Seoea toelisannja Opa kwee soedah pindah ke sini http://tjamboek28.multiply.com/

Friday, March 17, 2006

Penghoeni Kalisosok (XI-XII-TAMAT)


(XI)
Gondo, disebalah roewangan djoega tertarik pada keindahan alam kendati boeat ia itoe tjoema beroepa kebon didepan dan langit diatasnja roedji. Ia kedengeran lagi nembang satoe pantoen jang meresap sekali. Moengkin lagi rindoe pada sanak kandang ditempat asalnja. Soearanja, dalem, merdoe dan empoek kedengerannja; naek toeroennja nada bisa bikin pendengarnja seperti diajoem oleh gelombang penghidoepan. Gondo asal Djokja dan diantara begitoe banjak sobat saja asal Soerokartohadiningrat dan Ngajokdjokartohadiningrat tida ada satoe jang menjanji “vals”. Semoeanja soeranja bagoes, heran..!.
Sesoedah Gondo berenti nembang, saja masoek kedalem dengen bawa saroeng penoeh dengen bekas obat tjair boeat goedik dan borok. Ini saroeng saja kasih masoek dalem selokan dan soeloet dengen goenakan tali-api. Itoe semoea saja kipasin dengen soerat kabar minggoean “Panorama” pindjam dari bibliotik pendjara. Asap segera mengeboel; keloear via ledeng tida bisa karena ditoetoep oleh tank; keloear dari lobang di sel saja djoega tida, sebab saja jang toenggoe dengen kipas. Does asap via ledeng selokan teroes ke sel 2 dan 3 seteroesnja. Roepanja keloearnja asap banjak djoega karena tida lama saja dengar Gondo batoek2.
Hai...! `mbakar opo kowee? Akoe ngati ora biso ambekan....!
Saja diam sadja dan teroes kipasin lebih tjepat. Sel 3 djoega moelai kasih denger soearanja.
Kwee........! Kwee.........! kamoe hendak boenoeh kawan jah?. Treaka Mohamad Zain serta poekoel2 roedji dengen sepotong besi jang setahoe ia dapet dari mana.
Saja tetep tida bersoeara, tjoema itoe doea kawan sadja jang teroes kaok2. Achirnja saroeng soedah habis kebakar dan saja berenti ngipasin; berat djoega pekerdjaan ini hingga saja sampe koetjoerken keringet.
Basmi njamoek.........! treak saja achirnja dan kamoedian tinggal menbisoe lagi, biar itoe doea kawan maki2 sampe poeas.
Tanggal saja merdeka tjoema tinggal beberapa hari sadja. Haroes saja mengakoe, gelisah djoega rasanja saking kesoesoenja hendak keloear. Perhoeboengan oedara diboeka teroes sampe djaoeh malem karena saja soekar poelas. Saja beritahoe sel 2 dan 3 apa sadja jang saja lakoeken kalaoe soedah keloear pendjara. Goenting ramboet, ganti pakean, djalan2 poeter kota dengen naek taxi, beli bakmi, kodok goreng, sate kambing, nasi goedek dll. Saja tahoe dimana ada djoeal nasi goedek persis seperti di Pathook, liat bioscoop, stamboel.
Jang tida bisa dimengerti dari itoe doea kawan, boekannja mereka berterima kasih pada saja jang mengambarkan segala apa jang bisa didapat diloear tembok pendjara, mala mereka maki saja. Hoekoeman masih lama...! treak Mohamad Zain.
Tanggal 1 November 1926 poekoel 8 pagi saja dipanggil kekantor. Lebih doeloe saja datang pada Gondo dan Mohamad Zain. Dengen mata berlinang-linang dan tenggorokan seperti ketjekik saja bersalaman dengen mereka. Biarpoen tida terlaloe lama kita kenal satoe sama laen, tetapi persobatan dalem keadaan begitoe dan ditempat begitoe ada lebi erat daripada berkenalan bertaon-taon di doenia loear. Ketika saja datang dikantor, surveiliant tanja apa saja maoe poelang atas ongkos sendiri atawa ongkos negeri. Kalaoe atas bea negeri saja nanti dapet soerat resmi dari pendjara dengen mana saja bisa menoepang kereta-api kloenoek; sesampenja di Tjirebon lapor pada kantor polisi jang akan kasih saja pondokan dan esoknja........... Saja poelang dengen ongkos sendiri, djawab saja dengen pendek, sebab saja tahoe si surveiliant itoe semoea tjoema hendak bakar hati saja. Bagoes, djawabnja seraja terimaken boentelan pakean saja.
Boleh toekar pakean di toilet boeat pegawai pendjara. Djoega dengen rojal ia idzinken saja tinggal di pendjara sampe ada orang dateng djempoet saja. Tetapi saja soedah tida dapet makan lagi. Saja terima boentelan itoe dan teroes ke toilet boeat toekeran.
Tetapi............. ampoen ! djangan tanja ada bagaimana pakean dril poetih, soedah dipake di kereta-api dari Soerabaia ke Djokja, kamoedian diboengkoes tikar beberapa boelan lamanja. Kalaoe “Borsalino” sih soedah mirip sajoer asin. Tetapi tida apa, pikir saja; toch ini ada lebi baek dari pada pakean perantean. Begitoe lah saja moentjoel lagi, komplit pake sepatoe dan dasi serta si sajoer asin toetoepin ramboet saja jang separoh gondrong.
Saja terima soerat lepas saja dan sesoedah manggoet dan pake Borsalino setengah miring, saja keloear dari kantor sembari menjanji, tjoekoep keras boeat didenger oleh si surveiliant dan orang2 sekiternja:
“Wien Nederland bloed door de aderen vloeit” ketika saja berpaling ke kantor lagi saja masih bisa liat bagaimana surveiliant goleng2 kepala dan ketok2 djidatnja dengen djari tangan.
Begitoe achirnja saja bisa lewat lagi itoe pintoe pendjara sebage orang merdeka. Pada moelanja saja terperandjat djoega, rasanja djalanan begitoe lebar. Dan banjak orang jang hilir-moedik dengen pakean beraneka warna bikin kepala sedikit poesing. Tetapi saja berdjalan teroes dengen hati jang memoekoel lebi keras dari biasanja; saban kali ada kendaraan lewat, pasti saja minggir. Apalagi djika Auto. Djalan kaki dari pendjara Tjipinang ke Messter Cornelies (Djatinegara) djaoeh djoega. Napas moelai memboeroe karena soedah lama tida tahoe djalan dalem mars tempo hari.
Kantong “boo lwie pwa sen” tida gablek barang setengah sen, lapar, aos, tetapi itoe semoea saja tida pikirin. Apa maoe saja ingin kentjing, tetapi di mana? Disebelah kiri djalan terdapat banjak roemah-tangga, waroeng dan toko sedang boeat lakoeken “ceremonie” itoe diseberangnja deket rail kereta-api, saja segan djoega. Begitoelah saja teroes djalan dengen pikir nanti sampe setasioen saja akan masoek perron.
(XII)
Dengen ramboet liwatin daon koeping, moeka poetjat, pakean tida karoean matjamnja, roepanja model saja ketara sekali kalaoe lepasan pendjara. Karena siapa sadja jang berpapasan pasti minggir; siapa sadja jang saja liatin pasti toendoek atawa liat kelaen djoeroesan. Orang toch tida maoe sampe kebentrok dengen boeaia setahoe dari mana.
Sesampenja di oedjoeng Leonie-laan saja soedah habis tenaga, pagi belon sarapan, aosnja setengah mati, tida ada rokok barang sebatang, saja doedoek dipinggir djalan boeat mengasoh. Kenapa pakean dan oewang saja belon dikirim dari Soerabaia? Lambat laoen disekiter saja berkoempoel makin banjak orang jang anggap saja sebage matjam tontonan. Mendadak saja berdiri, itoe orang2 lari seraboetan dan saja teroeskan perdjalanan menoedjoe ke Messter Cornelies. Sesampenja disana ternjata saja haroes bajar 10 sen boeat masoek diperon. Sial apa tida? Saja tjoba tawar 3 apa 4 taxi jang menoenggoe disana tetapi semoea bilang lagi toenggoe orang. Barangkali mereka tida pertjaja saja. Achirnja dengen seorang sopir Tionghoa saja dapat ketjotjokan dan dihantar ke kantor soerat kabar “Keng Po”, pintoe besar dengen bajaran 3 setengah goelden.
Naek taxi saja moesti pegangan dibangkoe karena poesing saking tjepatnja kita bergerak menoeroet perasaan saja. Waktoe itoe djarang sekali ada Auto sedan dan djoemlahnja mobil sedikit sekali dibandingken sekarang. Sesampe di kantor “Keng Po”, saja naek keatas dan ketemoe Khoe Woen Sioe dan laen2 kawan. Semoeanja terperandjat djoega liat saja datang dalem keadaan begitoe. Taxi dibajar dan saja dibawa ke satoe Hotel di Molenviet (Hajam woeroek). Waktoe boeat pertama kali letakan lagi toeboeh diatas kasoer betoelan, rasanja badan seperti djatoh diatas awan.
Barbier keliling dipanggil dateng dan ramboet saja mendjadi normal lagi. Koen Too, jang tinggal di Batavia dan ada neef dari Koen Hian, padanja tadinja diminta sampaikan koper pakean dan oewang 100 goelden pada saja. Ia dikasih tahoe tentang keloearnja saja dan boeroe2 datang di Hotel. Tetapi ketika tas pakean diboeka ternjata isinja satoe stel djas toetoep ajah saja poenja (jang toeboehnja lebi besar dari saja) dan satoe stel djasnja Oom saja jang rada koeroes. Doea-doeanja tida bisa dipake. Dalem soerat jang dilampirkan saja dikasih tahoe jang Oom terseboet, pada siapa saja tinggal, meninggal doenia beberapa minggoe berselang. Pantes roepanja tante begitoe bingoeng dan sedih, hingga pakean sekenanja sadja dikirim pada saja.
Koen Too pada tanggal 31 Oktober soedah datang di Tjipinang, tetapi oleh “sobat” saja si surveiliant dikasih tahoe saja dilepas esoknja lohor. Waktoe Koen Too hendak titip tas dan oewang boeat saja, ditolak. Ia haroes datang sendiri.
Sesoedah goenting ramboet dan mandi, Woen Sioe kasih pindjam saja pakean, serta dipasar Glodok beli beberapa singlet dan tjelana dalem, handoek dan sebagenja. Malemnja itoe djoega saja dibawa kerestaoerant “Thay Tong” (sekarang Kan Leng). Disana saja tjoema bisa makan sedikit sekali, karena baoenja dari segitoe banjak masakan soedah bikin saja moentah......di esok paginja dengen diantar oleh beberapa kawan, saja naek expres kelas 2 menoedjoe ke Soerabaia. Sampe di stasioen Semoet soedah malem dan disamboet oleh pamili dan kawan2.
Saja dikasih tahoe haroes semalam menginap di Hotel, tida boleh poelang langsoeng ke roemah karena orang dari pendjara dianggep bawa sial......!
----$$$------
Pesan Saja:
Kalaoe memoengkin, ingin rasanja saja dapet bantoean dari saoedara Mochtar Lubis apa sekiranja saja dapat idzin boeat koendjoengin pendjara Tjipinang oentoek boeat penghabisan kali liat kembali tempat dimana saja pernah disekap. Dengen bawa sekalian istri saja, agar iapoen dapet pemandangan djelas dimana soeaminja jang tertjinta pernah berada.
Sembari menoenggoe sampai didapatnja oleh saja hadiah dari lotere “NALO” (Nasional Lotere) hal mana akan dirajakan dengen kami berdoea sadja bikin perdjalanan keliling doenia. Dalem oesia baroe 72 dan 67 taon.
Kami berdoea dengen berkahnja Toehan Jang Maha Esa, masih sanggoep bikin world-toer. Dan sesoedah ini, sekombalinja ketanah aer, semoga dapatlah saja hadiah pertama NALO boeat jang kedoea kalinja. Kali ini oentoek “zakgeld” menghadapi penghidoepan sampe di saat jang kami di idzinkan berada di doenia.
Djaoehken diri kamoe dari sifat serakah. Karena serakah itoe ada sjaitan..! Maka itoe djoega saja tjoema minta 2x sadja hadiah pertama. Tetapi achirnja “Bouw su tjay djien, sing su tjay Thian”.
(TAMAT)

Thursday, March 16, 2006

Penghoeni Kalisosok (IX_X)


(IX)
Lantas ditoeang sampe penoeh dengen aer panas dan diudak-udak. Kalaoe soedah rada dingin kopinja digoenakan boeat goejoer koewe jang dimakan, Adoeh.....! rasanja loear biasa enaknja, rasanja seperti hidoep baroe. Habis tjoema satoe kali satoe minggoe sih...! dan djanga koeatir; boeboek kopi sampe boetir jang penghabisan, tida ada satoe jang terboeang, semoeanja masoek dalem moek kedoea dan ketiga dan sembari menikmati itoe semoea, perhoeboengan oedara diboeka. Kalaoe Gondo dan Moehamad Zein tida bisa tjeritakan banjak dari pemandengan atas tembok. Tetapi saja!
Apalagi djika soedah moelai tetamoe2 pendjara masoek saja jang kasih “pers-lah” menoeroet pandengan mata. Saja toetoerken bagaimana sedap ternampaknja kaoem wanita jang datang berkoendjoeng dan pada berkoempoel didepan kantor sipier, liat jang satoe itoe. Potongannja mirip sama gitas Spanyol, kondenja rapih dan oedjoeng ramboetnja dikasih keloear dari geloengnja, moekanja potongan daon sirih, koelitnja warna koening langsat. Dan, ampoennn.. goesti, liat.... boeng, liat...ia lagi ketawa dengen tida bersoeara, tjoema moeloetnjna sadja jang terboeka sedikit, giginja poetih seperti moetiara, ketambahan selagi ketawa dikedoea pipinja ada tanda desok sedikit jang bikin itoe semoea lebi mengioerken..! Dan itoe, jang disebelah kanannja, ja itoe, jang djoesteroe setjara maen poeter-poeter pajoengnja. Tjoba liat...! alisnja nanggalsepisan, pinggangnja jang langsing sebage poehoen tjemara, kalaoe ia djalan tindakannja mirip sama tindakan matjan jang lapar, mengelejot sana mengelejot sini dan saban kali bertindak kainnja tersingkap sedikit hingga betisnja jang mirip boenting padi keliatan tegas. Mampoes dah......! ditambah hoekoeman djadilah djika bisa dapet ia...!
Begitoelah saja kasih Pers-lah pemandengan mata pada itoe doea kawan. “Wis..! wis...! akoe madep tembok...! treak Gondo jang minta saja toetoep moeloet sadja. Sedang Moehamad Zein antjam akan boenoeh saja. Hoekoeman saja masih lama tereaknja.
Tetapi saja tida pedoelikan itoe semoea dan teroes bikin Pers-lah saja. Inilah beratnja koeadjiban kawan terhadep kawan... heheh....
Pada soeatoe pagi sekira djam 10 saja liat surveiliant datang dengen seorang Belanda seoesia koerang lebih 50 taon. Di belakang mereka ada toeroet hoofdopzichter. Mereka menoedjoe kesel saja. Dan benar djoega pintoe depan diboeka oleh opzichter tadi dan itoe orang Belanda dengen diikoet surveiliant masoek. Saja samboet dengen boeroe2 pake badjoe saja jang kebetoelan saja boeka. Itoe tetamoe tanja apa ia berhadepan dengen toean Kwee dari Soerabaia? Saja bilang betoel dan silahkan ia doedoek dibangkoe. Surveiliant lantas berpamitan dan tinggalkan kita berdoea.
Saja Profesor Schepper, goeroe tinggi dari Recht Hoge School di Batavia dan Ambtenaar dari Reclasseeringsdinest kenalkan tetamoe itoe pada dirinja sendiri, Maaf professor, jang saja tjoema bisa terima koendjoengan professor dengen tjara begini, djawab saja seraja oendjoeken pada kaki saja jang telandjang dan dikedoea mata gelangnja , ada tanda koelit hitam jang tebal, saking lamanja tidoer diatas tikar. Kita bisa bitjara keadaan persoerat-kabaran di Soerabaia dan lain2. toean Professor Schepper tjoema tjari “aanloop” sadja boeat moelai dengen maksoed sesoenggoehnja dari koendjoengannja. Dan achirnja itoe saat datang djoega ketika ia bilang jang ia ada Ambtenaar boeat Reclasseeringsdinest, dinas pamarentah boeat toendjoeken djoeroesan mana jang betoel soepaia djadi rakjat jang baek dan menoeroet. Saja bilang, barangkali professor keliroe, sebab saja rasa tida perloe direclasser, sebab masoeknja saja dalem pendjara boekan karena lakoeken kedjahatan tetapi sebab bertentangan pendapat dengen jang berkoeasa. Oempama saja; saja ada djoernalies jang tjoba berantas adanja itoe pemisahan jang pintjang antara sama2 onderdaan jang satoe Nederland dan jang laen niet Nederland alias Inlander. Sama2 rakjat dari satoe pamarentahan, satoe bendera en toch tepatnja seperti langit dan boemi.
Kebetoelan makanan siang datang; saja minta permisi dan keloearkan piring dan moek saja, jang mana kamoedian saja taroh di medja boeat professor Schepper liat sendiri. Djika saja oendjoekan ini semoea nasi merah, tempe reboes dan sajoer kangkoeng, boekan saja tjoema perhatiken soal tangsel peroet sadja, tetapi bandingkan ini dengen menoe boeat orang hoekoeman Eropa.
Soedah sama2 dalem pendjara, sama2 dihoekoem en toch..! saja oendjoeken professor Schepper pada tikar dan bantal saja, pada keadaan kaki saja dengen tanda2 hitam dipengelangan kaki, kasoedahan dari teroes mengelesat diatas tiker dan tjara tidoernja orang hoekoeman golongan Eropa. Apa lagi diloear pendjara..! Apa itoe semoea tida bisa timboelkan rasa sakit hati pada Professor Schepper sendiri, andaikata Professor Schepper golongan Inlander. Dan bitjara tentang pengadilan, Professor Schepper sendiri ada seorang sardjana hoekoem. Pasti tahoe bagaimana besar adanja perbedaan antara pengadilan Landraad dan Raad van Justitie. Boeat saja, poetoesan hoekoeman Raad van Justitie beriken lebi rasa poeas dari pada di hoekoem oleh Landraad di Raad van Justitie tiap anggotanja ada Messter in de Rechten (sardjana hoekoem) dan tiap anggotanja berhak boeat madjoeken pertanjaan2 pada terdakwa tetapi di Landraad (dimana saja menghadap sebage terdakwa) jang sardjana hoekoem ada Voorzitter, Mr Wienecke dan anggota2nja menoeroet penilaian saja, ja tjoema soepaia keliatan komplit sadja. Apalagi jang diseboet sebage “advizeur voor Chinesse zaken”. Ia ada toekang soempah saksi boeat pasang “hio” didepan gambar Kwan Kong, Kwan Peng dan Tjioe Tjhong, boeat mana ia dapat honorioem satoe atawa doea goelden. Ia tida mengerti bahasa Belanda. Waktoe salah satoe perkara akan dipreksa oleh Mr Wienecke, saja liat sendiri bagaimana si “advizeur voor Chinesse zaken” lagi doedoek mengantoek di kerosinja dan ketika Mr Wienecke tanja; “bagaimana advizeur?” ia kaget bangoen dan boeroe2 bilang; hamba kandjeng moepakat!.
Professor Schepper sendiri tida bisa semboenjiken senjoemnja. Saja bisa kasih kepastian padanja bahwa apa jang saja toetoerken itoe ada hal jang benar, boekan khajalan belaka. Professor Schepper kamoedian terangkan pada saja, tida moengkin boeat rombak semoea Landraad mendjadi Raad van Justitie. Boeat ini Kandjeng Goebernemen tida poenja tjoekoep banjak oewang. Saja djawab bisa dimengerti jang ada amat soekar oentoek perpadoeken dasar djoerang dengen poentjak goenoeng. Kalaoe djoerang tida bisa diangkoet naek poentjak, goenoeng jang haroes dipatjoelin agar perbedaan antara dalemnja dasar djoerang dengen tingginja poentjak goenoeng tida begitoe menjolok mata.
(X)
Professor Schepper terangkan, boeat saja toch tida soekar oentoek oempama minta gelijkstelling, persamaan hak dengen orang Belanda. Saja ketawa dan terangken bahwa persamaan hak dengen orang Belanda di Singapore? Saja ada Inlander, toedjoeh toereonan pamili saja lahir dan mati disini. Kalaoe saja dengen kawan sepikiran dan senekad tjoba seberapa bisa adakan perobahan agar tingkat Inlander kita bisa diangkat naik seloeroehnja, biarpoen, mesti alamken penderitaan. Itoe tida apa. Saja sampe masoek pendjara tida boeat retjokin diri sendiri. Kamoedian dengen samar2 Professor Schepper oendjoeken sepintas laloe, kalaoe hendak perhatiken keadaan diri saja sendiri seperti dalem hal kedoedoekan dan sebagenja ia bersedia oentoek bantoe apa jang ia bisa. Saja hatoerken banjak terima kasih dan harap satoe waktoe saja bisa datang oentoek tagih djandjinja. Tida boeat saja pribadi, tetapi boeat “Inlander in z`n geheel” seloeroehnja. Beginilah adanja gambaran dari 5x koendjoengan toean Professor Schepper pada sel saja di pendjara Tjipinang. Saja dapet anggepan, ia ada seorang jang bisa toeroet rasakan apa jang adil, apa jang tida. Tetapi ja..................Ambtenaar is Ambtenaar, niet waar?.
----$$$-----
Waktoe saja pergi keroemah sakit oentoek minta obat karena badan dirasakan koerang eank dengen sepintas laloe baroe saja bisa liat kombali tampang moeka dari tetangga2 saja dan sembari djalan kami teroes saling pandang dan saling kaokin, mala saja sampe djalan moendoer ketika soedah lewat sel 3.
Si hoofdopzichter jang hantar saja, saja benar apa saja sakit. Natuurlijk, djawab saja, hoewel nog niet dood selagi toenggoe rampoengnja obat pil, saja berada diroewangan dimana saja liat atas bale2 ada mengeletak toeboeh seorang hoekoeman. Waktoe saja raba kakinja dirasa kakoe dan dingin sekali, ternjata ia soedah mati. Kasian, dari mana asalnja, kedjahatan apa jang dilakoeken hingga sampe ia masoek pendjara dan sekarang soedah bajar loenas segala hoetang-pioetang di doenia. Selagi toenggoe diboengkoes 3 pil, saja tanja pada mantri apa saja boleh dapet 2 saroeng bekas jang soedah diboewang dipodjok sana. Itoe kaen toea penoeh dengen bekas obat tjair boeat lawan koedis dan borok. Saja tahoe, kapan di Soerabaia toch saja pernah mendjabat sebage pembantoe mantri.
Atas pertanjaannja saja bilang boeat oesir njamoek, ia beriken pada saja apa jang diminta. Sepoelangnja Gondo tanja apa jang saja bawa sembari toeding pada kaen bekas jang saja boentel djadi satoe. “Boeat selatamatan `ndi Hospital” kata saja.
Di sel memang kita dilarang tida boleh poenja korek api, tetapi tali api jang menjala boeat soeloet rokok kawoeng kita diperbolehkan. Takoet kalaoe kehabisan api ditengah malem, maka saja bikin tali api jang pandjang sekali dari kaen toea jang dirobek dari tjarikan jang kamoedian diplintir djadi satoe, saja libatkan tali api pada roedji besi diroewangan dalem hingga banjak bagean jang oendjoeken bekas tanda koening kebakar. Si surveiliant, kalaoe lagi kontrol roewangan blok kita, poera2 tida liat itoe, ia pikir pertjoema beroending sama Tjina gila.
Satoe waktoe surveiliant tanja apa saja maoe tjaboet benang? Saja bisa dapet tambahan 20 sen tiap kilo. Saja setoedjoe dan begitoe lah sorenja dilever 2 karoeng besar penoeh dengen potongan kaen dari segala matjam jang dipotong ketjil2. Pekerdjaan tjaboet benang gampang dilakoeken; dengen djari djempol dan teloendjoek dari tangan kiri kita pegang sepotong kaen dan dengen idem dari tangan kanan kita moelai tjaboetin benangnja. Dan tjaboetan ini besoknja akan digoenakan sebage “poetskatoen” kain lap. Dalem teori memang moedah sekali, boekan ? tapi tjoba dalem praktek. Dalem satoe djam saja moelai tjaboet, djempol dan djari teloendjoek dari tangan kiri rasanja seperti bengkok, oeratnja tida maoe loeroes lagi, sedang djempol dari tangan kanan oedjoengnja dirasakan seperti kebakar dan dapetnja benang, ja, belon satoe kepelan. Mana itoe “kilo” dan 20 sen....?
Saja tida sanggoep siksa diri lebi lama. Paling baik isinja itoe doea kantong dikasih laen koadjiban. Saja seret doea2nja kebale, tjaboet tikar saja dan gelarka itoe semoea potongan2 kaen dibawahnja. Kamoedian tikar dipasang lagi dan toean besar boleh menggelojorkan toeboehnja diatas tikar jang dirasakan empoek sekali. Ini toch ada lebih baek daripada menboeroe kekajaan doenia boekan....?
Selang 3 minggoe dari terima pekerdjaan tjaboet benang, surveiliant datang lagi boeat kontrol hasil pekerdjaan saja.
Saja toeding pada kepelan benang di oedjoeng medja. Dan dimaan potongan kaen jang lain ? tanja ia dengen nada jang soedah moelai oendjoek djengkelnja. Saja bawa ia masoek ke bale saja dan tarik tikar.
“Neen....! Neen...! dat is niet dee bedoeling...! treak ia saking goesarnja.
Ini boekan maksoed dan diwadjibken.
Kasih masoek semoea potongan kaen dalem doea karoeng lagi, jang kamoedian oleh opzichter dibawa pergi.
Habislah impian saja mendjadi toean besar dan poelang asal sebage orang hoekoeman Inlander. Apa maoe dikata doenia memang terpoetar.
Barangkali sebab masih dongkol dikira saja permaenkan ia dengen tjaboet benang, ia awasin saja. Saja soedah pikir, ini semproel tjari laen gara2 lagi dan benar djoega anggepan saja. Sekarang jang bikin ia kesandoeng jalah ramboet saja jang soedah keliatan gondrong, sebab sedari datang dari Soerabaia belon pernah di goenting lagi. Ia bilang dalem pendjara semoea orang mesti di milimeter ramboetnja, seraja toeding pada sekompoelan orang hoekoeman perantean jang lewat dengen angkoet kerandjang makanan. Saja tida moe sebab toch tida lama lagi saja akan merdeka.
Ja, maar`t is een moeten...! kata si surveiliant, jang tjoba djoeal lagi ia poenja “gertak londo”.
Djangan tjoema bisa toeding pada perantean jang begini sadja, kata saja jang djoega moelai djengkel. Dateng kekantor dan tjaboet semoea petji dari pada djoeroe toelis perantean. Mereka semoea piara ramboet pandjang. Kalaoe mereka di milimeter ramboetnja saja bersedia boeat ditjoekoer klimis.
Sentrogantol ini memang satoe waktoe haroes diseroedoek balik. Ia tida bilang apa2 lagi dan poera2 “kontrol” ini dan itoe kebon dan bak mandi, ia mengelojor pergi.
---$$$---
Tank ditembok sebelah loear dari sel saja soedah ditoetoep, begitoe poela pintoe roedji dari roewangan boeat tidoer. Kita masih ada tempat tjoekoep loeas boeat doedoek dibelakang roedji pintoe atawa djendela. Lontjeng kantor kedengaran berboenji 7x. Dengen diterangin sinar boelan jang moelai moentjoel keadaan di sel saja keliatan sangat bagoes, aman dan tentram. Bisa timboelken orang poenja perasaan sedih tertjampoer girang, goendah-goelana katanja kamoes Indonesia.

Penghoeni Kalisosok


(VII)
Sesoedah di stasioen kita ditempatkan di peron tengah, saja liat seorang lelaki mendatengin kami dengen menbawa boengkoesan. Sesampe dikita ia bilang pada sersan ingin ketemoe sama saoedaranja Kwee dari Soerabaia. Karena saja tjoema satoe2nja “Inlandse Chinees” maka saja lekas berdiri, di ikoetin oleh 4 kawan nasib serentengan.
Memang adanja borgolan dengen rante itoe kita berlima seolah-olah kawan jang lebih sehidoep semati dari pada sepasang soeami istri. Oempama kalaoe dikereta-api salah satoe dari kita hendak kentjing, lima-limanja haroes ikoet, toenggoe sampe itoe oepatjara soedah selesai, baroe lima-limanja balik ketempatnja.
Ternjata jang datang itoe ada Bratanata jang kamoedian satoe pers boereaoe di Tjirebon dari mana “Soeara Poeblik” djoega mendjadi langganan`nja.
Koen Hian soedah kawat tentang kedatengan saja seraja dalem soerat laen ia pesan oentoek Bratanata beliken boeat saja 10 pak tembako van Nelle berikoet kertasnja “Mediano”. Maka itoe adanja itoe boengkoesan jang diserahken pada saja. Kita bertjakap-tjakap tentang hal jang mengenakan soerat kabar dan laen2 lagi. Bratanata djoega beriken saja 10 goelden.
Ketika kereta api datang kita berpisah dan ia pesan agar saja datang Tjirebon lagi dan menginap di roemahnja seliwatnja 1 November 1926. Tida lama lagi saling lambai melambai menandakan kereta api berangkat menoedjoe ke Messter Cornelies (Djatinegara). Di tengah perdjalanan tida ada kedjadian apa2; ditempat kereta api berenti, saja beli makanan apa sadja jang kena dibeli dan kita makan bersama-sama djoega dengen orang2 jang berada disekiter kita. Deket magrib masoeklah kita di stasioen Messter Coenelies, saja masih ada sisa oewang beberapa goelden jang saja beriken pada sersan jang baik itoe. Dan begitoe lah dengen tangan kanan masih teroes bawa boengkoesan saja dan tembako dari Bratanata di tjantelkan dikolor tjelana kita sama2 djalan kaki menoedjoe pendjara Tjipinang, Fierdaoes terachir.
Sesampenja disana jang terima kedatengan kita ada surveiliant. Dari tjatetan adanja orang2 hoekoeman jang dikirim dari Soerabaia ia tahoe siapa adanja saja. Ia lantas soeroeh boeka borgolan saja dan boengkoesan pakean saja diterimakan pada salah satoe pegawainja.
Boengkoesan tembako saja boleh dibawa ke sel serta lebih djaoeh pada saja diterimakan 2 stel pakean perantean dengen perentah salah satoenja saja haroes pake sekarang dan pakean perantean dari pendjara Djokja jang nota bene soedah dipake 2 hari 2 malem teroes meneroes ditinggal.
Saja terima piring dari blik, moek boeat isi sajoer dan moek boeat minoem. Sesoedah itoe saja dengen diantar oleh seorang hoofdopzichter dibawa ke apa jang mereka namakan “blok politiek” saja dapet sel sendiri, pertjies seperti di Soerabaia. Ketika sampe laen2 sel soedah pada di koentji tetapi dari banjak kamar roedji saja dengen samboetan “selamat datang saoedara...!” di esoknja, sesoedah sel kami diboeka, saja berkenalan dengen kawan2 baroe itoe. Kita saling salaman dan sehabisnja itoe selaloe saja dengar pertanjaan “saoedara ada tembako sedikit” Tentoe sadja saja bagi seorang dapet tembako tjoekoep boeat beberapa glintiran jang diboengkoes dengen daon kawoeng. Barang tentoe tida semoea bisa dapet bagean; djoemlah mereka koerang lebih ada 300 orang, saja satoe boengkoes oentoek diisap sendiri.
Ternjata mereka ada orang2 komunis jang akan dikirim ke Boven Digoel. Pekerdjaan jang diberiken pada kita jalah tjoema pakoe sadja potongan papan jang soedah digerdjadji lebi dahoeloe. Tetapi mereka itoe (dasar pengroesak) boekan pakoe potongan papan djadi peti, hanja sebaliknja poekoel potongan papan itoe sampe hantjoer. Lantas saja dengar adjakan mogok makan sebab makanan jang diberiken tida tjoekoep, katanja. Saja maen moepakat sadja; apa jang saja djoega bisa berboeat? Satoe lawan 300..........!
Di esok paginja lagi satoe hoofdopzichter datang disel saja dan bilang saja haroes bawa segala saja poenja “hebben en houwen” di loear. begitoe lah saja angkat tikar, bantal, pakean jang laen stel, piring dan moek en “klaar is kees” djawab saja pada itoe pegawai. Ia lantas bawa saja ke kantor menghadep surveiliant jang tanja apa saja seorang komunis? Saja djawab, saja boekan komunis dan belon pernah mendjadi komunis. Tetapi kenapa kamoe masoek di blok politiek?
Bagaimana saja bisa tahoe? Saja dibawa ke blok itoe.
Surveiliant keliatan oering-oeringan; roepanja ia berboeat satoe kekeliroean besar dengen maen toetoep saja di blok komunis.
Achirnja laen hoofdopzichter diperentah bawa saja di blok 1.
Ini blok satoe bisa diliat dari djalanan jang hoeboengken pintoe depan dengen bagean belakang. Saja oentoeng dikasih sel 1 jang pertjies berada di oedjoeng hingga saja dapet pemandangan jang djelas atas seloeroeh djalanan sampe di pintoe pendjara.
Penghoeni sel 2 dan selebihnja (semoea ada 6 sel diblok saja) jang menghadep djalanan jang menoedjoe ke roemah sakit pendjara matanja selaloe kebentrok pada tembok belakang dari laen bagean.
Sel saja besarnja seperti sel bagian Eropa di Kalisosok. Saja kasih selamat diri sendiri ketika lempar tikar dan bantal saja (isi roempoet kering boekan kapok) dibale permanen disel bagean belakang.
Dan begitoe lah saja moelai penghidoepan saja di pendjara Tjipinang.

Firdaoes Terachir
Andai kata kita berdoea pergi ke gwamia sinse, achli noedjoem, boeat tanja masing2 poenja nasib, pasti itoe achli akan bilang, peedji beehap, bintang tida tjotjok satoe pada laen, hingga saban kali mesti saling bentji-membentji. Kalaoe itoe keadaan mengenakan sepasang soeami istri, roemah tangga hantjoer dan kita akan bertjerai.
Maaf, saja liat pembatja keroetken djidat dan awasin saja dengen sorot mata seolah-olah perasaan djengkel moelai timboel.
Keliroe pembatja, djika diatas saja toelis “kita berdoea” saja maksoedken boekan pembatja dengen saja, tetapi saja dengen surveiliant dari pendjara Tjipinang. Dari bermoela ia memang tida soeka pada saja jang dianggap mendjadi lantaran hingga ia dapet “opdondering” tegoran jang keras dari pihal atasnja karena dengen tjara serampangan kasih masoek saja dalem blok komunis, bakal pendoedoek Boven Digoel di koempoelkan. Barangkali ini surveiliant pikir, ini Tjina ada djoernalies jang di hoekoem karena berani melawan Kandjeng Goebernemen, does ia ada satoe komunis.
Tjap begitoe di itoe waktoe memang moedah dikasih oleh pihak jang pegang kekoeasaan, kwalitet si surveiliant. Dan sesoedah ia ditegor boekan ia tjari kesalahan pada diri sendiri, tetapi sebaliknja timpahkan moekanja pada korban jang dianggep mendjadi sebab ia dapet djeweran dan dampratan.
Apa maoe dikata mentalitet begitoe memang kadang2 bisa diketemoeken.
(VIII)
Keadaan di pendjara Tjipinang banjak lebi menjenagkan daripada di Kalisosok. Tempatnja lebi loeas, sel saja sebesar sel golongan Eropa. Bagean tempat tidoer dengen balenja dari djati jang ditempelkan ditembok ada lebi besar dan kakoesnja lebi modern. Tida pake tong lagi hanja tiap seperempat djam otomatis aer tank jang berada disebelah loear dari tembok sel saja keloear dengen deras sekali lewat disolokan jang hoeboengken kakoes dari 6 sel. Tetapi moelai dari djam 6 sore sampe djam 6 pagi selokan kering sebab tang ditoetoep tiap pagi hoofdopzichter boeka pintoe roedji dan kamoedian pintoe dari bagean kita tidoer. Di pintoe dedpan soedah ada menoenggoe orang2 hoekoeman lain jang bawa kerandjang nasi merah ploes garem atawa lombok dan saban orang2 dapet satoekan pantji besar isi aer panas boeat minoem kami tiap hari. Kita tjoema tinggal sodorkan piring dan toenggoe dibelakang pintoe. Belon pernah kita diidzinkan keloear dari sel. Begitoe djoega dengen makan siang dan sore. Kalaoe soedah terima bagean kita dibelakang pintoe depan, pintoe itoe ditoetoep dan kita “merdeka” boeat berada dikebon kita, diroewangan depan atawa mengeletak ditikar bagean tempat tidoer. Tida ada satoe orang jang mengganggoe. Pendek kata kita mendjadi radja disel kita sendiri.
Didekat pintoe depan ada bak dengen kran aer ledeng dimana kita mandi dan tjoetji pakean. Tiap pagi atawa segala waktoe kita boleh mandi. Biasanja sesoedah terima nasi sarapan. Saja latihan tarzan-tarzanan di roedji jang toetoep kebon dibagean atas. Lantas lari ke kebon dan dibagean jang ditoetoep sama djoebin. Sasoedah napas jang senggal2 kembali normal, saja masoek sadja dalem bak dengen kran aer teroes diboeka, siapa jang larang? Pernah si surveiliant, jang tiap minggoe kontrol sendiri semoea sel di itoe blok tegor saja, apa diroemah saja djoega mandi dengen tjra begitoe? Ia tanja, saja djawab di roemah saja mandi dengen goenakan doea douche jang diboeka berbarengan sembari saja berada dalem “badkuip” jang krannja boeat aer panas dan dingin tetep diboeka. Ia tjoema golengken kepala dan teroes pergi. Soedah dibilang dibandingkan dengen laen, sel saja poenja ada jang paling eank ditinggalkan, oempama boengalaoe begitoe masoek golongan jang mahal. Di sebelah kiri, roedji hingga kita bisa dapat pemandengan terboeka; dipintoe depan roedji sampe lewat bak mandi. Lantas tembok jang teroes mendjoeroes kebelakang. Berada dikebon saja bisa dapat pemandengan jang loeas didjalanan jang menoedjoe ke pintoe pendjara, hingga bisa liat tegas siapa sadja jang masoek keloear. Sel jang laen sama besarnja, tjoema kiri kanan tembok meloeloe. Dan pemandengan kedepan jalah djalanan keroemah-sakit dengen tembok tinggi disebrangnja.
Sel nomor 2 ada tinggal Gondo, djoernalies dari Djokja dan di sel no 3 Mohamad Zain dari Soematra tengah. Semoea masoek pendjara karena delict dan politiek. Sel 4, 5 dan 6 kosong. Djarang sekali kita saling ketemoe, tjoema kebetoelan hendak ke roemah sakit sadja. Sebab perhoeboengan begitoe dilarang, kapan ada itoe “isolatie systeem”. Tetapi perhoeboengan oedara antara kita bisa digoenakan dengen merdeka dan dengen sepenoeh-penoehnja di segala waktoe, baik siang maoepoen malem. Dengen perhoeboengan oedara saja maksoedkan kita bisa saling kaokin siapa jang larang ? tiap hari pada kita biberken 8 sen, ditaboeng dalem satoe minggoe djadi 56 sen. Dari ini djoemlah 48 sen kita boleh goenakan boeat belandja. Pada hari Djoemaat kita toelis disepotong kertas apa jang hendak kita beli menoeroet “prilist” jang kita dapet dari pemborong makanan pendjara.
Djadi tida boleh pesan menoeroet keinginan kita sadja. Sisa 8 sen tiap minggoe dikoempoel dikantor, oewang sangoe kalaoe besok kita di merdekakan lagi.
Saja pesan boeboek kopi, goela poetih beberapa matjam koewe dan achirnja sampai apa jang akan dibeli dengen sisa oewang satoe sen. Saja liat di “prilist” koewe bola satoe sen. Ingin tahoe apa koewe bola itoe saja pasang sekali. Di hari minggoe pagi kita bisa terima pesenan kita dilever didepan pintoe. Sesoedah saja preksa pesenan menoeroet list jang dikasihkan di hari Djoemaat ternjata jang itoe koewe bola......... Ja Goesti, ampoen..! koewe bola itoe ada onde-onde..! Dan begitoe lah sesoedah mandi dan ganti pakean (jang kotor akan di tjoetji nanti, kapan ada sedia aer tjoekoep dan soedah terima sepotong saboen tjoetji boeat pemakean 1 minggoe) saja doedoek bersila di kebon dengen didampingin pantji penoeh aer panas dan moek kedalem mana saja toeang kopi boeboek dan goelanja sekaligoes.

Sunday, March 05, 2006

Penghoeni Kalisosok V + VI

(V)
Kami digiring masoek dalem roewangan jang amat loewas, bisa beri tempat pada kita semoea. Dibagian tengah ada doea tong besar, satoe penoeh aer dengen jang laen masih kosong, toenggoe diisi oleh mereka jang ingin djongkok diatasnja. Dan kalaoe ada kedjadian begitoe, toch, boeat kita itoe semoea djamaknja seperti kami liat tiap pagi mata-hari terbit. Baik jang djongkok diatas, maoepoen jang tidoer gelimpangan di djoebin dibawah, masing2 bisa pasang omong, bisa saling ketawa dan saling membanjol. Saja djoega tidoeran diantara mereka dengen goenakan boentelan tikar isi pakean saja sebage bantal. Dengen pake pakean seragam dan dalem keadaan seroepa nasib, rasa persaoedaraan dan berkawan memang lebih tjepat mendalam. Seroepa perasaan seperti waktoe saja pake uniform stadswacht terhadep kawan2 di zaman itoe.soeasana ada tjoekoep mesra; ada jang ketoprakan, oero2, ada jang mendalang dan lagi pertoendjoekan perangnja Damarwoelan contra Menakdjinggo. Kalaoe ada jang tidoer, tidoernja poen merem-melek sadja. Tetapi semoea pada bergembira, kira2 djam 3 pagi kami dikasih tahoe haroes bersedia boeat berkoempoel didepan kantor pendjara. Tida lama lagi kami digiring meroepakan kelompok dari 5 orang. Di malemnja saja soedah pilih 4 kawan jang dengen saja akan meroepakan satoe rombongan jang borgolannja akan digandeng dengen satoe rante besi. Sesampenja didepan kantor kami diborgol dengen rante pandjang didjadikan satoe kelompok. Djoega saja dengen 4 kawan itoe. Si hoofdopzichter godverdom soedah repot dengen tereakin orang2 hoekoeman ........”djongkok......!, djongkok.......!” saja bilang pada 4 kawan saja oentoek tetep berdiri. Ketika itoe opzichter godverdom dateng dekat saja dan liat kami masih tetep berdiri, ia tanja dalem bahasa Belanda kenapa kami tida djongkok, saja djawab, djoega dalem bahasa Belanda, tida ada oendang2 pendjara jang mestiken kita haroes djongkok. Dan saja andjoerin kawan2 senasib saja akan tetep berdiri. Itoe opzichter godverdom masih mengeroetoe tetapi ia antepin sikap kami. Jang lain2 pada djongkok dan dengen goenakan boekoe pandjang jang tebel salah satoe mandor moelai hitoeng:....dji....., ro...,loe...., pat... , mo....(satoe , doea , tiga, empat, liam) dan saban kali ia ketok kepala orang dengen boekoe tebal itoe. Sampe itoe orang2 hoekoeman toenggoe gilirannja boeat diketok dengen lindoengin kepalanja dengen doea tangan. Ini ada hasil dari sikap main “noon inggih, `ndoro”, begitoe lah saja terangken pada kawan2 dengen siapa saja dihoeboengken dengen sepotong rante.
Saja memang minta dirante di oedjoeng, karena kalaoe ditengah, selagi djalan, djalan kita seperti kepiting, kamoedian pada kami diberi satoe boengkoes nasi, seorang satoe, saja berikan boengkoesan saja pada kawan dari lain kelompok, si opzichter godverdom lantas tanja kenapa saja berboeat begitoe. Saja bilang nasinja soedah mengiler karena soedah diboengkoes dari kemaren sore. Bermoela ia roepanja hendak oembar lagi godverdom nja, tetapi kamoedian ia inget jang saja ada itoe orang jang djandji akan kembali di Djokja boeat tjari ia begitoe lekas saja merdeka tanggal 1 November 1926. ia menggeroetoe apa tida kedengeran tegas tetapi ia balikin badannja dan teroes pergi ke laen djoeroesan.
Poekoel 4 lewat kita moelai digiring kestasioen kereta-api; sekarang jang hantar ada militer. Sersan jang djaga kelompok saja ada seorang djawa dan tentoe sadja lambat laoen via bahasa jang kami berdoea kenal baik kami mendjadi seperti kawan baek, kami mendjadi seperti kawan sedjati, tjoema ia pakean militer dan seragam saja pakean perantean. Berangkat kami tentoe sadja dengen djalan kaki. Sembari tangan kanan bawa boentelan tikar saja, tangan kiri diborgol pada 4 kawan laen. Sesampe di stasioen kami disoeroeh berkoempoel di peron. Selagi doedoek disana dari tempat rada djaoeh saja liat ada doea kawan saja, Hway Tjin dan Lin sik pada tjelingoekan diantara penoempang. Roepanja mereka tjari saja sebab Koen Hian soedah kirim kawat kasih tahoe saja boleh berangkat dengen pakean biasa. Saja kaokin mereka dan boeroe2 mereka datang dengen heran djoega ketemoeken saja diantara orang2 perantean jang lain. Saja terangkan doedoek perkaranja. Lin sik bawakan saja seboengkoes lemper, onde2 dan lain makanan sedang dari Hway Tjin kembali saja terima 10 goelden. Hampir dekat djam 6 kereta-api berangkat dan berpisahlah kami, sama2 ketawa dan bergoeraoe.
Ditengah djalan saja goenakan setengah dari 10 goelden itoe boeat beli ini dan itoe. Djoega oentoek kawan2 jang doedoek dekat pada saja. Si sersan tentoe sadja djoega kebagian.
(VI)
Sesampenja di Kroja dan selagi keretanja berenti, saja awasin keriboetan di stasioen dari djendela jang ada roedjinja. Zonder sengadja saja doedoek dengen toendjang djangoet saja dengen tangan. mendadak dideepan djendela saja liat ada satoe perempoean Tionghoa seoemoer iboe saja. Ia bawa anak gadisnja dan doea anak lelaki. Meliat saja ketara sekali itoe njonja keliatan sangat terharoe. Djoega anak2nja. ...”Kenapa tjoe..? tanja ia dengen soeara perlahan. ....”Oo. tjim...! djawab saja.
“Soedah djangan pikirkan saja, anggap sadja saja soedah mati. Saja asal Banjoewangi dan di hoekoem 20 taon pendjara...! Soeara treakan tertahan kedengeran dari itoe njonja jang baek hati dan anak2nja djoega kaget dan terharoe, “20taon....! kenapa, kenapa tjoe?
“Saja boenoeh orang”....! djawab saja sembari toendoeken kepala boeat semboenjiken geli saja.
Ketika kereta-api hendak berangkat lagi, itoe njonja jang baek hati beriken saja boewah2an dan makanan. Saja achirnja maloe dan maki diri sendiri, soedah permaenkan seorang toea, zonder dipikir lebi pandjang. Kalaoe orang soeka oegal-oegalan zonder liat tempatnja beginilah achirnja.
Ketika kereta-api masoek stasioen Tjirebon, hari soedah moelai gelap. Dan apa maoe hoedjan gerimispoen moelai toeroen, seolah-olah langit toeroet koetjoerken aer-mata meliat tjara bagaimana Kandjeng Goebernemen maen angkoet rakjatnja jang di hoekoem (rakjat jang golongan Inlander) dari satoe pendjara ke laen pendjara. Saja oesoelken pada sersan jang hantar kami boeat mampir di waroeng sebentar, ia setoedjoe dan begitoe kami berlima dengen pengantar masoek disatoe waroeng nasi dan boeroe2 tangsel peroet.
Rombongan jang laen soedah djalan teroes. Sehabis makan dan minoem kopi, saja bajar dan sisanja oewang ditengah djalan saja terimakan pada sersan kawan saja tadi. Dalem pendjara segala apa di djamin djadi oewang tida ada goenanja. Karena terlambat datang, bisa dimengerti jang hoofdopzichter jang haroes tilik kedatengan kami, mendongkol boekan maen. Kali ini jang didamprat adalah si sersan.
Saja bilang jang salah dalem halnja kami datang terlambat, ada saja. Sebab saja jang minta sersan boeat mampir sebentar di waroeng, sebab saja amat lapar. Ini opzichter ada lebih berperasaan dari koleganja di Djokja. Tetapi laen kali djangan sampe terlambat datang mengarti? Saja djawab, saja harep tida ada laen kali lagi, sebab siapa jang ingin keloear masoek pendjara? Kami sama2 goenakan bahasa Belanda. Itoe opzichter ketawa, soedah dibilang ia itoe ada lebih berperasaan manoesia dari koleganja si opzichter godverdom di Djokja. Sesoedah semoea kontrol beres, kita digiring masoek satoe roewangan jang lebih ketjil hingga tidoer kita djoega dekat satoe pada laen. Pakean kita rada basah. Sebab disepandjang djalan dari stasioen sampe pendjara teroes ketimpah hoedjan gerimins. Tetapi Toehan ada pemoerah dan penjajang. Diwaktoe pagi sekali kita digedor bangoen, tida ada sepotong pakean jang masih basah. Semoea mendjadi kering, karena hawa diroewangan jang tjoema sebegitoe mendjadi sangat panas dengen tertoempoeknja begitoe banjak orang. Sesoedah dikasih tempo boeat menghadep tong jang ditaroh disatoe podjok di mana kami dari tong di sebelahnja djoega boleh tjoetji moeka. Kita disoeroeh koempoel didepan kantor. Kombali saja dengen 4 kawan jang kemaren di borgol dan digandeng djadi satoe. Jang laennja djoega begitoe, tetapi waktoe mereka djongkok, kita berlima tetap berdiri. Itoe opzichter poera2 tida liat apa2. kita diberi seboengkoes nasi merah jang soedah rada keras dengen sepotong ikan asin, boeat sarapan pagi.
Sesoedah kontrol penghabisan, ternjata soedah beres, moelailah kita djalan lagi menoedjoe stasioen.

Saturday, February 25, 2006

Penghoeni Kalisosok (III, IV)

(III)
Direkteur pendjara Kalisosok, Boomer, jang saja djoega kenal diloear pendjara, ada orang jang haloes perasaannja. Ia mengerti bagaimana keadaan moril saja djika hari ketemoe hari haroes berada dalem sel sendirian. Begitoelah ia kasih saja bekerdja di kantor pendjara, tetapi dengen perdjandjian se-waktoe-waktoe saja bisa distop bekerdja. Saja mengerti; dengen pikoel resiko melanggaran penetapan satoe djoernalies tida boleh tjampoer gaoel dengen lain2 orang hoekoeman karena koeatir menghasoed dan sebagenja, sebenernja Boomer tjoba entengkan itoe system poentoelken kegiatan berpikir kita. Saja hargaken sikap itoe dan sanget berterima kasih kepadanja, boekan sebab perbolehkan saja bekerdja dikantornja, tetapi djoesteroe karena berani dengen kemaoean sendiri pikoel risiko boeat entengkan penderitaan batin saja.
Begitoelah tiap pagi si sobat dari Makasar dengen saja berangkat menoedjoe kekantor; kita sekarang sama2 djadi kolega djoeroe toelis, boekan? Tetapi hal ini tida berdjalan terlaloe lama sebab kembali saja haroes dihadapkan dimoeka pengadilan Landraad di Sawahan dan kombali Mr Wienecke jang preksa perkara saja. Saja dibawa ke Sawahan tentoe sadja dengen pakean perantean dan kombali diborgol soepaia dandanan saja tida incompleet. Tjoema kali ini, dengen lain2 terdakwa atawa orang hoekoeman, kami diangkat dengen mobil tertoetoep dari pendjara, sebab kebetoelan tida haroes dipake boeat angkoet orang2 hoekoeman Eropa ke Raad van Justitie.
Begitoe saja toeroen dari mobil, siapa jang papak saja? Redacteur kota dari Soerabaia Jansen Hendelsblad. Dengen aer moeka jang terang sekali oendjoeken rasa masgoel liat pemborgolan saja, setjara demontratief ia berkali-kali berdjabatan tangan dengen saja. Saja ganda ketawa sadja dan kami bitjara pasal pesoerat-kabaran sebagaimana lajiknja djoernalies. Karena djoemlah delict jang saja mesti tanggoeng djawab ada banjak djoega, kali ini direksi “Soeara Poeblik” paksa saja pake sardjana hoekoem sebage pembela dan pilihan mereka djatoh pada Mr. Jaarsma, satoe advocaat jang waktoe itoe terkenal di Soerabaia. Sebab toch soedah poenja pembela, atas pertanjaan Mr Wienecke saja djawan, segala pembelaan perkara ini saja serahken pada Mr. Jaarsma. Dan saja merasa sedikit ketjewa ketika dengerken pledoi dari pembela itoe. Sebab ia ini dalem pokoknja tjoema tanja : “Ja, Meneer de Voorzitter, wat is poebliek? Poebliek hangt los in de lucht” (Ja toean Voorzitter, apa artinja poeblik ? Poeblik tjoema beroepa sesoeatoe jang “goemandool” tampa tjentelan dioedara) dan kamoedian Mr Jaarsma boleh kantongin 200 goelden. Achirnja saja dihoekoem 3 boelan pendjara, atas poetoesan mana saja langsoeng njatakan akan naek banding. Zonder beremboek doeloe sama pembela, Mr Wienecke masih tanja, Zonder beremboek dan zonder pembela djawab saja. Selagi masih ada di gedong Landraad banjak djoega sanak saoedara dan kenalan pada datang menegok saja. Ada jang bawa makanan, rokok dan sebagenja. Soeasana ada gembira dan saban2 kedengeran gelak ketawa seperti orang lagi piknik sadja. Ketika soedah siap semoea, kami diberangkatkan kombali ke pendjara.
Saja tida bekerdja lagi sebage djoeroe toelis di kantor, hanja karena pertolongan Dr Hoesodo (dokter pendjara) saja diperbantoeken di roemah-sakit pendjara sebage...... pembantoe mantri...!
Artinja kalaoe ada orang jang baroe datang, saja diperbolehkan berikan obat loear, teroetama bagi mereka jang masoek golongan gelandangan, toekang tjopet dan pendjahat kelas entengan. Selagi toenggoe giliran boeat di preksa, semoea telandjang boelat seperti saja dahoeloe. Kalaoe semoea soedah diperiksa oleh Mas Hoesodo, jang ternjnata poenja loeka2 dibagian koelit, haroes dateng pada saja jang soedah sedia dengen obat tjair boeat dipoleskan dibagian jang loeka itoe. Ada satoe jang boleh dibilang seloeroeh badannja penoeh koreng dan borok. Saja soedah soeroeh ia berdiri lempeng kamoedian ambil sapoet seperti jang biasa digoenakan boeat laboer tembok, masoekan sapoet itoe dalem ember jang penoeh dengen obat tjaer dan kamoedian sapoet seloeroeh badannja. Roepanja ini tjara pengobatan ada radikal djoega karena dalem tempo 1 minggoe segala koreng dan borok mendjadi kering. Itoe orang masih nasib baik, bisa dapet pertolongan dari pembantoe mantri istimewa...!.
Mas Hoesodo boekan sadja ringankan kesepian saja dalem sel, tetapi djoega dengen mendjadi pembantoe mantri saja bisa dapet bagian soesoe sampi, jang memang disediaken oentoek personil roemah-sakit. Berapa lama saja bekerdja sebage pembantoe mantri, ini saja tida tahoe, tetapi kombali saja menganggoer lagi sebab........... kombali mesti menghadep Landraad boeat laen delict. Dan kombali Mr Wienecke jang mendjadi langganan saja. Kali ini zonder segala pembela, saja akan bela diri saja sendiri. Kasoedahannja : 6 boelan pendjara!!!! Saja lantas njataken hendak naek banding. Doea perkara jang lain poetoesan bebas.
Jang berangkat dari Kalisosok itoe waktoe ada banjak orang, hingga roepanja sampe kekoerangan borgolan, hingga saja waktoe naek di mobil pendjara “dititipken” sadja pada salah satoe koempoelan perantean terdiri dari 5 orang terhitoeng saja. Ini namanja : “Het doel heiligt de middelen”, katanja Belanda.

“LOE RASAIN DEH”
Dipertengahan Djoeli 1926 rombongan kami terdiri dari koerang lebih 80 orang diberangkatkan dari pendjara Kalisosok dengen djalan kaki menoedjoe stasioen “Semoet”. Dengen dihantar oleh pasoekan polisi; mereka tentoe sadja pake pakean orang hoekoeman tiap lima digandeng satoe pada laen dengen borgolan dari rante besi jang tjoekoep pandjang.
Tjoema saja satoe2nja jang boleh bikin perdjalanan dengen pake pakean preman. Toeam Boomer, Directeur pendjara Kalisosok, jang tetepken saja boleh bikin perdjalanan dengen dapet itoe ketjoealian jang belon pernah diberiken pada seorang hoekoeman statoes Inlander. Boeat itoe hingga sekarang ini saja masih sangat berterima kasih padanja. Boekan sebab saja takoet dan maloe bikin perdjalanan sebage Inlander jang di hoekoem, tetapi karena toean Boomer berani atas risikonja sendiri, oendjoeken jang ia ada satoe-satoenja pembesar Belanda jang bisa bedakan mana si Inlander djoenalies dan mana Inlander jang mendjadi pendjahat biasa. Saja pake sepatoe dan kaosnja, tjelana dan djas dari dril poetih, kemedja komplit sama dasinja dan achirnja bawa djoega saja poenja topi “vilt Borsalino”.... Heibat apa tida toeh????
Dan doedoek saja poen tida dikereta jang biasa digoenaken boeat angkoet orang hoekoeman Inlander, dengen semoea Djendelanja dipasangin roedji besi, barangkali koeatir djika ditengah perdjalanan ada jang lontjat keloear.
Saja doedoek dikereta penoempang biasa dengen ditemani oleh seorang reserse pakean preman dan zonder di borgol. Pendeknja seperti penoempang biasa boeat orang jang tida tahoe. Kita moelai pagi soedah diberangkatkan dengen djalan kaki dari pendjara Kalisosok menoedjoe stasioen “Semoet”. Kita naek spoor kloenoek, djadi boekan express. Sebab Kandjeng Goebernemen tida bersedia boeat bajar satoe goelden setengah boeat tiap penoempang sebage toeslag djika naek express. Dengen naek express dari Soerabaia kita bisa sampe Batavia (waktoe itoe) dalem tempo satoe hari. Tetapi naek spoor kloenoek (tiap stopplaats, halte dan stasioen berenti) haroes menginap di Djokja; berangkat dari sana waktoe pagi sampe di Tjirebon soedah malem, menginap lagi akan esok paginja di kotjak poela sampe datang di stasioen Meester Cornelies (Djatinegara) sekira djam 6. teroes djalan kaki ke pendjara Tjipinang.
Diantara pembatja barangkali ada jang pikir tjara itoe toch berabe dan makan lebih banjak ongkos dari sekedar tjoema satoe stengah goelden.
Keliroe..!, anggepan begitoe, pembatja. Kapan di Djokja dan Tjirebon soedah ada sedia pendjara, tjoema tinggal giring masoek saja.
(IV)
Saja doedoek di kereta jang pertjis ada didepan kereta boeat orang hoekoeman. Oleh Koen Hian saja di “sangoni” 10 goelden boeat beli apa2 di tengah djalan. Djoemlah segitoe soedah lebih dari tjoekoep boeat zaman itoe. Banjak djoega kawan jang kasih saja selamat djalan. Sesampenja di stasioen Goebeng saja liat ajah saja berdiri dibawah lontjeng stasioen. Resersir jang djaga saja, kasih saja permisi toeroen dari kereta sesoedah saja kasih tahoe pada ia bahwa saja ingin berdjoempa ajah saja jang berdiri dibawah lontjeng. Begitoelah saja datang dengen si resersir ikoet dibelakang. Sesampe didepan ajah, saja boeka “Borsalino”saja dan sodja. Ia kaget liat goendoel saja, tetapi saja bilang padanja, ini ada permintaan saja sendiri. Saja sengadja pamerkan saja poenja pakean, boekti saja tida dikirim sebage perantean, (bisakah pembatja oekoer berapa adanja terima kasih saja pada kawan saja Boomer?). Tentoe sadja saja tida bisa terlaloe lama omong2 sebab statoes saja tetap orang hoekoeman.
Saja sodja poela dan minta ajah djangan soesah hati; toch tida lama lagi saja akan merdeka kembali. Ia lambaikan tangannjadan saja masih liat teges bagaimana ia boeka katja matanja boeat soesoet aer mata jang moelai menetes keloear. Tida lama lagi kereta moelai berangkat dan sampe djaoeh saja masih liat bagaimana ajah saja masih teroes lambaikan tangannja sampe stasioen Goebeng tida keliatan lagi.
Itoe 10 goelden saja goenakan boeat beli matjam2 koewe dan makanan jang djoega saja bagi2kan pada orang2 senasib jang berada didekat pintoe dari kereta jang berada dibelakang kereta saja. Gembira mereka boekan maen. Sesampenja di stasioen Djokja soedah magrib, ketambahan ada gerimis. Saja sewa andong dan dengen pendjaga saja kami lebih dahoeloe mampir diwaroeng nasi pesan nasi goedek jang djoega dimakan disana berdoea, si orang hoekoeman dan pendjaganja. Sehabisnja naek andong lagi dan sisah oewang saja kasih si resersir itoe boeat bajar koesir dan lebihnja boleh ia ambil. Toch dipendjara saja tida perloe oewang.
Orang2 hoekoeman jang laen soedah lama sampe, ketika saja baroe moentjoel; toeroen dari andong hoofdopzichter jang terima kita soedah moelai boeka batjotnja dari dalem mana soedah melontjoer setahoe berapa banjak godverdom nja. Makloem sebage pensioenan sersan KNIL dan sekarang sebage hoofdopzichter pendjara ia roepanja tida bisa hidoep zonder iapoenja stop word jang terkenal : godverdom!
Kita ada sedikit debat jang dilakoeken dalem bahasa Belanda. Saja terangkan, saja baroe datang dari waroeng nasi boeat makan di sana, sebab makanan di boewi Djokja tida eanak. Lebih djaoeh, atas pertanjaannja, saja bilang saja oleh Directeur pendjara Kalisosok di idzinkan pergi ke Tjipinang dalem pakean preman.
“.........Godverdom, disini Directeur Kalisosok tida ada hak apa2, mengerti? Boeka dan ganti itoe dengen pakean ini, katanja seraja lemparkan pada saja pakean perantean jang tadinja soedah bekas dipake.
Achirnja saja naek darah djoega. Saja djawab, hal saja disoeroeh ganti pakean, itoe ada haknja, tetapi boekan ia poenja hak boeat goejoer saja dengen ia poenja godverdom pada orang hoekoeman.
“Nanti tanggal 1 November 1926 saja soedah akan keloear dari Tjipinang dan kalaoe perloe saja bisa datang lagi dipendjara sini boeat tjari ia. Saja ingin tahoe sampe berapa banjak ia berani maen godverdom dengen saja. Kamoedian setjara demontratief saja banting pakean rantai jang ia tadinja lemparkan dan lantas boeka pakean preman saja jang saja boental djadi satoe, berikoet Borsalino sekali dalem selembar tikar.
Lantas dalem keadaan telandjang boelat saja sengadja dengen perlahan meloengsoengi djadi orang perantean lagi. Itoe opzichter masih menggerendeng maoenja sendiri tetepi ia keliatan tida begitoe boewas lagi.
Ia roepanja hendak djoeal apa jang biasa diberi nama “Gertak Londo”

Thursday, February 23, 2006

Penghoeni Kalisosok ....(I + II)


INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Penghoeni Kalisosok
(I)
Penghidoepan dalem pendjara Kalisosok tida bisa dibilang terlaloe menggembiraken. Sebab tiap hari sama sadja, segala kadjadian boleh diramal dengen djitoe, dari pagi djam 6 si Gareng (nama podjokan klooster, opzichter kita) boeka kadoewa pintoe roedji sel kita sampe liwat djam 5 sore, sasoedah itoe masoek kandang lagi. Tjoema pada kita diberi kemerdikaan boleh mimpi impian apa sadja jang kita kehendaki. Teroetama bagi si djoernalis, penghidoepan jang “geestelijk doodend” itoe (meloempoehken kegiatan berpikir) beroepa hoekoeman extra. Kita tida diper-rantean laen; baik pekerdja kasar (pikoel ini dan itoe, bikin bersih selokan, menjapoe dan sebagenja) atawa bekerdja di kantor boewi sebage djoroe-toelis. Satoe djoernalist dalem hoekoeman haroes di isolier, diasingkan, karena koeatir ia bisa pengaroehin pikiran laen pesakitan kalaoe diberi kalonggaran tjampoer dengen bebas. Does di zaman itoe djoernalist sematjam saja dianggep pestgevaarlijk. Oentoek lewatkan tempo, pada golongan saja oemoemnja diberi boekoe2 batjaan dan soerat kabar. Tetapi djangan ditanja matjam apa. Saja pernah terima boekoe Dik Trom, de avonturen van Krieltje, de polder jongen dan lain-lain boekoe batjaan boeat anak-anak. Dan soerat-kabarnja? Soedah basi satoe doea boelan. Derekan blok saja jang terdiri dari 9 sel terletak dekat blok boeat golongan Eropa, hanja terpisah oleh djalanan jang menoedjoe ke roemah-sakit.
Tiap minggoe satoe kali di sel saja ada datang “surveillant” pendjara, ini “surveillant” ada kepala dari semoea opzichter dan sebage directoer ke doea dari pendjara, ia diwadjibken tilik dan kontrol boewi dan penghoeninja. Oemoennja “surveillant” tida bisa dateng koendjoengin orang hoekoeman di sel-nja. Tetapi kepada saja ia bikin katjoealian; ia dateng boeat tengok sel saja dan tanja apa sadja ada hal2 jang dianggep tida sebagaimana mestinja, seperti dalem hal makanan, perlakoean para personil pendjara dan sebagainja. Ini pengetjoealian diberiken pada saja, si orang hoekoeman Inlander, memang menjolok mata. Barangkali sebab saja tjoema satoe-satoenja djoernalist jang itoe waktoe djadi penghoeni pendjara Kalisosok. Djoega sebab di loear pendjara sebage “orang preman” saja memang poenja banjak kenalan, baik dikalangan atas, maoepoen dikalangan pertengahan dan sampepoen diantara badjingan dan pendjahat ada djoega jang saja kenal. Kapan djoernalist itoe mesti all round, katanja. Saoempama orang merantjangharoes sedia tjoekoep boemboenja. Bertaon-taon lamanja saja poedji, tjela dan maki bahis-habisan segala apa jang menoeroet saja haroes dipoedji, di tjela atawa dimaki, teritoeng Kandjeng Goebernemen Hindia Belanda pembesar atawa preman, sobat, moesoh atawa pamili zonder pandang boeloe. Soerat-kabar Soeara Poeblik di Soerabaia, dimana saja toelis dengen nama pedengan “Tjamboek Berdoeri” memang oleh jang tida soeka di tjap sebage “oproerkraaier”, toekang tioep api pemberontakan, katanja mereka pro sana dan anti sini. Ini istilah sana dan sini boeat zaman itoe bisa diartikan sebage “Wilhelmus” atawa “Indonesia Raja”
Waktoe mengobrol dengen surveliant terseboet kami djoega sentoeh hal “levenshouding” (sikap menghadepin penghidoepan) saja jang oleh surveiliant tadi dianggep keliroe dan menjajangkan. Ia waktoe itoe banjak lebi toewa dari saja dan saja pertjaja maksoednja baik dan tjoba oendjoeken saja djoeroesan jang bener. Keliroe oentoek bentji pamarentah Hindia Belanda, tida bentji orang Belanda, diantara siapa banjak jang mendjadi sobat akrab saja, jang saja bentji, sangat bentji jalah itoe perbedaan antara sama2 onderdaan jang satoe Nederlander dan jang lain niet Nederlander, en toch kita sama2 menjanji “Wiem Neerlands bloed door de aderen vloeit” itoe surveiliant djawab, persamaan seperti jang diangan-angankan oleh saja memang bagoes, tjoema minta tempo jang lama sekali oentoek bisa diwoedjoetken. Karena kami (dimaksoedkan jang niet Nederlander) dianggap masih belon tjoekoep “mateng” itoe memang lebih dari karet, bisa dioeloer, ditarik ke kiri, ke kanan, dikepal-kepal djadi onde2. kita belon mateng boeat berdiri diatas kaki sendiri, boeat ambil poetoesan sendiri tetapi tjoekoep matang boeat mendjadi alat di kalangan pamarentah (jang bagean bawah tentoenja, disebabken oleh belon kematengan itoe) tjoekoep matang boeat pekerdjaan di kalangan perdagangan, perkebonan, pabrik, indoestri dan sebagenja. Dan teroes masih sebage alat sadja. Kalaoe ia (dimaksoedken surveiliant itoe) djoega dapet statoes kami, saja ingin tahoe sampe dimana kesabarannja. Sembari oendjoeken pada blok Eropa, dimana kabetoelan ada keloear satoe katjoeng Indo. Ditahan karena tjoeri sepeda, saja bilang itoe anak Indo dapet matras, dapet kelamboe, dapet tampin (orang hoekoeman Irlander jang diwadjibken ambil makanan`nja, bikin bersih bilik, djadi sematjam djongos), dapet nasi poetih, bruine bonen met spek dn lain2 jang ia sendiri tida soeka karena tida biasa, sering ia minta toeker dengen makanan saja, nasi merah, tempe reboes dan sajoer kangkoeng. Pake sandal dan pijama blauw, tidak seperti saja, siang malem kaki ajam, pakean perantean dengen pake tjelana kolor pandjang tida, pendek boekan, tidoer diatas tikar dengen bantal diisi roempoet kering. Poen waktoe pertama kali datang dipendjara dari hoofdbureau polisi, saja soedah mesti alamken hal2 jang sanget menjakitkan hati.
(II)
Djoesteroe karena itoe perbedaan perlakoean antara tahanan Eropa dan Inlander. Sesoedah terima tikar dan bantal saja(waktoe itoe masih ditahan preventif) ditempatkan di sel/blok1 dari bagean boeat Inlander (tida djaoeh dari blok boeat golongan Eropa seperti jang soedah saja toetoerken dibagean atas). Di esok paginja saja dibawa keroemah sakit pendjara lewat gang jang berada didepan sel saja. Sesampenja disana soedah ada berkoempoel poeloehan orang jang djoega baroe dateng, terdiri dari orang tahanan preventief, djadi belon di madjoeken di moeka pengadilan, orang hoekoeman dari laen kota dan mereka jang tergolong “strapan polisi”, terdiri dari orang gelandangan, pengemis dan sebagenja jang di hoekoem oleh landgerecht, badan mana bisa didjatohkan hoekoeman pendjara zonder banjak procedure sampe paling lama 3 boelan. Satoe kali soedah di hoekoem, pakeannjapoen tida sawo mateng warnanja, hanja loerik. Kami haroes bertelandjang boelet, berdiri toenggoe giliran dipreksa oleh dokter hoesodo (dokter boewi). Waktoe dateng giliran saja, ia ini goleng2 kepala boekan karena ada apa2 jang gandjil pada toeboeh saja tetapi ia tida mengarti kenapa saja (jang kenal diloear sebage djoernalis) djoega haroes disoeroeh antri sama segala bamboeng, gelandangan, badjingan dalem keadaan telandjang boelet, diperlakoeken sebage binatang jang tida poenja rasa maloe apa2. boeroe2 ia preksa saja . ia sengadja soeroeh saja doedoek dikerosi jang kebetoelan kosong dan soedah rampoengken koewadjibannja sebage dokter. Mas Hoesodo bawa saja keloear oentoek poelang ke blok saja. Ia akan kemoekakan hal saja pada directeur pendjara, katanja. Dan ini semoea apa saja haroes telan dengen sabar, menoenggoe tiba saatnja djoerang perbeda`an jang pisahkan Nederlander en niet Nederlander dapet dioeroek? Boeat orang, jang baik, dari peladjaran, didikan, pergaoelan, dan keada`an berbeda djaoeh dengen “Bromotjorah” (pendjahat jang soedah biasa keloear masoek pendjara), gelandangan, bamboeng, pengemis, pentjoeri dan sebagenja, boeat orang begitoe, jang haroes berdiri telandjang boelet berdjam-djam lamanja diantara mereka, ini soedah beroepa hoekoeman bathin jang dirasakan amat berat. Meloeloe sebab ia masoek golongan Inlander. Tetapi pertjajalah apa jang sekarang ditelan, satoe waktoe mesti dimoentahkan kembali dihadepan Kandjeng Goebernemen dan mereka jang bertanggoeng djawab boeat adanja perbada`an jang begitoe menjolok, begitoe menjakitkan hati antara onderdaan Nederlander niet Nederlander alias Inlander.
Surveiliant tida dapet djawab apa2 lagi, hanja sembari manggoet ia berlaloe.
Penghidoepan dalem pendjara berdjalan biasa sadja. Tida ada gontjangan jang bisa bikin djantoeng berdebar-bedar seperti didoenia loear; semoea berdjalan dengen begitoe litjin hingga sampe membosankan.
Hari kemaren, hari ini , hari esok, semoea sama sadja. Sama nasi merahnja, sama tempe reboesnja, sama sajoer kangkoengnja, dengen dikasih selingan satoe minggoe satoe kali ikan asin goreng, satoe minggoe satoe kali atawa tempe goreng atawa setengah telor bebek jang katanja asinan dan sepotong daging sampi. Dibandingken dengen menoe boeat orang tahanan atawa hoekoeman Eropa, bedanja seperti makan diwaroeng desa dengen restoran jang mendingan besarnja dikota. Soedah disediaken “tamping” (orang hoekoeman Inlander jang dipekerdjakan sebage sematjam pelajan boeat ambil makanan, sapoe dan bikin bersih sel orang poetih) makanan ada roti, bruine boonen met spek, huts pot met viees, nasi poetih(kendati kalaoe diloearan masoek golongan nasi mangkak), telor, soep dan sebagenja, plus........... pisang, seorang satoe bidji setiap hari. Mein liebchen, was wilist du noch mehr? Dan djangan loepa boeat golongan orang poetih selaloe ada disediaken sepasang sandal, koeatir djika telapakan kakinja tida tahan djika dimestikan djalan dengen kaki telandjang seperti penghoeni Inlander. Sampe si katjoeng Belanda godong dari krembangan jang kasih masoek pendjara Kalisosok sebab tjoeri sepeda, djoega dikasih sepasang sandal “Maar ik enak so nir!” katanja pada saja sembari kasih keloear kakinja dari krangkeng roedji besi dari selnja. Ini selpoen djaoeh lebi besar dari pada kita poenja. Ada sedikit kebon (dibagean atas tentoe sadja ditoetoep dengen rodji besi) ada roewangan depan, bagean tidoernja poen ada lebi loewas, habis pake segala kelamboe dan matras sih......!
Boeat saja jang paling menjakitkan hati boekan itoe semoea sandal, huspot, kelamboe dan lain2 nonsens lagi, tetapi djoesteroe itoe perbeda`an perlakoean antara Nederlandse onderdaan Nederlander dan idem niet Nederlander alias Inlander. Sama2 dalem pendjara poen masih ada perbedaan jang begitoe menjolok mata. Kalaoe perloe saja sebage Inlander bersedia pake tjawat sadja asal poen jang boekan Inlander djoega diwadjibken begitoe. Tentoe sadja sebegitoe lama masih sama2 dalem pendjara.
Menoeroet oendang2 pendjara soeatoe djoernalies jang ditahan atawa dihoekoem seberapa bisa haroes diasingken, djangan boleh tjampoer gaoel dengen orang hoekoeman lain, koeatir kalaoe bisa menghasoed dan sebagenja. Betapa berat adanja hoekoeman “isolatie” begitoe pembatja bisa bajangankan sendiri. 12 djam dalem krangkengan jang beroepa tempat gelar tikar kita, diloewaskan dengen 12 djam waldengang. Boeat lewatkan tempo tiap pagi kalaoe si Gareng (nama sebenernjna ada klooster, opzichter kita) soedah boeka pintoe sel saja, saja golongan di roedji bagean atas wandelgang dan moelai latihan ala tarzan. Kamoedian dilandjoetken dengen lari 25 kali poeterin wandelgang. Baroe sarapan nasi merah dan garem. Setelah itoe tjoetji pakean dibagean depan dari sel saja. Lantas mandi pake saboen segala, sebab tiap minggoe kita terima sepotong saboen tjoetji oentoek pakean satoe minggoe lamanja. Itoe anak Makasar, jang tadinja menangis sadja, sekarang soedah berobah djadi normal; tiap pagi mendjadi djoeroe toelis dikantor pendjara. Enak djoega boekan? Sedang saja sendiri? Saja diberiken soerat-kabar jang soedah basi 2 boelan atawa boleh batja boekoe2 boeat anak2 seperti Dik Trom, Hein Stav east, Mustang, het wonder paard van Winnetou dll. Tetapi sering djoega saja masih bisa toelis boeat “Soeara Poeblik” jang mana bisa sampe di medja redaksi di djalan Gresik via saloeran gelap. Oempama di taon 1925 komedi stamboel “Miss Riboet” sangat terkenal di Soerabaia dan di lain-lain tempat. Salah satoe njanjian jang paling popoeler saja “pindjam” boeat toelis dongengan saja dalem bahasa Djawa inilah :

Sopo-sopo sing gelem tah dongeni.
Dongenganne djoernalies sing sih di boewi.
Oerip orah, ning jo orah mati, Moong di krangkengi roedji wesi,
Dikoeroeng rino lan wengi, Sebab wani karo kandjeng Goesti......!

