djoega karena dapet sokongan dari N.U, P.N.I dan laen2 pergerakan.
Tida lama sesoedah pindah di Djember, saja dipilih boeat mendjadi voorzitter dari "Shiong Tih Hui", satoe perkoempoelan pemoeda Tionghoa jang djoega poenja bahagian sepak bola. Disebelah ini saja adaken djoega behagian boeat pertemoean2 dimana anggota2 dapat ketika beladjar ber pidato soepaia diwaktoe2 perloe bisa djoega oetaraken pikirannja dihadepan orang banjak.
Bahagian sepak bola kita dapet banjak kemadjoean sampe achirnja dioendang bertanding di Rogodjampi. Oendangan diterima dan pada hari Minggoe siang kita dengen beberapa oplet berangkat ke Rogodjampi. Belakangan saja menjesal soedah adjak pemain2 kita, jang oemoemnja masih moeda oesianja, kesana. Sebab ternjata pendoedoek boelh dibilang semoea terdiri dari orang2 "Osing", toeroenan djawa Madoera. Orangnja tjoekoep baek tjoema sanget agressif, gampang naek darah dan waktoe liat pertandingan sepak bola jang lelaki semoea bawa "Boeloe ajam" jaitoe pedang pandjang jang dibagian jang tadjamnja sedikit melengkoeng. Mereka pada doedoek bersila di keliling lapangan dan saban kali pihak kita bikin serangan atawa pembelaan bagoes, saban kali mereka ber-treakan sambil atjoengken "boeloe ajamnja". Waktoe boeat pertama kali bentengnja toean-roemah kebobolan, tereakan dan antjaman boekan tjoema bermaksoed dioetjapken sadja. Jang mendjadi ketoea dari kesebelasan toean-roemah ada seorang Indonesia, kira2 beroesia 40 taon. Ia adalah seorang jang simpatik, tetapi ketara sekali di Rogodjampi ia poenja kedoedoekan seperti dimandjakan, ia roepanja tjoekoep kaja, karena ia bisa ongkosin sendiri dari orang2 moeda jang soedah boekan anak2 tanggoeng lagi seperti pemain saja. Rante emas dari arlodjinja jang digantoengin ringgitan emas dari 20 dolar US soedah memboektiken jang ia itoe ada masoek golongan hartawan di Rogodjampi.
Dengen bangga ia toetoerken pada saja jang ia poenja "anak-anak" tida boelh bekerdja lain ketjoeali teroes berlatih dan maen bola sadja. Djadi sematjam pemaen bajaran. Dan anak2 "Shiong Tih Hui" jang mesti hadepin mereka! Tetapi nasi soedah djadi boeboer, tida ada laen djalan ketjoeali hantem teroes. Saja andjoerin team saja boeat maen gesit dan djangan takoet apa2. si Kepala soedah teroes sadja saja dampingin dan kadang2 pegang lengan tangannja seperti selagi saja ketemoe satoe kawan jang amat erat sekali hoeboengannja.
Saja soedah hitoeng begini, meliat mentalitetnja penonton dengan "boeloe ajamnja" kalaoe sampe terdjadi keriboetan saja akan pindjam moeloetnja boeat tentramken keadaan hadirin penontonnja. Saja sengadja tida kasih ia berlaloe dari samping saja, sebab djika didesak oleh keadaan, saja akan ringkoes dan desak ini orang lebih dahoeloe. Rasanja kalaoe adoe berklai saja masih bisa menang. Jang ia besar sekali pengaroehnja bisa sekali diboektiken dari hal-hal ini.
Kalaoe pemain "Shiong Tih Hui" bikin pelanggaran, lantas tjatji maki datangnja seperti hoedjan; kalaoe loepoet tendangan bola, disoerakin; djika tepat tendangan pergi bola jang lagi mengantjam, didjengekin dan dimaki-maki. Keadaan penonton terlaloe mengganggoe djalannja pertandingan sepak bola, kamoedian dengen si "Kepala" jang saja minta ia tentremkenpenonton disekeliling lapangan itoe tjoema bertreak. Keadaan berobah perloe angkat tindakan agar mendjadi tentrem dan aman.

Bahasa Bogem Mentah


INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Bahasa Bogem Mentah
(I)
Keadaan pers di Indonesia sekarang, dibandingkan dengen keadaan pesoerat-kabaran pada 50 taon berselang, sekarang boleh dikata saben kali terbit dalem tjoeatja jang terang dan djernih; dahoeloe di zaman pendjadjahan, saban kali terbit tida djarang dibarengin dengen beklebatnja sinar kilat dan menggelgarnja soeara goentoer. Saja maksoedken, saban kali ada timboel soal jang mengenaken "oemoem", sering mendjadi tjakar-tjakaran diantara kalangan sendiri. dan kalaoe sampe djadi begitoe, tida djarang polemik ini berobah sifatnja jang mendjadi saling maki dan tjatji, saling odol si sakoe dan peroet hingga oeroesan roemah-tangga sekalipoen dikotong kaloear. Tetapi belon pernah sampe berhadepan dimoeka hidjaoe. Kalaoe dilapangan hidjajoe memang sering.
Oempama Berretty, pendiri "aneta" dengen ia poenja koran minggoean jang diberi nama "De Zweep" (tjamboek) maen tjamboek siapa sadja, moelai dari Kandjeng Goebernemen sampe ketingkat bawah, sobat , kenalan. Lawan djoega dari kalangan sesama djoernalist, semoea disrobi. Dan jang kena srobi tentoe sadja djoega lantas balas srobi baik dan begitoelah keadaan saling tjatji dan maki; makin kotor makin enak dibatja, djoega tentoe sadja oleh pembatjanja jang seolah-olah dapet somangat baroe. Di zaman itoe baik jang toelis maoepoen jang batja sami mawon kesoekaan-nja. Kalaoe koerang "sedap" tjara menoelisnja koh koerang enak dibatjanja seolah-olah makan roedjak koh seperti tawar sadja; boemboenja koerang petis dan tjabe.
Tetapi toch Berretty sebage djoernalist dapat soekses djoega, seperti jang bisa diliat dari berdirinja diantara Bandoeng dan Lembang jang dengen megah mendjoelang kelangit : Villa Isola! (Ikip)
Tentoe sadja tida semoea djoernalist bernasib baek seperti Berretty, jang dibalikannja ia poenja soekses dalem soal keoewangan , poen alamken nasib jang tida kalah ngerinja waktoe ketemoe adjalnja; ia mati dalem katjilakaan pesawat terbang jang djatoh terdjoengkal dalem laoetan dalem penerbangan balik dari Eropa ke Indonesia.
Karel Wijbrandts dan Zentgraaff djoega ada pentolan2 dalem ilmoe tjatji dan maki. Ook`t uitschelden is een kunst! Djoega memaki itoe meminta kepandean istimewa! Dalem kalangan pesoerat-kabaran "Tionghoa melojoe" menoeroet istilah doeloe bisa ditjatet :
Kwee Hing Tjiat;
Liem Koen Hian ;
Houw Tek Kong;
Kwee Kek Beng;
Tan Tek Ho (Sin Po Oot java editie);
Jang lain tergolong pada djoernalist djinak
Samentara dari kalangan Indonesia jang saja kenal ada :
Tjindarboemi (Soera oemoem, Soerabaia);
R.M. Gondodjoewono;
R.M. Bintarti (Pewarta Soerabaia);
Soedardjo (Mata-hari Semarang); dan djangan loepa;
J.D. Sidjaranamoeal (artinja de goelden haan seperti jang dengen berbisik ia pernah toetoerken pada saja selagi sama2 doedoek dalem redaksi Sin Tit Po Soerabaia. Sidjaranamoeal atawa lebi poeloeler dengen nama "Joenoes", ada kawan jang sanget baek sekali. Diwaktoe moeda ia pernah dipilih sebage bondsspeler, maka itoe ketika kami orang adakan "vormannen elftal" ditaon 1932, ia mendjadi bintang lapangan hidjaoe di Koblen Soerabaia, sementara kita jang lain napasnja soedah mengkas-mengkis seperti koeda toewa jang poenja sakit bengek. Ini pertandingan "vormannen elftal" diadaken antara pemoeka2 dari Partai Tionghoa Indonesia (PTI) lawan idem dari Persatoean Bangsa Indonesia (PBI). Dan maksoednja tjoema sebage daja penarik penonton sadja boeat liat pertandingan2 sepak bola jang benar2.
Kita adakan ini semoea boeat saingin S.V.B (Soerabajasche Voetbal Bond) dari golongan Belanda dengen ia poenja Jaarmarkt. Dan disoesoel oleh pemboekaan Pasar Malem Nasional jang ke 3 diadakan di Koblen djoega.
Jang koeatkan kesebelasan kita dari PTI ada djoega Baswendan dan Alamoedi dari golongan Arab. Suksesnja dari pertandingan sepak bola dan pasar malem boleh djoega, karena banjak sekali kita tarik pengoendjoeng2 biasa dari Jaarmarkt boeat datang ke Kolben. Kemabli pada keadaan persoerat-kabaran , soedah diboewang, satoe kali timboel polemik moedah sadja pena ditaroh kepelan dikeloearken boeat saling tondjok, banting dan geboek lawan kita dilapangan hidjaoe. Ditaon 1933 saja pindah ke Djember dan disan terbitken djoega soerat kabar minggoean "Pembrita" jang isinja koetiban lain2 soerat kabar poenja kabaran penting. Lebih djaoeh djoega pada pembatja disoegoehken toelisan redaksi (dalem hal ini saja sendiri jang mendjadi redaksi; administrasi dipegang oleh Tan King Djien) dengen tjerita bersamboeng "Darah Kotor". Di Djembar ada djoega terbit "De Posthoek Bode", djoega seminggoe sekali, tetapi dalem bahasa Belanda dan diterbitken serta dikemoediken oleh Brunwijk van Huten, seorang Belanda jang amat angkoeh sikapnja karena merasa ada di Djember di "tanah Birnie" pioner dari peroesahaan tanam tembako. Oemoemnja memang Belanda di bilangan sana diwaktoe itoe lebih menondjol kedoedoekannja dibandingken dengen golongan jang hidoepnja di kota2 besar.
Tadinja antara Brunwijk van Huten dan saja tida ada apa2 dalem arti, ia anggap saja sebage angin dan saja poela begitoe terhadap ia. Di Djember saja kenal baik sekali assistent resident Lens, begitoe baik hingga segala waktoe saja bisa tilpon ia, baik dikantor maoepoen di roemahnja. Sampe bikin banjak orang ................, diantaranja terhitoeng Boerdiardjo, wedana dikota Djember dan Helms, commissaris polisi kota.
"Pembrita" selaloe dapet advertentie dari Regentschapsraad dan djoesteroe ini jang moelai bikin Brunwijk van Huten iri hati, tetapi ia tida berani berboeat apa2, karena ia tahoe boekan saja jang minta2 hanja advertentie begitoe dikirim pada saja boeat minta dimoeat dan tentoe sadja dengen bajaran. Pada soeatoe waktoe Boediardjo dengen kawan lain Kho Hong Phing, letnan Tionghoa di Djember djoega dan saja setoedjoe boeat kita adaken pasar malem dan pendapetan bersih aken didermaken pada roemah sakit orang boeta di Bandoeng. Satoe badan komite dalem mana ada doedoek orang2 dari badan pemerintah , diantaranja Controleur B.B, dari pergerakan seperti N.U. dan dari masjarakat laen. Boediardjo djadi voorzitter, saja sekretaris dan Hong Phing Bendahara. Saja lebi dahoeloe bikin koendjoengan resmi keboepati Djember dan assistent resident Lens boeat minta mereka soeka masing2 diangkat sebage voorzitter kehormatan dari komite dan kamoedian teroes ke resident Besoeki jang tinggal di Bondowoso jang ditawarken kadoedoekan sebage pelindoeng (Beschermheer). Semoea permintaan diloeloesken dan pasar malem moelai kita bangoen dengen tida mengetjewaken.
Ada rejog Ponorogo, ada keradjinan dari Trenggalek, ada wajang orang, stamboel, dan laen2 tontonan. Mala ada djoega satoe stand boeat kenalkan Aoeto "Ford" type baroe (tjoema satoe bidji karena standnja djoega tida lebar) dari satoe firma jang dagang mobil di Djember. Heibat apa tida? Dan djangan diloepaken kitapoen adaken ..........adoean sampi.
Kalaoe dibangkalan karapan sampi jang terkenal dan sanget digemari, didaerah Besoeki, dengen pendoedoeknja asal ketoeroenan Djawa dan Madoera (orang "osing" seboetannja) adoean sampi jang mendjadi idam-idamannja. Kalaoe di karapan sampi di adoe boeat berlomba lari, diadoean diadoe boeat oedji tandoek siapa jang lebi koeat menjeroedoek. Boeat ini adoean sampi dipoengoet bajaran masoek lima sen tiap orang dewasa dan anak2.

Gerak-Djalan N.I.A.U. (II-TAMAT)


(II)
Tetapi saja masih bisa tindas itoe semoea dan achirnja sampe djoega stadswacht seloeroehnja jang ambil bagean masoek di Sawahan. Tida ada satoepoen jang mangkir.
Soal mati hidoep kita memang tjoema Toehan satoe jang tahoe. Baroe ketika sampe di Sawahan kita diberi warta bahwa kapten kita (ia jang tadinja koreksi tjara saja panggoel senapan waktoe "over geweer") ditengah djalan ia mendadak djatoh dan teroes meninggal doenia karena serangan djantoeng. Diesoknja kita semoea toeroet hantar djenasahnja ke koeboeran Kembang Koening sebage tanda menghormat boeat penghabisan kali.
Dihari saptoe jang kedoea kita semoea datang lagi dengen tida ada satoe jang mangkir kendati disepandjang minggoe itoe kaki penoeh dengen loeka2. Begitoe djoega jang 20, 25 dan 30 KM. Kita "makan" sambil laloe. Tjoema perstege mars masih dirasakan berat djoega. Dalem satoe djam kita haroes tempoeh djarak paling sedikit 7 KM. Dengen dipotong beristirahat hanja satoe kali 10 menit. Marineirs didepan kita benar2 djempol; tindakannja tetep lebar dan tjepat; tetapi kitapoen tak maoe kalah. Sehabis NIAU wandelmars pada kita semoea jang toeroet ambil bagian dari semoela sampe achir, diberiken medali peroenggoe boeat kenangan.
Itoe waktoe saja tinggal di djalan Boklan. Meliat soekses stadswacht, orang2 LBD (lucht beschermings Dinest , dinas pendjagaan bila ada serangan oedara) dari lingkoengan saja , termasoek Gembong sawah, Kapasan, Simolawang dan Kendjeran pada minta adaken djoega wandelnmars begitoe. Saja hendak tanja dahoeloe pada letnan stadswacht; ia tida keberatan dan perbolehkan djoega saja pimpin itoe dengen pake Uniform. Begitoelah sesoedah dalem satoe rapat saja terangken bagaimana wandelmars haroes diadakan, kita pilih satoe hari saptoe sore boeat moelai berangkat dari pos polisi dari djalan Kapasan. Anggota2 LBD tida dapat Uniform, paling banjak dikasih pindjam topi helm dari badja. Dan di saptoe sore itoe mereka pada berkoempoel didepan pos polisi dengen pake pakeannja sendiri. Malah ada djoega jang pake saroeng atawa pijama. Tetapi semoea pake sepatoe atawa sandal, tegasnja tida boleh ada jang toeroet ambil bagean dengen kaki telandjang.
Dengen pake Uniform (tentoe sadja zonder ransel dan senapan) saja hadepin barisan LBD seperti djoega saja seorang djendral preksa barisan. Saja terangkan haroes bertindak berbaren dan sama dalem barisan dari 4 orang; selagi baris tida boleh betjanda, riboet atawa bertereak (makloem, ini ada orang2 preman, belon pernah mendengar disiplin, kata saja dalem hati) dan siapa jang sekiranja tida tahan ikoet berbaris lebih lama, ia merdeka boeat keloear dan boleh poelang tetapi atas resiko sendiri. Jang datang ada banjak djoega, lebi banjak dari apa jang saja doega semoela. Dan begitoe sesoedah saja atoer mereka berdiri berempat, barisan kita ternjata koerang lebi ada 100 orang semoea Indonesia dan Tionghoa.
Karena di wijk kami memnag tida ada tinggal keloearga Belanda. Atas treakan saja...."Geef acht........! mereka berdiri lempang. Disoesoel poela oleh ....."voorwaarts... marsch....! dan selandjoetnja .....links... twee....,drie....vier......& links.. twee....,drie....vier.....kita moelai djalan. Dizaman pendjadjahan belon ada itoe toe... wa.... ga...pat, seperti dizaman repoeloesi. Kita moelai berangkat pada poekoel 5 sore dan ambil djoeroesan Kapasan, Kapasari, Ngaglik, Tambaksari; Goebeng, Soematerasraat teroes sampe kebon binatang, disana balik lewat pasar kembang, Sawahan via djalan Ardjoeno ke djalan Gresik, menoedjoe tandjoeng Perak, poetar lagi biloek Djembatan Gantoeng (Ferwerda brug), Ampel, Panggoeng, Kembang Djepoen, Tjantian, kombali Kapasan lagi.
Pembatja di Soerabaia bisa kira2 sendiri berapa djaoeh perdjalanan itoe. Dan dilakoeken dengen pas militer, zonder mengaso, tjoema sampe pasar kembang berenti sebentar. Minoem boleh berdaja sendiri karena LBD tida bisa sedia apa2. baroe sampe wijk Goebeng soedah moelai ada jang keloear barisan. Mereka tida tahan disoeroeh djalan menoeroet tempo links ..twee .. drie.. vier. Dari bermoela saja djalan paling depan seperti lajaknja satoe kepala, boekan? Sampe Pasar Kembang dan selagi berenti boeat 10 menit, saja didatengin oleh menantoe dari wijk meester Boklan jang saja tentoe sadja kenal baik.
Orangnja masih moeda, tetapi badannja gemoek sekali, teroetama peroetnja seperti orang mengandoeng lewat boelan. Dengen badan penoeh keringet dan napas sengal-sengal ia menghadep saja seraja bilang : "..kalaoe badan owe masih koeat, `nko, tetapi peroet owe jang pajah.......! kata ia sembari pegangin peroetnja jang besarnja loear biasa. Saja soeroeh ia lekas ambil betjak boeat poelang. Saja koeatir djoega meliat aer moekanja rada poetjat begitoe. Kamoedian kita landjoetken perdjalanan. Selagi berenti saja liat banjak djoega jang tenteng sadja sandal, kasoet tennis atawa sepatoenja.
Terlaloe panas, lebi dingin kaki telandjang, kata mereka atas pertanjaan saja. Saja sendiri pajah djoega hendak berlaga seolah-olah masih seger dan anggep perdjalanan jang tjoema sebegitoe seperti ah.......! tida ada artinja sama sekali ! Saja tetep djalan didepan, kapan boentoetnja masih hidoep masa kepalanja soedah dood?
Ketika sisa barisan saja lewat Panggoeng dan moelai masoek Kembang Djepoen dengan Kapasan toedjoean achir telah keliatan didepan mata, kombali sifat sombong saja moentjoel lagi.
Bagaimana ......?
Apa soedah tjapai ama maoe teroes lagi ......? tanja saja pada seorang Tionghoa jang datang dari Tiongkok baroe satoe taon berselang dan bitjaranjapoen masih pelat (pelo). Ia ini memang dari bermoela soedah djalan persies disebelah saja. Orangnja tida begitoe tinggi dan potongan badannja ketjil sadja. Saja tadinja kira ia maoe sesembatan; tida taoenja dengen soeara gembira ia djawab : ".....Titak...!.....Titak....! Teloos....., Teloos sadja!"
Boesjet...... dasar tjina `ndah poenja oedel ! maki saja dalem hati. (TAMAT)

Tuesday, November 08, 2005

Gerak-Djalan N.I.A.U. (I)



INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Gerak-Djalan N.I.A.U.
(I)
Di taon 1939 dan djoega sebelonnja di Soerabaia ada berdiri tjabang dari Nederlands Indise Atletiek Unie, persatoean keolahragaan di Hindia Belanda. Satoe waktoe NIAU terseboet adaken olah raga djalan kaki dan stadswacht Soerabaia dioendang boeat toeroet ambil bagian. Begitoelah pada soeatoe sore, sehabis latihan kapten kita tanja siapa diantara kita jang ingin toeroet ambil bagian dalem NIAU wandelmarsen. Di antara kita, teroetama golongan Belanda banjak jang angkat tangannja. Tetapi oleh anggota stadswacht jang lain adjakan itoe diterima adem sadja. Tida ada barang satoe stadswachter Tionghoa, tanja kapten, karena maloe, saja angkat tangan, kendati sebenarnja belon pernah saja toeroem ambil bagian dalam mars-marsan begitoe. Meliat saja madjoe, banjak djoega stadswachter Tionghoa jang lain maoe ikoet. Hari saptoenja djam 4 sore kita disoeroeh sedia dilapangan Jaarmarkt oentoek diangkoet kesawahan. Satoe djam kamoedian moelai berangkatlah NIAU wandelmarsen jang kesohor. Bagian stadswacht pake uniform komplit dengen ransel dan velfles, serta senapannja djoega toeroet di tjangking. Tjoema tentoe sadja senapan kosong tampa peloeroe. Didepan sekali ada barisan marinier (angkatan laoet) terdiri dari pemoeda2 Belanda jang sedang soeboer2nja; dibelakangnja ada berbaris stadswacht. Saja dapet tempat dioedjoeng kanan dari barisan 4 orang, disebelah kiri saja ada stadswachter Belanda, pegawai dari salah satoe toko impor Eropa. Ia ada salah satoe pemoeda jang djangkoeng sekali, kepala saja tjoeman sampe dipoendaknja sadja. Orangnja tjoekoep simpatik dan sebage salah satoe apa jang dinamakan "import kracht" (pegawai jang di impor) ia masih belon tahoe banjak tentang Indonesia. Barisan kita loemajan djoega banjaknja. Saja tadinja kira boeat permoelaan paling djaoeh kita akan djalan sampe 5 KM. Tida tahoe, roete kita dari sawahan via djalan Gresik ka djoeroesan Tandjoeng Perak, poetar sana laloe balik via pasar besar, kramat gantoeng, Toendjoengan, palmenlaan ke sawahan lagi. Saptoe pertama 15 KM, saptoe ke doewa 20KM, katiga 25KM dan kaempat 30KM. Kamoedian disoesoel oleh prestage mars 20KM, dalem tempo paling lama 3 djam. Bila tahoe begitoe, maloe atawa tida maloe, tida anti saja soedi ikoet. Boeat saja jang tida biasa lakoeken sport djalan mars-marsan begitoe beroepa siksaan badan, teroetama kaki. Tetapi nasi soedah mendjadi boeboer, kepaksa ditelan djoega. Di saptoe pertama gagah djoega waktoe moelai keloear dari sawahan. Dengen ikoet barisan merinier dengen ia poenja model pas, kita baris keloear djalan raja. Kepala diangkat, ban koelit boeat senapan ditjantelkan dipoendak kanan, dipegang kentjang, tangan kiri, dengen lengan sedikit bengkok diangkat naek toeroen menoeroet tindakan kita ; links twee drie vier!... links twee drie vier!.......
Waktoe sampe gedong bioscoop "Luxor" dipasar besar, saja liat istri dan anak saja berdiri dipinggir djalanan diantara banjak sekali orang2 jang pada menonton lewat barisan kami.
Mami..........., itoe PAPI.........!, treak anak saja.
Saja berpaling ke mereka dan lambaikan tangan. Bangga djoega rasanja dihati bisa oendjoeken bagaimana rapih si PAPI.... bisa berbaris, kendati kaki dirasakan soedah seperti dibakar.
Sesampenja dipertengahan djalan ke tandjoeng perak kita dikasih beristirahat 15 menit. Senapan dan rangsel boeroe2 ditaroh ditanah dan saja sendiri londjorken badan disebelahnja. Poendak kanan dirasakan sangat panas karena si ban senapan; belakang kaki seperti bagian jang soedah mati. Ini bolehnja nurutin........ si Thiam Tjing ...GILA! begitoe lah saja dengar ditereakin oleh kawan2 jang tadinja tetoeroetan angkat tangannja didepan kapten. Dan kembali sekarang saja di maki. Saja tida ambil pedoeli itoe segala makian; saja tidoer tjelentang sembari abisken satoe botol limoen jang didermakan dari salah satoe firma. Banjak djoega jang kosongin verfles oentoek diisi limoen. Kalaoe enaknja sih...... enak, tetapi waktoe berdjalan lagi, peroet dirasakan sebage kemboeng dan menggandjal keatas hingga soesah rasanja oentoek bernapas. Tetapi pengantian aer teh dengen limoen di verfples timboelken hal2 jang loetjoe djoega sebage timbalan dari kemboengnja si peroet. Karena disana disini, didepan, dibelakang saban2 kedengaran soera terpental prop verfles jang didorong keloear oleh tertoempoeknja "koolzuur" dari limoen dalem verfles jang teroes seperti di kotjok selagi kita bertindak. Senapan dirasakan seperti mendjadi lebih berat, tindakan saja rada sempojongan, sampe kawan djangkoeng disebelah kiri saja tanja: Zal ik je geweer dragen? (apa baik saja panggoel sadja senapan kamoe?) "Dank je , ik ben een Chinees! Djawab saja, seolah-olah sebage orang Tionghoa saja selaloe bisa penoehin koewadjiban saja. Barisan kita soedag moelai balik ke Sawahan. Sampe didjalan Gresik lagi kita menbiloek kekanan akan teroes kepasar besar. Mendadak ada perintah "Over geweer!"..... Senapan boekan ditjantelkan dipoendak lagi tetapi dipikoel dengen gagangnja ditahan oleh tangan kanan. Dalem posisi begini , oedjoeng senapan dan tingginja gagang haroes sama dengen senapan kawan2 kita dalem barisan itoe. Selagi baris, roepanja oedjoeng senapan saja letaknja roepanja tida sama tingginja dengen jang laen. Sebab oedjoengnja ada jang saban2 kasih naek atawa toeroen. "GODVERDOMME........! wil je dat gewriemel wel nalaten? Sodemieter!... (salinan ini sengadja tida saja berikan) agar pemoeda kita, djika barangkali ikoet batja ini kenangan, tida tetoeroetan ketjipratan kebiasaan dalem bitjara di zaman kolonial.
Saja berpaling kekanan boeat tjari tahoe siapa orang jang baroe goda saja. Badan soedah tjape hingga gampang "singit" dikepala. Pembatja bisa banjangkan berapa besar kaget saja ketika jang dikoetik-koetik senapan saja tadi boekan laen ada kapten kita sendiri. Saja diam sadja, kapten djoega tetapi dari senjoemnja saja bisa bajangken ia bisa mengarti sikap saja. begitoe lah kita teroes baris dan ketika lewat Keramat Gantoeng, baoenja segala mie goreng dan laen2 masakan dari roemah makan di oedjoengnja, bisa bikin saja hampir keloear dari barisan. Rasa tjapai, haoes dan lapar sekonjong-konjong timboel berbarengan.

Monday, November 07, 2005

"Sini" CONTRA "Sana" (II_TAMAT)

(II)
Boeat bagi perhatian poeblik kami dari blok "sini" dirikan djoega S.I.V.B. (Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond) persatoean sepak bola Indonesia. Hari dimoelainja pertandingan SIVB (jang dibikin djatoh berbarengan dengen pertandingan2 SVB) sebage atraksi kami djoega madjoeken "voormannen elfal", kesebelasan jang terdiri dari pemoeka2 ber-bagai2 perkoempoelan politiek. Sebage "besi sembrani", magnet memang kesebelasan itoe tarik banjak sekali penonton jang ingin tahoe bagaimana nandaknja pemimpin2 mereka diloear mimbar pidato dan medja-toelis. Pertandingan diadakan di Kolben. Hasilnja ketawa dan sorak tida ada habisnja. Itoe koempoelan peroet gendoet jang lari tida karoean djoentroengannja, jang dengen napas kempas-kempis masih tida mampoe oedak bola jang menggelinding perlahan didepannja, jang tiga kali tendangan mesti doewa kali loepoetnja, mala ada jang selagi tendang loepoet bolanja sebaliknja badannja jang gemoek boendar djatoh "kantep" dibokongnja. Dipihak kami jang ikoet maen ada Koen Hian, Boen Liang, Alamoedi, Baswedan dan Sijaranamoeal (Joenoes), saja sendiri dengen dibantoe oleh pemain2 laen. Jang mendjadi bintang ada Joenoes, bekas Bondpelar, sih! Tetapi sisahnja diapkir semoea. Djoega pihak lawan tida madjoeken prestasi lebi oenggoel. Radjamin, Roeslan Wongsakoesoemo, Gondo, Tjidarboemi (pemimpin redaksi Soeara Oemoem Soerabaia), Soedirman(residen Soerabaia dizaman repoeblik), Pamoedji (djoega pernah djadi resident), Mas ngabei..........namanja saja loepa, tapi waktoe itoe djadi Wethouder Gemeente Soerabaia dan lain2. Main belon tjoekoep setengah djam tetapi soedah beroepa "een complete mishandeling" menoeroet keloehan itoe doea kesebelasan jang dengen pintjang dan meredjang redjang pada oesap keringetnja jang mengalir loear biasa banjaknja. Sesoedah kami baroe penonton disoegoehi pertandingan2 jang betoel. Hasilnja tida mengetjewakan, baek dari djoemlah penonton, maoepoen dari pendapatan pendjoealan kartjis.
Bitjara tentang "Chung Hua Hui", ini ada perkoempoelan orang Tionghoa jang dimoeka mata kami kadang2 maoe djadi Belanda dari Belanda nja sendiri. Mereka terdiri dari orang2 jang beroewang dan mempoenjai kedoedoekan jang loemajan dalem perdagangan dan peroesahaan. Mereka diberi nama "Kaoem Packrad" oleh kami, dan kami sendiri dikatakan "Kaoem Betjak" oleh mereka.
Hanja mereka tergolong orang mampoe, ini boeat kami boekan soal. Ini ada masing2 poenja oeroesan sendiri. Tjoema jang kadang2 mendjemoekan ialah sikap mendjilat pada segala apa jang berbaoe Belanda dari kelas atasan. Lebih atas kedoedoekannja jang hendak di djilat, lebi pandjang lidah jang mesti dioeloerken boeat bisa sampe pada jang hendak di djilat. Lebi berseri-seri aer moekanja djika itoe aksi djilat bisa berhasil.
Saja sendiri poenja banjak pamili jang tergolong pada Chung Hua Hui. Tjoema saja sadja jang boleh anggap sebage "Tjina Gendeng", jang ridla djadi bekakasnja kaoem "kroetjoek" jalah "het schuim van bet volk". Saja ada poenja satoe teman, moelai dari MULO Malang, kamoedian ia landjoetken peladjarannja ke Nederland. Datang kombali di Indonesia sebage Meester in de Rechten (sardjana hoekoem). Ia menetap di Soerabaia dan tentoe sadja mendjadi anggota pengoeroes Chung Hua Hui. Belakangan ia masoek stand-wacht djoega. Ini kadjadian ditaon 1939 dan pada soeatoe sore, sehabis latihan di Jearmarkt, ia datang di gedoeng perkoepoelan pemoeda Tionghoa di Kalianjar Wetan. Dengen pakean "Uniform" sebage stadwachter dan maksoednja oentoek andjoerin orang2 Tionghoa masoek stadwacht djoega. Ini semoea betoel. Tetapi sasoedah berpidato, ini sobat achirken pembitjara`annja dengen mendadak bertreak "Oranje Boven!" dan "Hidoep Chung Hua Hui" dan ini jang tida betoel.
Saja djoega ikoet datang dan ketika saja tegor ia boeat pengoetara`an perasaan (gemoed suking, saja bilang, sebab sama ini sobat kebanjakan mesti digoenaken bahasa Belanda), ia dengen maloe bilang jang ia soedah kesalahan bitjara. Saja tjoema toeding djidat saja dengen djari penoendjoek dan teroes berlaloe.
Ada lagi seorang dokter Tionghoa, loeloesan Nederland, anggota pengoeroes Chung Hua Hui tentoe. Ia ini begitoe fanatik (dan djoega karena ingin djilat saja rasa) hingga ketika di Jearmarkt di taon 1939 diadaken per-arakan kereta di hias, ia toeroen dari panggoeng dimana ada berkoempoel pembesar2 dan lain2 orang ternama, dan teroes samperin satoe kereta jang dihiasin bendera2 dari berbagai-bagai negara, diantaranja djoega bendera Djepang. Itoe dokter minta kereta berhenti sebentar, teroes ia tjaboet bendera Nippon, jang ia kamoedian sobek2 dan sobekannja dilempar di tanah. Lantas dengen tindakan dan sikap A G O E N G ia naek dipanggoeng lagi. Tetapi jang tarik perhatian saja jang itoe waktoe toeroet saksiken itoe kadjadian sebage penonton biasa, jalah dipanggoeng keadaan tinggal soenji. Tida ada kedengeran tepok tangan barang satoe kali. "Dat is gekkenwerk kata toean Topvooort, hoofcommissaris polisi pada saja, ketika kita saling ketemoe dibawah tangga panggoeng terseboet. Perboeatan tarik dan sobek bendera Djepang ada akibat jang ngerih sekali.
Waktoe Soerabaia di doedoekin Nippon orang jang pertama ditangkap Kempetai jalah itoe dokter jang achirnja mati djoega sasoedah mengalami siksaan jang maha heibat. (TAMAT)

"Sini" CONTRA "Sana"

INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
"Sini" Contra "Sana"
(I)
Sedari taon 1932 di Soerabaia didiriken Partai Tionghoa Indonesia (P.T.I.) perhoeboengan dengen P.B.I. (Persatoean Bangsa Indonesia), partainja Dr Soetomo, makin lama makin erat. Djoega ketika PBI, dengen masoeknja Boedi Oetomo, dirobah mendjadi PARINDA (Partai Indonesia Raja) hoeboengan dan bekerdjasama itoe keliatan lebi njata lagi. Makin njata adanja itoe tjara bekerdja sama2, makin djelek tjap jang kita dapet dari pihak Belanda ploes koran2nja. Oproekraaiers, onmiststokers, belhamels dll predicaat jang bikin kami, orang2 dari PTI berada lebi djaoeh lagi dari garis orang2 jang ada harepan bisa dianoegrahi bintang kesetiaan dan kehormatan di hari oelang taon sri baginda Ratoe Wilhelmina.
Tapi, ja apa boleh boeat satoe kali dalem hidoep manoesia ia haroes pilih toedjoean hidoepnja. Tjoema saja bisa terangken sikap saja boekan bentji Kandjeng Goebernemen, poen boekan saja bentji orang2 Belanda, tetapi jang kami tentang sedapat-dapatnja jalah adanja itoe perbedaan perlakoean antara jang masoek golongan Eropa dan jang disempitkan dalem golongan Inlander. Dalam rapat oemoem jang diadaken digedong Nasional Indonesia (GNI) di Boeboetan Soerabaia saja sebage wakil PTI terangken dengen tandes bahwa saja ini orang Indonesia ketoeroenan Tionghoa.
Dan toedjoean kami jang teroetama jalah tjoba hilangken itoe gandjelan. Itoe struikeblok jang menghambat kami dalem perdjoeangan mentjapai persamaan hak, persamaan perlakoean dalem lingkoengan oendang2 dalem negeri, agar achirnja bisa kami semoea membangoen satoe masjarakat jang bahagia, makmoer dan beroentoeng di Negara Indonesia jang raja, bila tida diperbolehkan bilang Indonesia MERDEKA! Bitjara sampe disini saja dikasih denger ketokan peringetan dari medja PID (politieke inlichtingen dienst) bagean penerangan oeroesan politik dari pamerentah Hindia Belanda, badan mana memang selaloe mesti ada bila diadaken rapat oemoem, apalagi rapat terboeka (openlucht). Sobat saja jang rapet almarhoem Soekandar waktoe itoe mendjadi mentri polisi bagean PID. Saja taoe ia melakoeken koewadjibannja boeat ketok pembitjara siapa sadja jang goenaken perkataan Indonesia merdeka dalem njanjian Indonesia raja diganti dengen Indonesia raja. Kami semoea taoe , Soekandar "ambtshalve" karena djabatannja, haroes maen ketok ketok begitoe, kendati dalem hati ia djoega ada satoe Nasionalis jang toelen. Bagaimana menjakitkan hati adanja itoe perbedaan antara si Belanda dan si Inlander bisa dibajangken ketika sebage radactoer Soera Poeblik di Soerabaia. Saja dengen pake pakean hoekoeman pendjara, telandjang kaki dan di borgol haroes djalan kaki dari pendjara Kalisosok ke Landraad di Sawahan. Samentara satoe sinjo Krembangan, golongan Belanda Indo diangkoet dengen mobil tertoetoep ke Raad van Justitie dengen pakean preman dan dikasih slop, ini anak Belanda Godong (istilah boeat Belanda Indo) tjoeri sepeda.
Pada waktoe, kami dari PTI adaken "mement actie" (asksi berbarengan dalem waktoe sama) dan diadaken diberbage-bage tempat. Pembatja bisa bajangankan bagaimana repotnja keadaan di hoofbureau politie (markas besar polisi) di Soerabaia itoe waktoe disembilan tempat jang terpentjar (ada jang di GNI, di Ampel, wijk Arab, di Kalianjar wetan, Kedongdoro dll) ada openbare vergadering, rapat oemoem, dan jang berbitjara boekan dari PTI sadja, tetapi dibantoe oleh kawan2 dari PARINDA, dari Partai Arab Indonesia (Alamoedi, Baswadan), dari NU dll. Boeat adaken rapat oemoem begitoe kami hanja tjoema terima 3 hari dimoeka lapor pada polisi. Kalaoe boeat rapat terboeka (openlucht) satoe boelan dimoeka. Oentoek tolak permintaan kami, tida ada alesan polisi toch tida bisa bilang kekoerangan pedjabat PID, jang di tjap rapat biasanja diwakilin oleh 3 orang, djadi dalem moment aksi disembilan tempat haroes ada 9 kali 3 sama dengen 27 orang! Dan ditaon 1932 djoemlah polisi terbatas. Kenangan masa perdjoeangan begitoe sehingga sekarang masih bisa kasih perasaan hangat dalem dada. Perasaan hangat begitoe katanja ada baik djoega boeat orang jang soedah masoek golongan "soedah ada oemoer" itoe boekan soal, tergantoeng pada diri kita sendiri. Von Hindeburg dalem oesia 85 taon masih naek koeda dan preksa barisan.
Di Soerabaia ditaon 1932 Soerabajasche Voetbal Bond (SVB) perserikatan koempoelan sepak bola Belanda (dalem mana termasoek djoega Tionghoa dengan ia poenja anggota2 pengoeroes jang oemoemnja terdiri dari pemoeka2 Chung Hua Hui betoel2 sedang djaja-djajanja.

Pemoeda di zaman Koeno (II_TAMAT)

(II)
Di zaman itoe gadis2 pada beramboet pandjang jang tersebar menoetoepi badannja. Kita jang ada dibelakang intjar sadja "misje" kita. Kalaoe kebetoelan bisa berada didjoeroesannja dan angin djoega kebetoelan menioep dari depan, kita sembari endjot pedal sepeda, sedot napas sedalem-dalemnja bisa oentoek tjoba tjioem haroemnja ramboet si djantoeng hati. Dan sampe sore rasanja dada mendjadi lapang, apalagi kalaoe disoeroeh pompa sepeda dan selagi serahken setirnja, tangan kita bisa beradoe, telinga tangkap perkataan "dankje wel, hoor!" dan tangan sama2 saling senggol, adoeh! Rasanja biarpoen sampe esok paginja kok sajang kalaoe kena aer.
Kendati tida terang-terangan, tetapi masing2 dari kita tahoe "misje" A siapa jang poenja dan B djadi "misje" siapa. Kalaoe sampe ada persaingan atawa perlakoean jang dianggap koerang adjar, terhadap gadis jang mendjadi idaman kita, pasti ini berarti adoe kepelan atawa "all es en alles" termasoek djegal, piting, toendjek, banting , tendang semoeanja boleh katjoeali menggigit. Kalaoe kita ketemoe doea moerid lelaki jang pada matang biroe, djalan pintjang dan aer moeka penoeh baret karena bekas di gobrot di tanah, tahoelah kita bahwa antara mereka ada dilakoeken satoe tjara oentoek pertahankan masing2 poenja "hak" atas soeatoe "misje". Ini bodoh boekan? Dan lebi bodoh lagi bila kita tahoe dalem banjak hal si misje djoega tida mendoesin jang ia jang tadinja diboeat reboetan. Karena oemoemnja misje itoe tjoema akoe-akoean sadja. Karena saja rasa anak zaman sekarang tida akan berlakoe begitoe naif dan bodoh seperti anak dari setengah abad berselang.
Karena diloear sekolah tida ada iketan jang gaboengken itoe anak2 satoe pada lain, maka masing2 tjari djalannja sendiri, tjari temen-temennja sendiri. kalaoe menoeroet istilah sekarang, ia orang meroepaken "gang-gangan" ada jang liwatin temponja dengen maen biljard; ada jang djalan2 sepandjang djalan dengen ganggoe siapa sadja jang dianggep bisa diganggoe (ini golongan toekang tjari perkara) ada djoega jang sering goda anak2 prempoean baik di roemah atawa disekolahnja. Oempama pernah kadjadian satoe hal jang memboektiken benarnja pribahasa "hie-hie siet-siet" (apa jang dikira kosong ternjata penoeh dan apa jang dianggep penoeh terboekti kosong) atawa dengen perkataan biasa hendak dibilang, perlawanan didapat djoesteroe dari fihak jang tadinja ditaksir tida akan melawan sama sekali.
Saja dengen beberapa temen (tentoe sadja lelaki) pada soeatoe pagi liwat di zusterschool di Tjelaket, Malang. Apa maoe, djendela ditingkat atas diboeka dan di belakangnja terliat sekoempoelan gadis-gadis jang memang sekolah dan tinggal disana. Kami atjoengken tangan dan treak "dag....dag". treakan ini dibales dengen lambaian tangan, malah ada djoega jang kasih "kushandje". Pembatja bisa tebak bagaimana reaksi kami dengen samboetan jang begitoe meriah. Rasanja maoe berdjingkrak dan djoengkir-balik di djalanan saking girangnja. Tentoe sadja hal ini lekas tertoelar diantara teman2 lelaki jang lain.
Grombolan kami achirnja terdiri dari koerang lebi 12 orang jang tiap pagi pasti dengen sepada berenti dibawah djendela jang terkenal itoe. Djoemlah gadis ternjata djoega bertambah. Soera sepada, treakan dan djeritan tentoe sadja tarik perhatian orang2 Belanda jang tinggal disekiternja, tetapi mereka poera2 tida tahoe apa2, tida denger apa2 koeatir kalaoe ganggoean itoe pindah keroemah masing2. pembatja djangan kira kami orang meroepaken segrombolan anak2 jang masih ketjil. Tida, badan kita dan tinggi tjoekoep besar, sebab zaman itoe kaloe hampir loeloes MULO berarti soedah delapan atawa sembilan belas taon. Kapan tadi soedah dibilang, anak2 zaman itoe kebanjakan maen masa bodoh sadja, toch ada orang toewa.
Apalagi djika pamili poenja anak gadis. Pembatja bisa bajangken sendiri anak2 lelaki seoesia moeda begitoe, makin dibiarin makin naek kepala. Tetapi pembalesannja dateng. Kami disebelah bawah pada treakin, gapein dan bikin gerakan adjak mereka keliling kota naek sepeda dan makan minoem. Adjakan kita jang berada disebelah bawah dari doea djendela jang diboeka lebar disamboet dengen gelak ketawa oleh gadis2 jang berada dibelakangnja.
Dan selagi kami mendongak keatas boeat nikmati manisnja itoe sekoempoelan boenga jang lagi mekar-mekarnja, mendadak mereka dengen serentak pada moendoer dan tempatnja diganti oleh lima atawa anam zuster. Belon hilang terperandjat kita atawa itoe koempoelan zuster dengen serentak toewang isinja pot-pot jang memang masing2 ada bawa. Dan boekan lagi gerimis jang menimpah kita, tetapi lebat sekali adanja hoedjan............. kentjing jang menggoejoer kami. Ada diantara kita jang isinja si pot langsoeng menggoejoer kepalanja!
Tida oesah ditanja lagi bagaimana kita pada lari seraboetan dengen dibelakang kedengeran soerak dan tepok tangan jang rioeh sekali dari itoe sekoempoelan zuster dan moerid-moeridnja.
"Kom morgen weer terug!" treak mereka. Esoknja disoeroeh dateng lagi, katanja. Sampe lama Zusterschool di Tjelaket Malang oleh kami dianggap sebage tempat jang angker! Hiet-hiet siet-siet.
(TAMAT)

Sunday, October 30, 2005

Pemoeda di zaman koeno (I)


INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Pemoeda di Zaman Koeno
(I)
Djika kita bikin pertandingan antara tindak-tandoek anak2 zaman sekarang dengen anak2 zamansekiter 1915-1920 kita mesti akoein bahwa anak2 sekarangoendjoeken lebi banjak pengertian tentang toedjoean hidoep. 50 taon berselang kita tjoema tahoe sekolah sadja, kapan loeloesnja itoe si perkara belakang hari. Kapan ada orang toea jang tanggoeng segala-galanja. Dari di permoelaan abad ini toedjoean hidoep masjarakat di Hindia Belanda ada lebih terbatas lagi. Kalaoe bapa tani, harapannja jalah anaknja djoega mendjadi seorang tani; djika bapa priaji dalem kalangan pamong pradja, anaknjapoen diharap achirnja dapet seboetan "ndoro wedono" sasoedah sebage djedjaka ia dinas mendjadi "magang" dan via poeloehan taon sebage "ndoro mantri" dan "ndoro asten". Kalaoe kandjeng boepatiitoe mesti toeroenan. Bapa dagang anak djoega dagang. Dan kalaoe bekerdja pada "toko Belanda" soepaia bisa diangkat djadi "baba kasir", poentjak dari segala angen2. Seboetan "baba-kasir" djangan dianggep terlaloe enteng. Dalem kalangan masjarakat Tionghoa di zaman itoe, kalaoe ada djedjaka hendak di oedji lagi sekali, sesoedah lamaran via orang toeanja diterima baek, ia dengen diikoeti oleh pamilinja terdekat, diminta datang di roemah bakal mertoeanja.
Disana diroeangan depan ia diminta doedoek dipinggir medja dimana diatas terdapat beberapa kantong terisi oewang perak, seperti ringgitan, goelden, setangah goelden, 25 sen, 10 sen. Dengen dikiterin dan diawasin oleh pamili dari beberapa toenangannja, si tjalon "baba mantoe" diminta hitoeng itoe oewang pitjahan. Kalaoe saban kali bisa roepaken barisan dari 10 bidji, ini tandanja ia soedah loeloes. Dan sibakal mertoea boleh dengen bangga toetoerken pada pamili dan sobatnja bagaimana "tjing sin" pintar adanja ia poenja bakal "baba mantoe" . di belakangan medja oedjian ada terdapat djendela jang daonnja tinggal tertoetoep, tetapi di belakangan mana pasti penoeh dengen pamili prempoean dari anak gadis jang dilamar itoe. Mereka pada berdesakan oentoek tjoeri liat si bakal mantoe. Dan anak gadisnja sendiri? ia tida pernah ketemoe moeka dengen orang jang ditetepken sebage bakal soeaminja. Kendati dalem hati tentoe sadja ia ingin liat tampang moeka dari bakal pasangannja, tetapi sebage "gadis pingitan" mana ia ada itoe kebranian. Ia tinggal toendoek hadepin wadjan gorengan di dapoer seolah-olah itoe semoea tida mengenakan ia barang seoedjoeng ramboetpoen. Ini baroe dibilang "perawan simpenan" sedjati.
Aken kombali pada keadaan anak2 disekiter taon doea poeloehan, tida ada tjerita pasal "girl friend" atawa "boy friend". Baik lelaki maoepoen perempoean masing2 pada maloe kalaoe saoempama berdjalan berdoeaan sadja. Djoega mertamoe di roemah "geen kwestle van" menoeroet istilah dari Corrie poenja bapa. Ini Corrie ada gadis Belanda sekolah MULO di Malang dimana ia mendjadi kembangnja dalem hal ketjantikan. Poeloehan anak lelaki jang pernah tjoba mertamoe diroemahnja, tetapi semoea disemprot keloear oleh corrie poenja bapa jang bengisnja lebi dari setan. Tetapi kendati hidoep kami, moerid lelaki dan prempoean dari sekolahan, ada keliatan seperti terpisah sebab selaloe bergerombol sendiri-sendiri, toch perhoeboengan "asmara" ada, kendati tida terang2an seperti sekarang. Kita, silelaki, ada poenja "misje" dan dikalangan moerid2 prempoean pasti ada jang poenja teman lelaki speciaal. Djam 1 kalaoe waktoe poelang, bisa kita liat 2 grombolan. Oemoemnja naek sepeda. Jang prempoean ada didepan.