Seoea toelisannja Opa kwee soedah pindah ke sini http://tjamboek28.multiply.com/

Friday, September 23, 2005

TONARIGUMICHOH (III)

(III)
Ada djoega kadjadian ini. Di waktoe tengah malam, selagi enak2nja orang tidoer, mendadak pintoe roemah saja diketok dengen tjara jang loear biasa kerasnja. Ketika saja boekain ternyata tetamoe malem ini ada seorang Djepang golongan Sakoera (tida termasoek golongan militer aktif) dan jang saja kenal memang tinggal dibagian tengah dari wijk saja. Ia boeroe2 minta saja ikoet, sembari moeloetnja tida berentinja bilang “Potong kepara!”....potong kepara !.
Seperti jang pembatja tahoe, orang Djepang totok soekar boeat oetjapken letter “L”, jang diganti dengen letter “R”, sebaliknja orang Tionghoa totok soesah boeat bilang R jang selaloe diganti dengen letter L. Ada baiknja djoega bisa dengerin pertjakapan antara totok Djepang dan totok Tionghoa dalam bahasa Indonesia.
Ini Sakoera ada pegawai dari Kaigoen dan diwadjibken tjari serta koempoelken segala keperloean boeat angkatan laoet, seperti engsel, selot, koentji, martil dan sebagenja. Menoeroet penoetoerannja, pada soeatoe hari ada datang seorang Tionghoa, toekang tjatoet jang tawarkan si Sakoera pakoe bikinan Eropa; ia kasih oendjoek tjontohnja. Djoeal beli kamoedian ditoetoep. Dan 20 peti pakoe Eropa itoe diantar ke roemah di Rampal dan ditoempoek disalah satoe kamar. Oewang pembelianpoen soedah dibajar loenas. Tetapi ketika Kaigoen perloeken pakoe dan peti2 diboeka, ternjata kendati timbangannja betoel, semoea isinja pakoe2 bekas jang soedah karatan, bengkong2, mala banjak sisa semen jang masih melengket. Koerang adjar apa tidak ? si toekang tjatoet tjilaka tjoema pikirkan dirinja sendiri jang bisa ingoesin si Djepang dan dengen ketawa lebar kantongin doeitnja, hasil pendjoelan pakoe bekas sebage pakoe bikinan Eropa.
Si Sakoera minta saja boeat bantoe ia tjari si toekang tjatoet. Bagaimana saja bisa, sedeng pembelinja sendiri poen tjoema pernah bertemoe doea kali. Tetapi pertjoema berdebat dengen si Djepang jang dalem moerkanja djalan moendar-mandir teroes antjam hendak “potong kepara”. Saja nanti tjoba tjari itoe penipoe; begitoe saja kemoekakan. Ia aken saja bantoe si Djepang “potong kepara” si keparat.
----$$$----
Di masa pendoedoekan Djepang memang kita bisa alam-ken atawa saksiken hal2 jang tida bisa didoega lebi dahoeloe. Saja liwatin djalan tjelaket dan di depan djalanan jang menoejoe ke rumah sakit militer saja liat ada berkeroemoen banjak orang. Bermoela saja kira ada terdjadi satoe katjilakaan, tida tahoenja kalaoe orang2 itoe pada menonton seorang Indonesia jang bongkok-in toeboehnja dalem sekali, kedjoeroesan djalan besar, didekat gardoe pendjagaan laskar Djepang.
Dari keterangan2 jang bisa di koempoelken dari marika jang tahoe doedoek perkaranja hingga bikin itoe orang Indonesia melengkoengken toeboehnja kedepan, jalah sikorban tadinja liwat di gardoe pendjagaan, tetapi alpa boeat medjoera dalem di hedepin serdadoe jang lagi djaga, seperti jang memang dianggap sebage satoe koadjiban saban kali kita ketemoe pos pendjagaan begitoe.
Sebagai hoekoeman boeat kealpaan itoe, si korban dipaksa mendjoera dalam ke djoeroesan djalan besar. Dan kalaoe ada orang jang liwat serta manggoet pada serdadoe jang lagi djaga, ia ini tida balas itoe tjara menghormat hanja dengen ketawa ia toeding sadja pada korbannja jang dianggap soedah mawakili ia. Berapa lama itoe orang soedah disoeroh membongkok begitoe. O, sedikitnja soedah lebih dari.... tiga djam. Kalaoe badan lagi apes!.
Sesampenja di roemah saja djoega tjoba mendjoera begitoe, tjoema ingin tahoe otot mana dibagian belakang jang moelai dirasaken sakit. Belon sepoeloeh menit saja soedah tida tahan lagi. Dan orang itoe soedah membongkok soedah lebi delapan belas kali lebi lama. Sedikitnja !.
-----$$$-----
Di kotalama didekat djalan kereta-api, djoega ada pos djaga begitoe. Ditempatkan dalam satoe gardoe. Pada tjabang pohon didekatnja ada dipakoe sepotong kertas karton dengen toelisan, segala orang haroes beri hormat pada Dai Nipon. Jang naek sepeda haroes toeroen. Tetapi karena ketjilnja kertas pengoemoeman itoe, banjak orang tida perhatikan.
Ketika berada ditoko diseberangnja. Habis sambang pamilie saja jang ada dikota-lama, saja liat si serdadoe kaokin doea nona Belanda Indo jang tadinja liwat dengen bersepeda dan asik pasang omong. Jang dikaokin pada berenti dan baroelah mereka insaf soedah loepa mendjoera pada itoe serdadoe dari negara Matahari Terbit.
Sebagi hoekoeman sepedanja disenderkan ditembok gardoe sementara itoe doea nona haroes djepit masing2 poenja hidoeng. Kalao sampe berani lepaskan djepitannja, ia aken digampar. Dan begitoelah pertoendjoekan djepit hidoeng ini berlakoe boeat lamanja satoe djam. Saja tahoe betoel karena saja sengaja toenggoe dalem toko itoe sampai habisnja ini pertoendjoekan djepit hidoeng. Dan bila ada orang jang kebetoelan liwat dan berani ketawa, poen orang itoe digampar oleh si serdadoe. Di masa itoe penghidoepan seperti orang maen loedroekan sadja. Saja poenja neef, karena tida toeroen dari sepedanja hanja manggoet sadja dimestikan panggoel sepedanja sampe satoe djam lamanja. Dengan mata pandang ke djoeroesan matahari.