Lebih djaoeh dalem dongengan itoe djoega ada diseboet tentang takoetnja Belanda kehilangan nasinja, biar tjoema satoe boetir sadja. “Zit-redaktour” jang kami tantjapkan didepan Landraad boeat pikoel tanggoeng djawab boeat toelisan itoe jang djoega ditoentoet di moeka pengadilan, tjoema bisa terangken, ia beriken artikel itoe pada zitterij, karena “katanja, dibalakang soedah tida ada copienja lagi boeat di zet”. Siapa jang toelis ia tida tahoe; poen tida mengerti apa jang dimaksoedkan oleh penoelisnja. Ia dihoekoem satoe boelan pendjara karena dianggap melanggar artikel karet jang terkenal , 161 bis dan ter. Lain “zitredacteur” jang haroes “Zit” boeat toelisan saja “als ik eens Atjeher was” digandjar satoe taon pendjara. Kalaoe saja sendiri jang mesti tanggoeng djawab, sedikitnja akan meringkoek doea taon...!.

Sunday, December 11, 2005

Serba Serbi Stadwacht Soerabaia



INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Serba Serbi Stadwacht Soerabaia
Diantara pembatja barangkali ada jang pernah masoek stadswacht. Dalem hal begitoe pasti tahoe apa jang dimaksoedken dengen bagean pakean seragam kita jang dinamakan "Poettees". Poettees ini ada sematjam pita dibikin dari linnen jang koeat sekali dan tjoekoep pandjang boeat dilibatkan moelai dari pergelangan kaki hingga dibawah loetoet. Dengen pake Poettees memang benar rasanja tindakan lebi enteng dan tida moedah tjapai. Tetapi kalaoe belon tahoe bagaimana pakenja Poettees itoe meroepakan matjam2 siksaan.
Djika terlaloe kentjang, rasanja darah dibetis tida mengalir lagi; terlaloe kendor pasti Poettees itoe melorot di tengah djalan. Kalaoe setengah2 achirnja toch mobrot-mobrot djoega. Saja sendiri pernah dapet maloe karena Poettees itoe. Pada soeatoe sore lagi bikin latihan di lapangan Jaarmarkt (sekarang taman hiboeran rakjat) di Soerabaia oleh satoe kapten jang saja kenal dalem penghidoepan biasa, saja diperkenalkan pada overste Jonkheer Borcel. Komandan stadswacht, sebage djoernalies satoe2nja jang soeka rela masoek stadswacht.
Saja tentoe sadja lebih dahoeloe salueer (memberi hormat) menoeroet model sebelomnja berdjabat tangan dengen overste Borceel. Sesoedahnja kami bitjara sebentar tetang hal2 jang ada sangkoet paoetnja dengen traning di stadswacht mendadak overste dapat panggilan tilpon. Saja dengen segera berdiri tegak dan memberi salueer (hormat). Boleh djadi saking inginnja kasih kesan jang baik, selagi angkat tangan boeat salueer, tongkat sepatoe kanan saja bentrokan dengen keras sepatoe kiri, Overste Borceel bahas salueer saja sembari manggoet2 tetapi mendadak sjrrrt..!, saja rasakan dibagean bawah Poettees saja. Djoesteroe dipergelangan kaki dimana Poettees moelai dilibarkan. Tjilaka ia terlepas lagi, pikir saja. Dan benar djoega selagi moendoer hendak kasih overste liwat si Poettees sialan soedah mobrot-mobrot dan meroepakan sematjam tjatjing pita jang melibat sepatoe saja. Maloe saja tida terhingga. Satoe kawan jang soedah kawakan djadi militer kamoedian kasih beladjar saja bagaimana mesti ikat Poettees itoe hingga tida sampe gampang terlepas.
Kalaoe seorang hendak masoek kader ingin beladjar lebi banjak dalem soal ke militeran oentoek dapet djadi sersan padanja diberiken 21 djilid boekoe tentang segala apa jang menjangkoet kemiliteran, oempama bagaimana moesti kepoeng dan serang kampoeng jang didoedoeki moesoeh, tjaranja menjerang diwaktoe malem atawa siang hari, beladjar merajap dengen bawa sendjata, gasmasker, ransel dan laen2, komplit menjerang dengen goenakan bajonet, menembak dari tempat semboenji atawa tjara menggoelingken badan sehabis lepas tembakan ditempat terboeka, seteroesnja, seteroesnja.
Di taon 1947, langsoeng sehabisnja clash pertama dan pasoekan Belanda doedoeki Malang kembali, disana saja terbitkan boekoe "Indonesia dalem Api dan Bara" dalem mana saja toetoerken bagaimana Belanda njatakan perang pada Djepang, selagi Nippon berkoeasa kamoedian disoesoel penggemblengan badja di zaman merdeka, sampe datang waktoenja apa jang oleh Belanda dinamakan "Politionele actie", dalem boekoe saja itoe djoega ada diseboet halnja itoe 21 djilid boekoe. Djoesteroe apa jang tidak beladjar, ternjata itoelah jang kita paling pandai lakoeken.
Pembatja pasti soedah bisa tebak apa jang hendak saja katakan, Juist lari, pembatja, Lari dan sekali lagi lari...! Dimasa semangat berperang sedang memoentjak ada itoe sembojan jang terkenal "Liever staade sterven dan knielende te leven" (lebi baik mati berdiri daripada hidoep dengen berloetoet).
Dalem boekoe "Indonesia dalem Api dan Bara" poen demontrasi kegagalan ini saja siteer dan tambahkan "maar het beste is kruipende weg te lopen" (tetapi jang paling baek dengen merangkang lari). Tentoe sadja tida semoea Belanda pengetjoet, sama djoega tida semoea jang boekan Belanda ada gagah berani. Oempama kolonel overste jang teroes beriken perlawanan jang gagah di hoetan2 Soematra dan achirnja mati dalem tangan Djepang sebage kesatria jang terhormat dan terpoedji hingga sekarang ini. Setida-tidanja oleh saja.
Komandan stadswacht Malang, overste van Steyn van Hensbroeck, jang waktoe saja dengen wacht Soekoen beriken hormat boeat penghabisan kalinja ditangsi sebelonnja stadswacht diboebarken sama sekali, ada opsir Belanda satoe2nja jang ada ditangsi itoe oentoek toenggoe datangnja pasoekan Djepang.
Belakangan saja dengar ia ditembak mati atawa dipenggal batang lehernja di Antjol.
Ketika saja di taon 1949 pindah ke Djakarta, saja telah pergi ke makam Antjol boeat tjari koeboerannja tetapi tida bisa didapatkan. Tentoe sadja tida itoe sadja, masih banjak sekali orang Belanda lain jang oendjoeken kegagahan dan keberanian di masing2 bidangnja sendiri, baik dikalangan pegawai pamarentah, maoepoen dikalangan partikoelir.
Keberanian dan ketakoetan toch tida bisa diborong oleh satoe golongan atawa satoe bangsa sadja, boekan...?
Haroes diakoei latihan stadswacht Soerabaia ada baik, tertib dan soenggoeh2 teroetama bagian jang mengenakan "eebewijzen" (tjara memberi hormat) dan "netheid"(kebersihan), tjara pake topi, mengenakan pakean seragam kita dengen kantjingnja jang ada gambar "Nederland Leeuw" haroes mengkilap semoeanja, mala bagean bawah sepatoe kita djoega dipreksa bersih atawa kotor.
Dan tentoe sadja djoega bagean sendjata; bajonet bersih tidanja, loop sendjata bersih tidanja, tas peloeroe dan semoea bagian jang dibikin dari koelit haroes dipiara menoeroet oekoeran Hollandse netbed jang terkenal.
Pada soeatoe sore djam 5 dengen diangkoet oleh 3 prahauto stadswacht kami, kekoeatan 1 kompi, dibawa kekampoeng Doepak dekat stasioen Pasar Toeri. Kampoeng ini oemoemnja ditinggali oleh orang2 asal Madoera dan roepanja mereka itoe tempat boewang hadjat. Tida heran begitoe sampe disana hidoeng kita djadi njengar-njengir karena kesampok oleh bebaoean jang kita semoea soedah kenal.
Tentoe sadja latihan moesti djalan teroes. Kapan kami toch orang peperangan, masa mesti moendoer boeat goedoekan2 jang tida melebihin kepelan tangan? Kami diperentahkan oentoek lewat saloeran jang tida ada aernja, datang disatoe tempat dibelakang stasioen Pasar Toeri. Dengen tjara membokong dan mengedjoetkan "moesoeh" jang dianggap bersarang dibelakang stasioen itoe. Dan tjara dilakoekennja begini:
Kita haroes tidoer tengkoeroep kamoedian tangan kanan tempatkan senapan kita sedjaoeh lengan kita bisa, lantas tangan kiri djoeloer sampe sama dengen tangan kanan. Badan kamoedian diangkat sedikit dengen beratnja ditahan oleh oedjoeng kedoea sepatoe dan tangan, dan achirnja dengen goenakan kekoeatan tangan ini kita tarik toeboeh kita madjoe kedepan.
Latihan sematjam ini memang berat dan minta banjak tenaga. Serta djaoehnja djalanan jang haroes ditempoeh tjara membokong ini tida koerang dari 70 meter. Begitoe lah kami moelai satoe demi satoe masoek di saloeran itoe.
Didepan saja ada satoe stadswachter, seorang Belanda totok, jang dikasih datang oleh kantor dagang Belanda sebage apa jang dinamakan "import kracht" Ia masih moeda dan orangnja simpatiek. mendadak saja liat kawan itoe doedoek dengen aer moeka jang rasa djemoe tjampoer djengkel. Ternjata wapenbroder (kawan seperdjoeangan) ini selagi tarik madjoe badannja, badjoe seragamnja, moelai dari kantjing atas sampe dekat saboek, sapoe djoega goendoekan jang terkenal itoe..! Hasilnja satoe strip koening jang lebarnja kira-kira 4 centimeter, keliatan tegas menghias dadanja. Latihan di STOP dan kita semoea pada ketawa.
Dengen soeara moepakat dari semoea kawan, pemoeda jang dadanja dihiasin strip koening itoe diangkat mendjadi kopral Doepak.
Ia ini dengen goleng2 kepala boeka badjoenja jang dibawa kesatoe soemoer boeat di tjoetji sedapat-dapatnja. Sampe lama ia dikaroeniakan pangkat kopral Doepak. (TAMAT)

De Stadwacht Waak !


INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
De Stadwacht Waak !
(stadswacht = Barisan Pendjaga kota jang dibentoek pamarentah Belanda di Indonesia mendjelang Djepang akan doedoeki Indonesia.
Waakt = mendjaga atawa bertoegas)
Ditaon 1939 di kota Soerabaia dan tentoe sadja di kota2 laen, bisa diliat di banjak tempat ramai dipasang plakat bergambar jang besar oekoeran`nja "De Stadwacht Waakt......!" begitoe pendjelasan dari gambar itoe jang di loekiskan dengen 3 roman lelaki separoh badan. Semoea pake oeniforem stadswacht, tetapi djelas dari romannja bisa dibedakan mana jang Indonesia, Belanda dan Tionghoa.
Meliat gambar ini saja itoe waktoe ingin sekali bisa berdampingan poela dengen Professor Mr OP. Schepper, goeroe tinggi Recht Hoge school di Batavia merangkap Ambtenaar voor de reclasseringsdients. (batja penghoeni Kalisosok) Professor Mr OP. Schepper lima kali koendjoengin saja di sel pendjara Tjipinang, dimana saja haroes habisin sisah hoekoeman saja. Maksoednja oentoek pimpin saja ke djalan jang benar.
Djangan loepa, Professor Mr OP. Schepper ada djoega dinas dari reclassering. Tetapi hal ini baik saja toetoerken sadja dilaen bagean.
Kenapa loekisan gambar itoe peringatkan saja????????
Kombali pada Mr OP. Schepper? Karena tertampak loekiesan 3 orang itoe sama pakeannja, sama tingginja, tida ada perbedaan seoedjoeng ramboet antara jang satoe (Nederland onderdaam Nederland dan doea jang laennja (Nederland onderdaan niet Nederland), tetapi ja, apa maoe dikata...? moengkin nood breekt wet wet ada argoement jang koeat.
Kombali pada stadswacht banjak djoega djoemlahnja orang2 jang pada masoek stadswacht itoe. Tjoema sajang sedikit, banjak dari mereka jalah terdorong oleh satoe pormoelir jang pada soeatoe pagi ia orang ketemoeken di medja toelis di kantor2 dagang eropa jang besar. Pormoelir minta masoek stadswacht haroes diterimakan kembali pada pimpinan peroesahaan dimana mereka bekerdja. Effect dari taktik ini soedah djelas bisa diramalkan dari bermoela keterangan ini saja dapet koempoelken dari banjak sekali kawan2 jang pada djadi stadswachter.
Saja sendiri djoega madjoeken pormoelir begitoe tetapi boekan karena sep ini dan itoe. Sebab saja sebage djoernalies ada bebas, tetapi meloeloe karena, ingin djoega beriken bantoean di saat2 jang diperloeken oleh Indonesia, tanah toempah darah saja.
Tetapi selagi menoenggoe panggilan dari kantor penerimaan rekoet boeat stadswacht jang waktoe itoe ada dikantor BPM di Societeitstraat, oleh satoe oeroesan pribadi saja terpaksa pergi ke Djakarta dan balik poela di Soerabaia pertjies terlambat 2 minggoe dari hari panggilan. Oentoek menghadep di kantor terseboet. Di esok harinja saja bawa soerat panggilan itoe ke kantor BPM dan diterima oleh letnan satoe dari KNIL. Ini perwira masih moeda dan ternjata ada seorang Belanda totok. Ia toendjoeken matanja ke pormoelir zonder mendongak barang satoe kali.
"Waarom ben jij te laat? (kenapa kamoe terlambat) tanja dengen kasar.
Saat itoe saja meloeap djoega darah saja. Pikir saja ini Belanda terlaloe sombong; orang dateng dengen soeka rela beriken bantoeannja, belon apa2 soedah di bentak2, tjoema ketinggalan godverdom nja sadja.
"Pardon luit. Ik ben nog steeds een meneer..! (maaf letnan, saja masih tetap satoe toean...!) kata saja, dengar djawaban itoe, ia angkat moekanja dengen terperandjat. Kamoedian ia persilahkan saja doedoek di kerosi didepan medjanja. Sesoedah saja toetoerken sebab saja terlambat, ia manggoet2 dan kamoedian beriken saja soerat keterangan oentoek ambil pakean di Karang Mendjangan. Saja berlaloe dan teroes ke Karang Mendjangan jang itoe waktoe digoenakan sebage depot magasen. Disana pada saja terimaken sepasang sepatoe militer berikoet kaosnja, doea tjelana, doea badjoe, satoe topi roempoet, satoe bivakmuts, satoe pet dan gordelrim, saja diberitahoe besok sore djam 5 soedah mesti appel diroewangan tengah.
Sepoelang di roemah saja tjoba oeniform saja. Bangga djoega rasanja hati; apalagi waktoe liat istri saja senjoem-senjoem semboenji liat soeaminja begitoe ganteng.....!
Djadi dengen ini dalem seoemoer hidoep saja soedah 2x pake uniform Kandjeng Goebernemen. Pertama sebagai orang perantean (tahanan), kedoea sebage stadswachter.
Esok sorenja djam 4 saja soedah berangkat dari roemah dengen pake uniform. Saja naek sepeda dan boeat potong djalan ke Karang Mendjangan saja liwatin djalan Semoet. Disana dekat penggilingan kopi saja liat satoe sersan dari KNIL, Belanda totok, ketara diwarna ramboetnja dan aer moeka.
Dengen koemis malang melintang dan tolak pinggang ia liat saja mendatengin. Kita satoe sama laen saling awasin zonder berkedip. Ini Belanda maoe apa pikir saja sembari djalankan sepeda saja dekat ia. Baroe sesoedah liwatin ia saja perhatikan djalanan lagi.
Dan astaga.........! ketika liat tjelana dan lengan saja, baroe saja mendoesin jang saja ini pake oeniform. Dan orang dengen siapa tadinja saling intjer-mengintjer seperti sepasang djago jang hendak bertempoer adalah seorang sersan, orang atasan saja, pada siapa saja seharoesnja beri hormat militer, pantes dari tadi ia liat saja seperti hendak menerkam sadja. Saking takoetnja dipanggil balik, saja teroes endjot sepeda saja zonder berani berpaling barang satoe kali sadja.
Sesampenja di Karang Mendjangan dan sesoedah taro sepeda, selagi hendak menoedjoe ke roewangan appel, apa maoe, ditengah djalan saja berpapasan dengen letnan satoe dari kantor penerimaan rekoet kapan hari. Dasar lagi sial, pikir saja. Saja berdiri tegak dan beriken saluut saja. Ia balas dan kamoedian tanja:
"en wat heb jij nu te beweren? (dan apa jang sekarang hendak kamoe bilang?)
" ik heb niet te rapporteeren lut" (tida ada apa2 jang moesti saja laporkan letnan) djawab saja,
Sekonjong-konjong letnan satoe itoe ketawa dan sodorkan tangan pada saja . selandjoetnja ia mendjadi kawan jang understanding, begitoe djaoeh bisa bitjara pasal vriendschap antara opsir dan serdadoe. (TAMAT)

Saturday, December 10, 2005

Soeka-doeka djadi ,,Stadswacht” (III+IV=TAMAT)



(III)
Kira-kira djam 3 pagi selagi hoedjan berenti dan remboelan moelai ternampak, mendadak kita denger 4x tembakan senapan Lee Enfield dengen beroentoen. Kita semoea keloear dan saja menoedjoe pos ke 3 karena dapet firasat tida enak. Di pos itoe memang saja jang tempatkan seorang serdadoe jang berasal dari kalangan sederhana. Ia tida bisa berbahasa Belanda, tetapi anaknja baik sekali, orangnja polos. Ketika saja hantar ia kesana, ia berbisik pada saja; "San...... (ini potongan dari sersan, boekan perkataan orang Djepang), ...ini baoe apa..? memang di itoe bagian ada terdapat bebaoean seperti kembang tjampoer menjan, pendek boeat jang tachajoel, ditambah dengen keadaan disekiternja, itoe semoea bisa bajangken moentjoelnja segala djerangkong dan demit. Saja tahoe, bebaoean itoe berasal dari "Foroka, pabriek rokok. Namanja jang betoel saja tida tahoe, tjoema kenal ia sebage Noto. He.... Noto, saja bilang , djoega dengen berbisik. Kamoe jang awas sadja, memang disini ada bekas koeboeran.....!.
Kalaoe begitoe, saja minta ditaroh ditempat lain sadja, San.......!. Saja tolak dengen alesan dalem boekoe di pos 3 soedah tertjatet nama Noto. Saja teroes tinggalkan ia boeat ke pos 4. Sasoedah itoe tembakan beroetoen dan saja dateng ke pos-nja Noto, dari djaoeh saja liat bagaimana Noto, dengen badan seporoh membongkok, teroes toendjoeken moeloet senapan ke segala djoeroesan. Saja treakin ia takoet kalaoe si Noto maen berondong senapannja. Ketika saja dateng padanja, aer moekanja keliatan amat poetjat dan seloeroeh badannja bergemetaran. Saja bawa ia kombali keroewangan kita sesoedah tempatkan laen serdadoe. Sehabisnja dapet minoem dan keliatan tida begitoe ketakoetan lagi, saja tanja Noto apa jang sebenarnja soedah kadjadian. Ia toetoerken, selagi djalan moendar mandir dan teroes meneroes baoe kembang koeboeran masoek hidoengnja, mendadak didekat tembok pabriek ia liat ada bergerak jang poetih dan bertjahaja. Saking takoetnja, zonder pikir pandjang ia tarik pelatoeknja senapan dan lepas empat tembakan beroentoen. Kamoedian ternjata jang barang poetih dan bertjahaja ada blik bekas soesoe jang roepanja disinarin oleh sang remboelan.
Dilaen waktoe , kombali di pos BPM, si sersan tjoba di djoeal oleh anak boewahnja. Pos pendjagaan masih sam seperti dahoeloe. Sekarang tiap pos dapet sebatang basi jang mesti ia ketok saban seperempat djam sekali. Karena letaknja masing2 pos ada berbeda dengen roewangan kita, soeara dari ketokan seharoenja mesti berbedah , boekan? Tetapi ini tidak. Pos pertama, kedoea, ketiga dan ke empat benar ketokannja saling soesoel menjoesoel, tetapi soearanja dateng dari satoe tempat. Ketika saja preksa, ternjata 4 wacht boekan berada di pos masing2, hanja mereka dengen bersila asjik "djagoengan karo kontjo dewe". Mampoes atawa tida?
Pada tanggal 31 Desember 1941 sore djam 5 koerang seperempat kita toeroen dari prahoto stadswacht didepan kantor pos Malang di Kajoetangan boeat aplos wacht jang lebi dahoeloe soedah dinas disana. Boeat pendjagaan kantor pos dengen 4 tempat djaga, kita perloe satoe brigade dan doewa sersan si teman pegawai gemeente dan saja sendiri. Sehabis oepatjara pengoveran wacht, saja teroes tempatkan serdadoe2 boeat 4 pos, karena saja haroes dinas dahoeloe. Dari djam 5 sore sampe djam 7 malem, kamoedian diganti oleh kolega saja jang dinas hingga poekoel 9, lantas saja lagi sampe poekoel 11 dan begitoe seteroesnja. Haroes diterangken, selagi dinas djaga tida ada boelh jang tidoer, wachthebbenden (anggota2 dinas djaga) apa lagi sersannja. Teroetama tida jang ditempatkan di pos dengen bersendjata. Pernah kadjadian wacht begitoe ketidoeran di posnja; jang pergokin ia ada satoe opsir KNIL. Kontan ia dihoekoem 14 hari. Selagi berada disana, pikiran kita masing2 berada dalem kalangan pamili sendiri. Kapan dimalem itoe ada pengantian taon baroe dan oemoemnja dirajakan djoega, biarpoen dengen tjara sederhana. Roepanja hal ini jang mendorong overste Fiekensher oentoek malem itoe keliling ke semoea pos dengen bawa roti dan taartjis. Deket djam 12 tengah malem, selagi saja berada dibelakang tjoetji tangan habis makan mangga mendadak saja dengar kolega saja bertereak:..."Aantreden! geeft acht! Presenteer geweeerrrr!", disoesoel oleh soera overste jang membentak "godverdom! Ben jijuou sergeant eerste klas? Weet jij neit dat jij mij met over geweer moet begroeten en niet met presenteer geweer? Waar is de andere sergeant?". Si sersan, sasoedah soeroeh serdadoe2nja jang ada diroewangan berkoempoel dan kemoedian perintah "presenteer geweer", didamprat oleh overste jang tjara apa ini matjamnja sersan klas satoe? Apa ia tida tahoe wacht ini haroes hormat "over geweer" dan tida dengen "presenteer geweer". Kamoedian dia tanja dimana ada sersan jang laen. Saja kaloeara dan Salueer Kommandan kita.
"Hier zijn de koekjes" kata ia pada saja. Sasoedah lagi sekali kita dengen berdiri tegak Salueer dan serdadoe2 pegang senapan dalem posisi "over geweer", sang overste berangkat lagi.
(IV)
Oentoek penerangan pembatja jang belon pernah mendjadi militer, kaoem opsir sampe pangkat kolonel diberi hormat dengen "over geweer", diatasnja, djendral majoer, letnan djendral dan djendral dengen "presenteer geweer". Waktoe itoe belon ada pangkat brigader djendral. Kalaoe sekarang overste (letnan kolonel) dihormatin dengen presenteer geweer sama saja kalaoe kita bahasain seorang patih dengen seboetan kandjeng boepati. Bisa2 jang sersangkoetan merasa dirinja dihina atawa setida-tidanja dipermaenken. Tinggal kolega saja jang sampe esok paginja masih teroes mengomel, katanja tida betoel jang overste damprat ia dengen anak boewahnja. Kita toch boekan militer soenggoeh-soenggoehan, kata ia dengen tida loepa tjangking djoega ia poenjasetahoe berapa banjak goderdom. Saja bilang padanja, menggeroetoe disini tida ada goenanja. Paling baek, nanti sore kalaoe kita poelang. Ia lantas tjari overste dan bilang padanja, di depan orang2 bawahannja, "Godverdom, ben jij nou stapelgek dat jij als onze commandant mij in`t opebaar op m`n dak hebt geweer.................." dan iapoen berterima kasih boeat itoe nasehat jang tak terbajar nilainja, ia ketok2 djidatnja. Koerang adjar apa tida ini Belanda?
Kadjadian ini bikin saja ingat pada apa jang di alamken selagi djadi kommandan dari wacht di V.M.V.O (verbruks wacht van oorlog), goedang dimana ada ditoempoek segala kaperloean militer. VMVO paling tida disoeka oleh kita, karena opsir2 KNIL keloear masoek disana tida dengen berentinja, djoega diwaktoe malem. Hingga saban2 jang berada di pos haroes over geweer pergi dateng. Wacht di VMVO tjoema setengah brigade karena jang djaga hanja dipinroe dedpan. Tetapi disebelahnja si sersan saban doea djam haroes ronda di pekarangan depan bawa satoe serdadoe. Sekiranja djam 2 pagi, selagi saja berada dalem roewangan boeat wacht, saja dengar soeara bentak2 jang tida loepa di tjangking "godverdom"nja sekali. Saja segera keloear, ternjata serdadoe saja jang lagi berada dipos pendjagaan disapoe bersih oleh seorang kapten KNIL, jang toetoerken pada saja bagaimana si serdadoe kasih over geweer nja, ja itoe, tangan kanan pegang senapan seperti orang pegang ia poenja tongkat boeat djalan2 dan tangan kirinja diangkat keatas dan digerakan dengen tjara seperti oemoemnja kalaoe kita lagi kasih "dag......dag" pada anak ketjil. Saja diperentah boeat gembleng ini "proel van een solaat" (serdadoe semproel) tjara bagaimana ia haroes menghormat seorang opsir. Ketika itoe kapten soedah pergi, saja tanja pada serdadoe saja apa jang sebenernja soedah kadjadian. Ia ini. Orangnja beroesia 40 taon lebi, tinggal di djalan Kawi, tjoema terpaoet beberapa roemah sadja dengen roemah dimana itoe kapten ada tinggal. Ini kapten memang ada ia kenal baek, malah sering mertamoe di roemahnja. Kamoedian ia ondjoeken pada saja bagaimana ia soedah samboet kedatengannja ia poenja sobat baek si kapten tadi. Bisa dimengerti jang si opsir keloear tandoeknja. Saja terangken pada serdadoe saja, jang ada seorang jang ramah tamah, dalem kalangan militer soal pangkat jang memang paling diperhatiken. Biarpoen ia anak kita sendiri, kalaoe ia ini lebi tinggi pangkatnja dari kita, jang mendjadi bapakpoen haroes beriken ia kehormatan menoeroet apa jang boekoe "eerbewijzen" kasih beladjar pada kita. Masih oentoeng ia, selagi tangan kirinja dilambai-lambaikan, tida bilang sekali "zoo, ouwe jongen! Leef je nog?" (apa kamoe masih hidoep).
Hamper dekat djam 6 pagi saja ronda dengen satoe serdadoe. Dengen tangannja pegang pager kawat, saja liat satoe sersan major KNIL, jang memang dinas disana, dengen badan bagean atas tjoema pake singlet sadja, lagi memandang ke djalan besar, moengkin pikirannja lagi melajang ke istri dan anak2nja di roemah. Ini sersan major ada seorang Belanda totok; orangnja gemoek pendek. Meliat poendak dan belakangannja jang dempal dan pasak seperti tembok beton. Mendadak saja timboel ingetan boeat tjari tahoe apa dalem toeboehnja, djoega bener2 ada mendekam itoe Nederlandse Leeuw..................(maap ilang toelisannja)............. soedah terpisah 3 meter dari si gemoek, mendadak saja tarik grendel senapan dan bentak : "Wiedaar? Halt, of ik schiet! (siapa itoe? Berenti atawa koe tembak!) dengen angkat kedoea tangannja keatas, si sersan major tjepat balikin badannja dan oendjoekin aer moeka jang keliatan amat poetjat, seraja meratap : "Niet scheiten! Ik ben`t Niet schieten! (djanga tembak! Ini ada saja, djangan tembal !) si Leo ternjata ada satoe "poes"(koetjing) tetapi boleh djadi djoega si sersan major pikir, apa artinja stadswacht? Masih satoe nol besar dalem bidang militer, toeroet sertanja masih seperti "ilok-ilok bawang" djangan2 si stadswachter, saking goblognja, maen brondong sadja senapannja!
----$$$-----
Djaga dibangoenan ada bedanja dengen djaga di pinggir djalanan besar. Ini saja alamken ketika kena dinas di djalan Oro2 Dowo jang hoeboengken Batoe via Betek dengen Malang. Dipos itoe ada ditempatken brigade kawat berdoeri, soepaia siapa sadja haroes lewat pos kita dengen perlahan, agar gampang dikontrol. Tjoema pajon boeat tempat menedoeh tida ada, hingga kalaoe lagi hoedjan gerimis kita tjari perlindoengan dibawah pohon..................(ilang lagi)................. Di itoe sore sekira poekoel 6, saja liat dari djoeroesan Betek ada mendatengin seorang Tionghoa setengah oemoer. Badanja tjoekoep padat dan dari potongan aer moekanja djoega kentara jang ia ini masoek golongan orang berada "masih ada pamornja" kata orang2 toea. Ia ada saoedara misan ajah saja, hingga kepadnja saja haroes panggil `njik.
Orangnja ramah tamah dan "sok nganggap" pada pamili, djoega diwaktoe itoe `njik masih mendjadi mede-eigenaar dari pabrik goela Kebon-Agoeng. Sekarang ia tinggal di Betek di satoe roemah sederhana bila dibanding dengen roemahnja dahoeloe. Ketika liat saja, siapa jang lagi djaga, dengen senjoem lebar ia toeroen dari sepedanja (siapa orangnja jang waktoe itoe masih oto-otoan..maksoednja saja)......"Lho, loe sing djaga disini...? kata sang `njik. Saja samperin ia dengen diikoetin oleh serdadoe jang bawa senapan komplit dengen bajonetnja. Aer moeka saja sengadja bikin keliatan keren dan dengen soeara kedengeran kakoe saja tanja :...."Dari mana....? senjoeman lebar sang `njik mendadak hilang dan diganti oleh tampang moeka jang terang hoedjoeken kesangsiannja dari mana ia poenja kapoenakan bertanja.
Roemah......! djawabnja.
Dari roemah............ dari roemah mana?
Di Betek........
Di Betek,...toean...! saja oelangin djawabannja dengen nada soeara ditekan pada perkataan "toean".
Nama siapa....! landjoet saja tanja.
Tan Tjwan Hoen, ...toean.... djawab `njik jang kira dalem dinas moesti berlakoe begitoe.
Lahir.......!
Saja......, saja lahir di Indonesia, toean....
Ha.....!, mana bisa djadi..? djawab saja dengen nada dibikin lebih keras. Indonesia toch loewas sekali..........! Lahir ditempat mana ?..... masa Indonesia.....!
Di Soerabaia,.... Soerabaia toean, djawab si `njik jang soedah tida tahoe sikap apa jang haroes diambil.
Kamoedian saja datang lebih deket lagi dan hoedjoeken ia aer moeka seperti jang ia biasa liat saja.
....Apa `njiem baek-baek, ....`njik ? dan pamili jang laen gimana ? tanja saja dengen tersenjoem. Boeat beberapa saat saja liat `njik keliatan seperti orang bingoeng. Kamoedian napasnja kadengeran memboeroe dan achirnja dengen soesah seperti lehernja tertjekik, ia bilang:
"Loe........loe..... goewa kira memang mesti begitoe..!
Aja........tjintjia swee......!
Goewa bisa sakit djantoeng,.....loe tahoe...?
Dan dengen goleng-goleng kepala ia endjot sepedanja ke djoeroesan Malang. (TAMAT)

Sunday, December 04, 2005

Soeka-doeka djadi ,,Stadswacht” (I+II)



INDONESIA RAYA
Kwee Thiam Tjing bertjerita
Soeka-doeka djadi ,,Stadswacht"
(I)
Jang keadaan makin lama makin boeroek bisa diliat dari halnja anggota stadswacht diperentah boeat selaloe pake pakean seragam lengkap bila keloear roemah, soepaia segala waktoe bisa berkoempoel ditangsi di Rampal Boenoel. Kalaoe seoempama sirene berboenji karena dikoatirken pesawat terbang Djepang datang, semoea anggota stadswacht, tida perdoeli mereka berada dimana, di kantor, haroes setjepatnja bisa datang di Rampal Boenoel, tjara bagaimana mereka datang, ini ada soal mereka sendiri.
Sesampe ditangsi, tiap serdadoe disoeroeh ambil senapannja, berikoet peloeroenja tentoe dan kamoedian berkoempoel dalem lobang perlindoengan jang memang disediaken disana, boeat djaga2 katanja. Saja pernah tanja kapten Madarasz kita disoeroeh apa sambil doedoek berdjoebelan dalem lobang perlindoengan. Goenanja tida ada, mala satoe kali bom djatoh tepat ditempat kita, tamatlah riwajat kita. Kapten tjoema bisa angkat poendak dan djawab : "Order van Boven", perintah dari atas.
Begitoelah pada soeatoe pagi tjoeatja sedeng bagoes2nja, mendadak sirene berboenji lagi. Apa jang dinamaken stadswacht, boeroe2 dateng ditangsi, ada jang djalan kaki, ada jang naek sepeda, boentjeng sepeda motor, menoepang Auto, apa sadja asal tjepat sampe. Selagi berada ditangsi, mendadak dari djoeroesan selatan ada keliatan mendatengin dengen tjepat sekali satoe pesawat terbang, dibelakangnja diikoetin oleh laen pesawat. Dari djarak djaoeh ada satoe pesawat terbang jang besar lagi mendatengin.
Liat sersan kata kapten Madarasz pada saja, ini ada vilegende fort kita, benteng terbang jang lagi bikin latihan. Selagi kita semoea mendongak boeat saksiken apa jang dikira latihan itoe, mendadak pesawat terbang jang berada didepan meloentjoer kebawah, kamoedian dengen badan terbalik naek kombali keatas membelakangin pesawat jang tadinja berada di belakangnja.
Keliatan serentetan asap, pesawat didepannja dengen berpoeteran djatoh kebawah dan beroepa goeloengan asap hitam. Ia djatoh kebakar. Benteng terbang itoe sendiri soedah berada diatas lapangan terbang militer di Singosari. Tegas sekali bisa diliat bom jang dilemparken kebawah, sesaat kamoedian soeara goemoeroeh kedengeran dan berbarengan mengeletarnja boemi keliatan moelai moentjoel asap poetih jang meroepaken pajoeng raksasa, mendjoelang keatas, makin lama makin besar.
Ini soedah boekan latihan lagi, kata saja pada kapten Madarasz jang aer moekanja keliatan poetjat sekali. Ia manggoet dan perintahkan semoea bajonet dari senapan Lee Enfield, jang biasanja haroes mengkilap, digosok-gosok sama tanah soepaia tida bergoemilap diliat dari atas. Mala kapten sendiri balikin ia poenja tiga bintang perak kedalem kraag dan perintah semoea sersan jang pake streep sersan dibikin dari tembaga jang dipasang di kraag soepaia semoea dibalikin djoega. Perintah ini sebenernja dilahirken oleh rasa takoet jang tida terkira waktoe ternjata pesawat terbang Nippon boekan sadja bisa nerobos masoek sampe diatas Malang, mala menjerang djatoh pesawat terbang kita dan bom lapangan terbang sekali.
Berhoeboeng dengen terdjadinja "latihan" terseboet, selandjoetnja semoea anggota stadswacht haroes bersedia lebih komplit. Serdadoenja pake "leerwerk" dan bawa gasmasker dan helm. Kalaoe senapannja tetep berada delem tangsi, sedang gerombolan sersan haroes teroes bawa pistol parabelloem jang "kantongnja" terbikin dari kajoe dan bisa digoenaken sebage gagang waktoe hendak lepaskan tembakan, klewang, gasmasker, helm dan petji. Tjoema katinggalan meriem sadja jang tida toeroet di gotong.
Kalaoe diwaktoe senggang saja mampir di Ang Hien Hoo, sebelonnja bisa toesoek bola, lebi dahoeloe segala arsenal haroes ditoeroenkan, jang boeat permoelaan timboelken sedikit soesah jalah si Klewang. Karena tida biasa, saban2 si Klewang keserimpet di selangkangan atawa hadjar poelang pergi toelang kaki dibawah loetoet selagi kita djalan.
Pada satoe waktoe, dengen beberapa teman kita tjari sedikit hiboeran di bioscoop di depan klenteng. Bangga djoega rasanja kita selagi kiri kanan balesin saluuer orang2 sebawahan jang kebetoelan djoega liat atawa lewat. Sesampenja dikerosi boeat kita saja dapet kenjataan ada soekar oentoek doedoek karena si Klewang tadi, kalaoe doedoek, koelit jang dilengketkan pada saboek kita koerang pandjang hingga jang dioedjoeng didjoebin, si Klewang bikin kita doedoek tida, berdiri poen tida. Djalan satoe-satoenja jalah boeka klewang itoe dan taroh dibawah kerosi. Tetapi apa maoe, ketika pertoendjoekan berachir dan kita semoea pada poelang, si Klewang ketinggalan zonder dirasa.
Karena belon biasa sih.....!
Oentoeng di esok paginja pegawai Emma bioscoop antar Klewang ke roemah saja, sebab ia taoe si sersan masoeknja pake Klewang, kenapa keloearnja goendoel! Selain itoe haroes selaloe bersedia, sekarang stadswacht djoega diwadjibken dinas djaga. Tetapi boekan djaga "kampoengnja sendiri" seperti jang dibilang berkali-kali waktoe zaman diadaken propaganda soepaia orang soeka masoek mendjadi anggota stadswacht. Sedari saja berada di Malang dan laporken diri di stadswacht, oleh overste Fickensher saja ditempatkan di iste kompi, iste brigade. Tiap kompi poenja 9 brigade dan saban brigade poenja 12 serdadoe dengen 2 sersan.
(II)
Sama sekali stadswacht Malang poenja 9 kompi. Belon terhitoeng kompi kendaraan bermotor. Diatas kita semoea ada kapten dengen dibantoe beberapa letnan. Kalaoe overste ada kommandan dari seloeroeh stadswacht. Diatas soedah saja bilang, stadswacht sekarang djoega dikenakan dinas djaga, moelai djam 5 sore hingga djam 5 sore esok harinja. Does dinas 24 djam, "rino lan wengi", siang dan malem.
Wacht pertama diberiken pada saja jalah djaga instalasi Socony tida seberapa besar, di pinggir djalan oemoem, tetapi ditempatkan dibagean jang tanahnja lebi rendah.
Itoe waktoe hoedjan soedah moelai toeroen. Dan hoedjan di Malang, kalaoe sedeng gerimis moelai pagi teroes sampe sore semaleman soentoek kembali pagi. Wacht saja terdiri dari setengah brigade jang diambil djoega dari beberapa brigade laen. Pada perlengkapan pakean seragam kita djoega diberikoetken djas oedjan jang bagoes sekali dengen disertain kantjing depan, kantjing kantong, kantjing poendak semoea gambar Nederland Leeuw jang timboel.
Ini simbol Leo memang tida boleh katinggalan sebab meroepakan simbol dari Nederlandsemoed, beleid en trouw! Simbol dari Belanda poenja ketabahan hati, pimpinan dan kesetiaan! Kantor Socony tida poenja penerangan listrik, sehingga mesti goenakan kekoeatan ACCU oentoek dapet penerangan ketjil, perloe boeat diwaktoe malem bisa bikin tjatetan dalem boekoe jang haroes dioendjoeken pada opsier jang lagi piket. Aer ledeng tida ada, begitoe djoega W.C dan toilet. Hingga kalaoe kalaoe perloe ketempat begitoe, kita haroes sebrangin djalanan oentoek pergi keroemah sekolah boeat pindjam W.C-nja. Diantara serdadoe jang ikoet djaga terdapet djoega serdadoe dari brigade ke 5 dan ia ada Kwee Hway Tjin..................... jang pernah masih oom saja.
Tadinja ia pikir kalaoe terhadep orang jang masih pernah `njik pada saja, pasti saja bisa dikasih kelonggaran. Oempama tida oesah dinas djaga, boeleh melek merem di kerosi, sebab kasian toch? Tetapi terhadep `njik poenja doegaan meleset sama sekali. Dasar dari kewibawaan jang dipatoehi oleh mereka boeat siapa satoe waktoe mendjadi pihak "atasan" jalah perasaan adil. Mala ketika dateng waktoenja boeat si `njik haroes panggoel senapan di posnja. Ia saja panggil kendati itoe waktoe hoedjan gerimis.
Kita semoea pake djas hoedjan kita. Bermoela ia tjoba lolos dengen alesan lagi gerimis. Djangan seantara masih hoedjan aer, biarpoen hoedjan peloeroe, dinas tetep dinas. Geef acht! Voorwarts march!
Dan begitoe saja antar `njik ke posnja jang berada dipekarangan zonder ada pajon apa2 Wacht Socony ada jang paling tjilaka. Satoe djam kamoedian saja aploes ia dan tempatkan laen sardadoe jang gilirannja. Kalaoe malem antara djam 6 sore ampe djam 6 pagi, wacht diganti tiap djam, kalaoe siang saban 2 djam. Penggantian wacht haroes selaloe dilakoeken dibawah penilaian sersan, karena serdadoe jang bersendjata dan lagi dinas tida boleh djalan sendirian.
Karena masih boeat pertama kalinja, pengiriman makanan datang agak terlambat, sekitar djam 7. hoedjan gerimis masih tetep toeroen; hawa dirasakan dingin. COVIM datang dan mereka toeroenken barang makanan boeat kita. Dan selagi betjanda dan bergoeraoe dengen itoe brigade special, jang keliatan lebih manis dan menarik, lebih segar djoesteroe karena adanja itoe hoedjan, rasa badan kok lebih hangat, kendati masih toenggoe soegoehan teh dan kopi atawa soesoe panas, santapan pagi dan makan siang datangnja pertjis pada waktoenja. Ini sifat jang baek dari Hollandse stiptheid.
Djam 5 sore kita diganti oleh laen Wacht dan kita poelang tangsi, sesoedah lapor pada opsir jang bersangkoetan, mereka jang tadinja kena dinas djaga boeleh poelang keroemah masing2, sesampe di roemah saja boeka sepatoe saja, sesoedah kaos ditjopot, ternjata kedoea kaki saja seperti melepoeh dan poetih mirip sama gorengan keroepoek teroeng jang kena aer. Habis rino lan wengi kerendem aer dan loempoer.
Sesoedah istirahat satoe hari, djam 5 sore kita haroes apel lagi ditangsi. Kalaoe tida ada kowadjiban lain, kita boleh poelang. Lain kalinja saja kena djaga di instalasi B.P.M, djoega di Kotalama, tida djaoeh dari instalasi Socony. Kali ini wacht dengen satoe brigade penoeh 12 orang 2 sersan.
Kolega saja ada seorang Belanda totok, bekerdja sebage pegawai di gemeente Malang. Kita bergantian tilik aploes dan pos pendjagaan, kali ini di 4 tempat, karena tempat jang di djaga poen ada lebih besar. Penggatian pos pendjagaan tentoe sadja setjara militer. Kalaoe soedah waktoenja saja berangkat, dengan bawa 4 serdadoe; sesampe di pos pertama serdadoe jang baroe di tinggalken di pos, jang lama ikoet. Tetapi pengoperan tjara militer bener2, pake saling presenter geweer, penoekaran wacht woord dan sebagenja.
Di B.P.M pos pertama ada dideket roeangan jang kita boelh pake; pos ke 2 dibagian tengah; pos ke 3 deket tembok belakang dari pabrik rokok Faroka dan jang ke 4 dipinggir pagar kawat jang hadepin sawah.