------$$$-----
Liwat pertengahan taon 1944 kombali pendoedoek Belanda dibikin gempar dengen tersiarnja kabar-an jang mereka aken di “kampong kawat” bila masoek golongan totok atawa setengah totok (bapa totok iboe kelahiran sini). Djoega tentoe sadja orang2 jang tinggal dalem wijk saja. “Kampong kawat” berarti mereka itoe akan ditempatkan dalem satoe wijk jang ditoendjoek dan wijk itoe aken dikelilingi dengen pagar kawat berdoeri. Tida diasingken tetapi djoega tida merdeka sepenoehnja.
Oentoek boektiken jang mereka ini boekan tergolong pada Belanda totok atawa separoh totok dan sedikitnja masih poenja tjampoeran darah dengen orang Indonesia, maka akal dikasi keloear. Ada jang bikit potret di batoe nisan dikoeboeran leloehoernja jang menboektikan mereka ini boekan totok. Ada djoega pamilie jang perlihatkan pada saja potret dimana bisa diliat seloeroeh pamilie jang berdiri keliling dibelakang korsi diatas mana ada doedoek seorang kakek jang oendjoekan roman heran dan terperandjat. Tetapi terang sekali ia boekan Belanda, biar jang godong(hitam) sekalipoen. Itoe kakek pake sepatoe, kaos, tjelana dan djas dril poetih, kendati oekoeranja ada rada longgar poen dasinja tida katinggalan.
Ketika saja tanja pada satoe njonja jang gambarnja djoega ternampak dipotret itoe, siapa adanja si kakek jang katanja ada mereka poenja “grootvater” ia dengen berbisik mendjawab “Onze tuinjongent” toekang kebon kita !. Pantas sadja adanja itoe kenakan pakean jang tida terdoega dan terkira sigrootvater toekang kebon keliatan heran dan terperandjat.

No comments: